Selasa, 15 September 2015

Ketika Masjid Semakin Mirip dengan Stadion

Ketika Masjid Semakin Mirip dengan Stadion

Ketika Masjid Semakin Mirip dengan Stadion

Gresik punya kultur kuat perihal menjalankan perintah agama. Begitu pula dengan kegairahan sepak bolanya. Tapi, belakangan keduanya mulai ditinggalkan.

Tulisan ini ingin membahas fungsi dari Masjid yang jelas berbeda jauh dengan stadion. Masjid yang fungsi utamanya untuk ibadah, maka stadion fungsi utamanya adalah untuk jihad membela klub idola.
Saya besar di Gresik yang dikenal sebagai kota santri. Pemilik waliyullah terbanyak dalam susunan wali songo. Ada dua dari sembilan wali yang meng-islam-kan tanah Jawa. Jangan ditanya tingkat kereligiusan warga Gresik. Orang Gresik asli itu setiap malam Jumat pasti ziarah ke makam Sunan Giri dan Malik Ibrahim. Jumatnya, nyekar ke makam leluhur. Kurang religius opo coba, cak?
Bahkan, di Gresik kalau kalian mau keluar naik sepeda motor bisa tidak pakai helm. Asalkan pakai bajo koko dan pakai peci. Beres urusan. Meskipun bukan contoh yang baik tentunya.
Dulu, masalah sholat di masjid atau mushola, bisa jadi hal rutin. Bahkan di tempat saya tinggal, di rumah mbah kakung –kakek—, untuk urusan adzan dan iqomah pun kita yang anak kecil berebutan. Meskipun yang jadi imam orang yang sama, kyai setempat.
Selain soal kepatuhan menjalankan agama, kami orang Gresik juga akrab dengan sepak bola. Dulu, stadion di Gresik selalu ramai. Sepuluh hingga dua puluh ribu orang berbaju kuning menyengat berkumpul jadi satu di stadion. Bahkan mereka berebut untuk dapat shof terbagus guna mendapatkan angle menonton terbaik. Ada juga yang milih mojok untuk dapat tempat yang rindang. Wajar, suhu di Gresik cukup panas.
Tak jarang pula ada yang membawa bendera berukuran kecil, syal warna kuning maupun yang memakai topi warna kuning. Semua serba kuning. Coba dihitung berapa jumlah uang yang mereka keluarkan untuk berdandan seperti itu. Tiket masuk ketika itu masih delapan ribu rupiah. Zaman ketika Jaenal Ichwan masih main sebagai striker –karena setelah pindah, ia main jadi bek kanan.
Lihat usaha dan perjuangan mereka untuk datang ke stadion. Saya sendiri milih untuk jalan kaki bareng teman se-kampung. Jalan kaki sampai ke embong gede. Lalu cari truk atau mobil pick up buat nebeng ke stadion. Dan para pemilik pick up pun sukarela memberikan tumpangannya untuk kita semua.
Ditinjau dari dua gambaran tersebut, tampak bahwa masjid memiliki kemiripan dengan stadion. Coba, kegiatan apa yang bisa mengumpulkan puluhan ribu dalam satu waktu yang sebulan bisa sampai empat kali? Acara Jokowi di stadion GBK tahun lalu apabila dilakukan setiap minggu sepertinya tidak mungkin puluhan ribu orang datang. Parade Tauhid yang katanya dihadiri banyak orang kalau diadakan sebulan empat kali sepertinya juga tak bisa konsisten sebanyak itu.
Tapi stadion dan masjid bisa. Setidaknya di Gresik bisa seperti itu.
Setelah saya mulai kuliah, saya mulai merasakan perbedaan. Religius-nya Gresik mulai menghilang. Apalagi tentang sholat di masjid atau mushola. Mereka lebih memilih sholat di rumah. Atau lebih memilih menunda waktu sholatnya demi urusan yang lain yang mungkin tak terlalu penting seperti bermain clash of clan.
Sementara saat bulan puasa, fenomena seperti itu makin kentara. Pada mulanya masjid dipenuhi orang tarawih. Memasuki pertengahan dan akhir bulan keramaian berpindah ke pusat perbelanjaan. Masjid mulai ditinggalkan –setidaknya dalam pengalaman pribadi penulis.
Pun dengan sepak bola. Stadion di Gresik semakin sepi. Selain karena prestasi sepak bola Gresik sedang buruk-buruknya, juga karena mereka lebih memilih nonton di rumah sembari menikmati camilan. Lha ya lebih enak di rumah, tidak perlu uyel-uyelan dan gratis.
Namun, bukankah sejatinya esensi sepak bola adalah permainan yang dilakukan di lapangan terbuka? Berlokasi di stadion bukan di dalam layar kaca. Tentu beda kasusnya dengan mereka yang berada di perantauan atau punya kepentingan penting lainnya.
Kalau kalian masih ada di kota yang sama, ya mbok berkorban sedikit. Dulu ketika masih SMP, saya dan teman-teman bahkan rela tiga hari menjelang Gresik United –Petrokimia Gresik— bertanding rela tidak jajan apa pun di kantin. Bahkan saat SMA saya ikut berjualan tiket Gresik United demi menyaksikan sang tim kebanggaan berlaga langsung di stadion.
Stadion dan masjid yang dulunya ramainya selalu sama, ketika ada pertandingan dan ketika hari-hari tertentu, saat ini pun sama. Sama-sama sepi. Jama’ah nya sama-sama lebih milih di rumah yang menjanjikan kenyamanan lebih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar