Minggu, 17 Oktober 2010

The Chicago Boys

Pada 3 Nopember 1970, Chile membuat sejarah dalam gerakan kiri internasional. Untuk pertama kalinya, calon presiden dari partai sosialis menjadikan instrumen pemilu sebagai jalan merebut kekuasaan dan menang. Calon itu adalah Salvador Isabelino del Sagrado Corazón de Jesús Allende Gossens atau lebih dikenal dengan nama Salvador Allende. Ia diusung oleh sebuah koalisi bernama Unidad Popular (UP) atau Persatuan Rakyat. Koalisi ini terdiri dari Partai Sosialis, Partai Komunis, Partai Radikal, MAPU (Movimiento de Accion Popular Unitario), dan pembangkang dari Partai Kristen Demokrat.

Segera setelah berkuasa, pemerintahan Allende memberlakukan serangkaian kebijakan radikal dalam bidang ekonomi: nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, nasionalisasi perbankan, peningkatan upah buruh, alokasi anggaran yang besar pada sektor pendidikan dan kesehatan, program susu gratis bagi anak-anak, menolak pembayaran utang luar negeri, dan memberlakukan kebijakan land reform. Seluruh program ini diberi label “Chilean road to socialism.”



Dalam waktu singkat, seluruh kebijakan radikal ini telah menjadikan Allende sebagai musuh bersama bagi pemerintah Amerika Serikat, korporasi asing, para tuan tanah dan borjuasi domestik, gereja Katolik Roma, dan sebagian faksi dalam militer. Pemerintahan Richard Nixon di Washington, misalnya, memandang pemerintahan Allende sebagai ancaman terbesar bagi kepentingan ekonomi dan geopolitiknya di kawasan Amerika Latin. James Petras dan Morris Morley, mencatat, investasi swasta langsung perusahaan-perusahaan AS di Chile hingga tahun 1970 mencapai $1.1 miliar dari total perkiraan investasi asing sebesar $1.672 miliar. Lebih lanjut mereka mengatakan, korporasi AS dan asing lainnya mengontrol hampir seluruh sektor-sektor ekonomi vital dan paling dinamis Chile: mesin dan peralatan (50%); besi, baja, dan produk-produk metal (60%); industri dan kimia lainnya (60%); produk-produk karet (45%); perakitan otomotif (100%); radio dan televisi (100%); farmasi ( mendekati 100%); kantor perlengkapan (mendekati 100%); tembakau (100%); pabrik tembaga (100%); dan periklanan (90%). Satu-satunya pendapatan terbesar Chile dari perdagangan internasional yakni tembaga, 80 persen pengelolaannya dikontrol oleh korporasi AS.

Demikianlah, umur pemerintahan Allende ini telah bisa diduga. Apalagi, seperti ditulis Jonathan Haslam, pada dasarnya secara politik pemerintahan Allende adalah pemerintahan yang lemah. Dalam pemilu 1970, ia hanya meraih 36.2 persen suara, unggul tipis atas mantan presiden Jorge Alessandri (34.9%), dan atas Radomiro Tomic dari Partai Kristen Demokrat (27.8%). Maka, ujung dari cerita ini telah kita ketahui bersama: pada 11 September 1973, pemerintahan Salvador Allende dijatuhkan melalui kudeta militer paling berdarah sepanjang sejarah politik modern Chile.

Persekutuan Tidak Suci

Setelah kekuasaan berhasil dikonsolidasikan, rejim junta militer di bawah jenderal Augusto José Ramón Pinochet Ugarte atau Augusto Pinochet, segera memutarbalik gerbong kebijakan pemerintahan Allende. Pinochet mengembalikan seluruh perusahaan yang telah dinasionalisasi, mengundang investor asing dengan meliberalisasi sektor keuangan dan perdagangan. Di bidang politik, Pinochet memberangus kebebasan pers, membekukan seluruh aktivitas partai politik dan organisasi massa, terutama yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan Salvador Allende. Ia juga melancarkan pembunuhan politik besar-besaran, memenjarakan dan mengasingkan lawan-lawan politiknya.

Tetapi, jika secara politik Pinochet sukses, tidak demikian secara ekonomi. Ia gagal merestorasi kembali bangunan ekonomi kapitalis yang coba dihancurkan Allende. Sektor ini seperti “terra incognita” bagi angkatan laut yang diserahi tanggung jawab mengurusinya. Satu-satunya patokan adalah mengganti seluruh kebijakan ekonomi yang sebelumnya dilaksanakan oleh pemerintah Allende. Pada saat inilah, rejim junta menerima uluran tangan dari sekelompok ekonom jebolan universitas Chicago, AS, di bawah bimbingan profesor Milton Friedman dan Arnold Harberger dari Chicago School of Economics. Para ekonom yang terdiri dari 25 sampai 30 orang ini, kemudian terkenal dengan sebutan the Chicago Boys.

Sebelum kudeta berlangsung, sebenarnya telah terjadi kontak antara angkatan laut dengan kelompok ini. Menurut Michael Rösch, kontak pertama terjadi pada 1973 yang difasilitasi oleh koran “El Mercurio.” Pada akhir tahun 1973, kontak kian intensif terlebih ketika pejabat tinggi angkatan laut mengetahui bahwa kelompok ini turut dibiayai oleh CIA. Namun, setelah kudeta kontak antara kedua kelompok ini agak mengendur. Sebabnya, junta militer lebih mempercayai beberapa anggota Partai Kristen yang konservatif tapi, memiliki reputasi internasional yang tinggi. Mereka misalnya, Sergio Molina, mantan menteri keuangan d bawah presiden Eduardo Frei Montalva, atau Carlos Massad dan Raúl Sáez yang juga menduduki posisi penting dalam pemerintahan Frei.

Tetapi, kontak dengan elemen konservatif dari Partai Kristen ini tak berlanjut, lantaran sebagian besar pendukung Partai Kristen menolak kerjasama tersebut, karena secara politik dianggap tidak menguntungkan. Pada saat yang sama, kelompok Chicago Boys mengatakan, untuk mengubah secara radikal masyarakat dan mentalitas rakyat Chile, satu-satunya cara adalah melakukan perubahan mendasar dalam bidang ekonomi. Dan seperti dikatakan Rösch, sejak saat itu kontak antara rejim junta dengan kelompok the Chicago Boys ini semakin penting.

Dalam waktu singkat, kelompok ini menduduki jabatan-jabatan strategis dalam rejim militer pimpinan Pinochet. Sergio de Castro, dekan fakultas ekonomi Universitas Katolik Chile, yang dianggap sebagai pemimpin kelompok the Chicago Boys, diangkat sebagai menteri keuangan (1974-1982); Pablo Baraona menjadi menteri ekonomi (1976-1979); Álvaro Bardón menteri ekonomi (1982-1983); Hernán Büchi menteri ekonomi (1979-1980); dan selanjutnya menteri keuangan (1985-1989); Robert Kelly menteri ekonomi (1978-1979); Fernando Léniz menteri ekonomi (1973 - 1975); Emilio Sanfuentes sebagai penasehat ekonomi di Bank Sentral; Juan Villarzú menjabat sebagai direktur anggaran; dan Jorge Cauas sebagai menteri perumahan (1975).

Pada bulan Maret 1975, kelompok ini menggelar seminar ekonomi yang mendapat perhatian luas media nasional. Dalam seminar tersebut, mereka memaparkan proposal penyelamatan ekonomi Chile melalui program pengetatan radikal, yang disebut shock treatment atau terapi kejut. Dalam seminar itu juga, mereka mengundang Milton Friedman dan Arnold Harberger, sehingga tak aneh jika proposal pengetatan ekonomi ini memperoleh sambutan luar biasa. Dalam proposal tersebut dicantumkan serangkaian program seperti pengurangan drastis suplai uang dan pengeluaran pemerintah, privatisasi pelayanan-pelayanan pemerintah, deregulasi pasar besar-besaran, dan liberalisasi perdagangan internasional.

Segera setelah seminar tersebut, pemerintah Chile meluncurkan program pemulihan ekonomi (Economic Recovery Program/ERP). Fase pertama dari kebijakan terapi kejut ini adalah mereduksi suplai uang dan pembelanjaan pemerinta, yang diikuti dengan pemotongan inflasi hingga level yang bisa diterima. Namun demikian, kebijakan ini menyebabkan meningkatnya angka pengangguran dari 9.1 menjadi 18.71 persen antara 1974 dan 1975. Selain itu pula, seluruh program pemulihan ekonomi ini dilakukan ditengah-tengah tidak adanya demokrasi. Di sini peran Pinochet adalah mendukung dan merepresi seluruh tantangan yang menghambat kerja-kerja the Chicago Boys. Dengan demikian, buruh dan sektor rakyat miskin lainnya menerima program terapi kejut ini di bawah todongan senapan.

Pada pertengahan 1976, ekonomi Chile mulai membaik. Dan sejak 1978 hingga 1981, hasil dari program terapi kejut ini menggembirakan pemerintahan Pinochet dan dunia internasional. Friedman menyebut sukses ekonomi Chile sebagai the economic miracle, sementara IMF dan Bank Dunia menjadikan sukses Chile sebagai contoh yang pantas bagi negara berkembang lainnya. Investasi dan bantuan asing mengucur deras ke Chile, meningkat tiga kali lipat antara 1977 hingga 1981. Sekitar 507 perusahaan negara yang dibangun sebelum atau selama pemerintahan Allende, sukses diprivatisasi menjadi tersisa 27.

Tetapi, apa sebenarnya makna dibalik pertumbuhan ekonomi yang terintegrasi secara mendalam ke dalam sistem kapitalisme? Steve Kangas mencatat, sesungguhnya pertumbuhan ekonomi Chile bersifat artifisial atau fiktif alias tidak riil. Antara 1977 dan 1981, 80 persen pertumbuhan Chile terjadi di sektor ekonomi yang tidak produktif seperti pasar dan jasa keuangan. Sebagian besar praktek spekulasi ini telah melambungkan tingkat suku bunga hingga mencapai 51 persen pada 1977. Prestasi yang tertinggi di dunia saat itu. Di samping itu, integrasi mendalam Chile pada ekonomi internasional menyebabkan sedikit saja terjadi resesi, ekonomi Chile kontan bergejolak. Misalnya, ketika terjadi resesi pada 1982, Chile merupakan negara yang menderita paling parah ketimbang negara lain di kawasan Amerika Latin. Pada 1983, ekonomi Chile benar-benar anjlok, tingkat pengangguran melonjak mencapai 28 persen.

Untuk mengatasi gelombang krisis yang makin parah, IMF mengucurkan dananya. Syaratnya, Chile harus menjamin pembayaran seluruh utang-utangnya yang mencapai total $7.7 miliar. Total pembayaran utang ini menghabiskan biaya sebesar tiga persen dari GNP Chile setiap tahunnya selama tiga tahun. Yang menarik dicatat, ketika ekonomi mengalami booming, perusahaan-perusahaan yang diprivatisasi mereguk keuntungan luar biasa besar tapi, ketika ekonomi tengah krisis utang-utang perusahaan ini menjadi tanggung jawab pemerintah. Artinya, bukan keuntungan yang tersosialisasi melainkan utang.

Setelah kucuran dana IMF ini, ekonomi Chile kembali membaik pada 1984, pertumbuhan kembali tinggi mencapai 7.7 persen per tahun antara 1986 dan 1989. Tetapi, GDP perkapita pada 1986 tetap 6.1 persen, lebih rendah dari 1981. Kalau demikian, apa rekor dari keseluruhan pemerintahan rejim Pinochet ini? Mari kita dengar uraian Kangas: antara 1972 dan 1987, GNP per kapita jatuh pada level 6.4 persen. Dengan nilai dolar tetap pada 1993, GDP per kapita Chile pada 1973 mencapai angka di atas $3.600. Namun, pada masa pemulihan hingga 1993, GDP per kapita hanya berkisar $3.170. Pada akhir 1989, tingkat kemiskinan di Chile mencapai 41.2 persen, sepertiga dari mereka benar-benar dikategorikan sangat miskin. Pada 1970, konsumsi harian 40 persen kaum miskin mengandung 2.019 kalori. Pada 1981, jumlah kalori ini turun mencapai 1.751 dan pada 1990 kembali turun ke angka 1.629. Sementara itu, jumlah populasi yang tidak menempati rumah yang layak angkanya meningkat dari 27 menjadi 40 persen antara 1972 dan 1988.

Lalu, bagaimana dengan komposisi struktur sosial? Ketimpangan pendapatan di Chile merupakan yang terburuk di kawasan itu. Pada 1980, 10 persen penduduk kaya menikmati 36,5 persen pendapatan nasional. Pada 1989, meningkat menjadi 46,8 persen. Sebaliknya, 50 persen kelompok bawah pendapatan mereka jatuh dari 20.4 menjadi 16.8 persen dalam periode yang sama. Pendapatan tentu saja bukan satu-satunya ukuran ketimpangan. Produksi harus juga dilihat. Ketika the Chicago Boy meluncurkan program privatisasi, oligopoli terbentuk sangat cepat di hampir semua sektor. Sebagai contoh, di sektor industri kertas dan selulosa, jumlah industri yang bermain di sektor ini hanya ada dua sementara share industrinya mencapai 90,0 persen. Atau di sektor produk-produk hutan, jumlah industri yang berkiprah hanya lima dengan share industrinya sebesar 78,4 persen.

Demikianlah, cerita mengenai perseketuan tidak suci antara the Chicago Boys dan rejim militer ini, gagal mengantarkan Chile ke lapis atas negara makmur dan demokratis. Tetapi, walau fakta kerusakan ekonomi-politik-sosial-lingkungan sudah terang benderang, bukan berarti tak ada yang membela kelompok intelektual liberal ini. Ekonom-cum sosiolog penerima Nobel Garry Becker, menulis, kerusakan yang diderita Chile itu tak bisa semena-mena dituduhkan pada the Chicago Boys. Becker mengatakan, pasar bebas yang diusung oleh the Chicago Boys memang tak serta-merta bisa menyelesaikan masalah di Chile dan Amerika Latin lainnya. Apalagi, ide-ide merkantilis sering sekali menjadi duri penghalang bagi kelancaran kerja mekanisme pasar. Sementara, mengenai gagalnya demokrasi di Chile, Milton Friedman, guru dari the Chicago Boys itu, malah tak melihatnya sebagai sebuah soal. Ia bahkan memberi apresiasi mendalam terhadap Pinochet yang mau dan bersedia mendukung prinsip-prinsip pasar bebas. “Hasilnya luar biasa”, demikian Friedman, “inflasi turun secara drastis.”

Tapi, bagaimana dengan demokrasi? “Di Chile, dorongan bagi kebebasan politik adalah hasil dari kebebasan ekonomi, dan hasil dari sukses ekonomi ini pada akhirnya akan menghasilkan referendum yang merupakan awal bagi demokrasi politik. Sekarang, pada akhirnya, Chile akan memiliki tiga hal: kebebasan politik, kebebasan manusia, dan kebebasan ekonomi.”

Kita kemudian tahu, khotbah sang nabi neoliberal ini tak terbukti. Kebebasan politik dan demokrasi di Chile bukan hasil dari kebebasan ekonomi tapi, hasil dari perjuangan panjang gerakan progresif.***

Kepustakaan:

James Petras and Morris Morley, “The United States and Chile: Imperialism and the Overthrow of the Allende Government” Monthly Review Press, 1975.

Jonathan Haslam, “The Nixon Administration and the Death of Allende’s Chile,” Verso, London, 2005.

Michael Rösch “The meaning of technocratic elites in Chile,” http://tiss.zdv.uni-tuebingen.de/webroot/sp/barrios/themeC1f.html

Steve Kangas, “The Chicago Boys and the Chilean ‘economic miracle,” tanpa tahun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar