Selasa, 19 Januari 2010

bagai melepas kulitmu

Kuikuti langkah angin nan gagap patah-patah Waktupun berjalan meranggas cemas di ujung retina Kini aku bicara dalam diam …… dalam hati nan merintih pedih, dari rohku nan memanggil rohmu hingga aku kehilangan roh telusuri hatimu, jiwamu…….. yang tergores luka olehku Bisik hati memanggil kembali yang telah tertinggal Akupun duduk berduka……. Pahami lukamu, memar merona Lukapun ada di dasar hatiku terdalam……. Aku yang kini kembali berada di dasar palung duka terdalam Kau yang kini berada di dasar luka yang tak sengaja kutoreh Berapa banyakkah waktu yang kan kita buang sia-sia Hingga lukamu membasuh duka Bilakah luka bisa kubalut dengan kemurnian cinta dan kasihku padamu,,,,,,,, Kuyakini luka itu tak kan berurat berakar Jika cinta dan sayang yang ada diantara kita begitu kuat mematri jiwa. namun, bila ruangmu tlah terisi yang lain. hingga aku tergeser bahakan tersungkur. Lukamu itu hanyalah cadar yang kau cipta sendiri. Aku kini tak bias bergeming lagi Aku kan tetap ada di sini…….. Tanpa batas waktu. Merawat cinta dan kasih sayang yang pernah kau titip dihatiku. Maafkan jika aku tak bias menghapus rasa ini. Cinta sejati itu menyembuhkan, Tidak menyakitkan. Kecintaan pada sesuatu itu adalah syahwat Tidak ada yang bias mengusir syahwat Atau kecintaan pada keindahan duniawi
Melepasmu Sebaiknya ku lepas kulit bawang satu persatu lalu mengiris-ngiris sepotong-potong air mata meleleh, tangan bebekas noda aku puas selesaikan satu bagian rasa meski pisau tak jadi mengoyak hati Baiknya kucabut duri di tangan setelah kagumi mawar yang tak pantas kupegang pedih. tangan terluka tapi cukup buatmu mengucur di hampar genggamku dan patah ku pamit dari hatimu seperti pengembara tak tahu diri. begitu mudah ku lepas pelukan hingga tangan tak mau nadahkan kasihan. pergi tanpa beban pedih dan bibirmu adalah rasa rindu yang tak sempat tercium

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar