Selasa, 15 September 2015

Logika Kecepatan Einstein dan Naluri Pembunuh Inzaghi

Logika Kecepatan Einstein dan Naluri Pembunuh Inzaghi

Logika Kecepatan Einstein dan Naluri Pembunuh Inzaghi

Dengan logika normal, pemain dengan kualitas fisik dan teknik seperti Filippo Inzaghi tidak akan mampu menjadi penyerang papan atas. Namun, kenyataannya tidak demikian. Lantas benarkah anggapan yang menyebut Pippo adalah penyerang yang selalu beruntung?

Saat Filippo Inzaghi masih aktif bermain, cobalah jujur pada diri sendiri, apakah Anda pernah punya penilaian yang sama dengan seorang Johan Cruyff mengenai mantan pemain Juventus dan AC Milan ini?
“Lihatlah Inzaghi, dia benar-benar tidak bisa bermain sepak bola sama sekali. Dia hanya selalu berada di posisi yang tepat,” kata legenda timnas Belanda tersebut.
Bagaimana? Pernah berpikir hal yang sama?
Jangan khawatir, kalau pernah, berarti Anda adalah orang yang “normal”. Sangat sedikit memang penggemar sepak bola bisa mengagumi permainan seorang Inzaghi—sekalipun ia pernah mencatatkan diri sebagai striker tersubur Eropa dengan 70 gol—sebelum kemudian disamai Raul Gonzales saat memperkuat Schalke 04.
Lah, bagaimana bisa kagum? Pemain yang lahir dan besar di Kota Piacenza ini bukanlah seorang pemain yang bisa mudah dikagumi hanya karena catatan golnya yang fantastis. Ia tidak bisa gocek satu atau dua pemain lawan seperti Cristiano Ronaldo, tidak bisa elastico ala Ronaldinho, tidak pernah jadi eksekutor free kick macam David Beckham, dan tidak punya keeping ball yang ciamik layaknya Dennis Bergkamp.
“Saya ingat pertama kali Pippo (panggilan Inzaghi) dipanggil untuk tim nasional (timnas) Italia,” jurnalis kenamaan asal Inggris yang pernah jadi presenter Football Italia, James Richardson, buka suara, “dalam latihan, kami semua (jurnalis) berdiri tertegun karena tekniknya adalah yang terburuk yang pernah kami lihat.”
Inzaghi memang seperti gambaran Richardson. Berlari-lari tidak jelas di kotak penalti lawan, kena kentut dari bek lawan saja bakalan jatuh, suka mewek-mewek jika terjatuh, terutama ketika wasit tidak meniup peluit untuk memberikannya penalti. Namun anehnya, di beberapa situasi krusial, tiba-tiba saja Inzaghi bisa mencetak gol – yang seringkali prosesnya buruk – dan ia akan melakukan selebrasi dengan begitu emosional seolah baru saja mencetak gol tendangan salto dari jarak 30 meter!
Ya, pemain ini memang seringkali jadi momok yang menyebalkan bagi setiap lawan. Hal itu pernah diungkapkan langsung oleh Roberto Carlos, “Setiap Milan berada dalam kesulitan, tampaknya mereka mendapatkan jalan keluar darinya (Inzaghi).”
Banyak pendapat memang yang mengatakan bahwa Inzaghi memiliki anugerah khusus sebagai seorang striker. Daya penciumannya sangat peka terhadap setiap peluang. Hal yang diakui sendiri oleh empunya, “Saya pikir rahasia saya mencetak gol adalah kemampuan saya untuk berada di tempat dan waktu yang tepat. Dan kelihaian saya untuk menghindari perangkap offside.”
Namun benarkah hanya itu saja? Benarkah hanya dengan mengandalkan sesuatu yang tidak terjelaskan semacam “insting seorang striker” dan kelihaian menghindari perangkap offside saja, seorang pemain yang sudah merasakan gelar Serie A, Liga Champions, dan bahkan Piala Dunia ini bisa begitu hebat mencatatkan berbagai rekor gol di kompetisi sekelas Serie A Italia dan Liga Champions semasa masih aktif sebagai pemain?
Soal Kecepatan dan Percepatan dalam Sepak Bola
Boleh saja Anda mengenyitkan dahi ketika membaca judul di atas. Bicara soal kecepatan dalam sepak bola, kenapa pula harus Inzaghi yang jadi contoh? Ada lebih banyak contoh yang lebih pantas di luar sana, sebut saja Gareth Bale atau “si alien” Lionel Messi. Toh, membandingkan kecepatan mereka berdua dengan Inzaghi rasanya bak langit dengan bumi.
Tentu benar kalau kita menggunakan contoh bagaimana seorang Bale pernah dengan luar biasa melakukan overtaking ketika melewati bek Barcelona, Marc Bartra, pada final Copa Del Rey 2014 sebelum mencetak gol penentu Real Madrid ke gawang Jose Manuel Pinto. Hal yang membuat gol tersebut selalu dikenang adalah karena Bale sempat berlari ke sisi luar lapangan dan masuk lagi – ya, benar-benar proses yang begitu menghibur.
Secara awam memang kita akan cenderung menilai bahwa apa yang dilakukan Bale menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemain yang benar-benar memiliki kecepatan super. Hmm, pandangan yang tidak salah. Namun, jika kita sedikit lebih jeli, apa yang dilakukan seorang pemain termahal dunia ini wajar saja jika kita menggunakan kacamata yang berbeda.
Orang boleh saja membantah. Apalagi dengan pertimbangan bahwa jarak yang ditempuh Bale lebih jauh daripada yang harus ditempuh Batra. Bukankah dengan begitu Bale memerlukan lebih banyak langkah daripada Batra? Jadi bukankah itu membuktikan bahwa kecepatan Bale begitu luar biasa?
Ya, memang betul jika kita berpatokan pada jarak dan langkah. Tapi jika kita berpatokan pada “kecepatan” dan “percepatan”, maka apa yang dilakukan Bale hanyalah kemampuan untuk menyeimbangkan pergerakannya ke kecepatan konstan. Kondisi di mana pemain timnas Wales tersebut sedang memaksa Batra melakukan dua kali percepatan dan membuat bek lulusan akademi La Masia Barcelona itu berlari seperti seseorang yang baru saja ketinggalan kereta.
Sedikit rumit? Baiklah, untuk menjelaskan hal tersebut, kita perlu sama-sama kembali ke ilmu fisika sederhana. Kita tahu semua, bahwa kecepatan merupakan “pergerakan konstan” sebuah benda dari satu titik ke titik lain. Artinya, sebuah benda bergerak dengan kecepatan yang sama dan konsisten dari awal hingga akhir.
Fisikawan legendaris, Albert Einstein menyebut – salah satu dari konsep di teori relativitasnya – bahwa benda yang memiliki kecepatan konstan, sejatinya merupakan benda yang relatif diam. Hal ini merujuk pada tulisan Einstein yang tersohor dengan judul asli Zur Elektrodynamik bewegter Körper terbitan tahun 1905.
Aneh memang, namun masuk akal. Bagi Einstein, benda yang bergerak bukanlah benda yang memiliki kecepatan, tapi benda yang mengalami percepatan, atau kita lebih sering familiar dengan kata ini; akselerasi.
Dari logika tersebut, kondisi bergerak adalah ketika sebuah benda mengalami peningkatan atau penurunan kecepatan. Bukan pergerakan dari satu titik ke titik lain, melainkan pergerakan dari satu kecepatan ke kecepatan yang berbeda. Dan perlu diingat, percepatan bukan hanya soal dari kondisi diam ke kondisi bergerak, tapi juga dari posisi bergerak ke posisi diam.
Nah, artinya kemudian, bukan malah Bale yang sedang “bergerak” dalam momen tersebut, tapi justru Bartra. Oke, Bale memang mengalami percepatan, tapi pergerakan kecepatan Bale tidaklah seekstrem yang dialami oleh Batra. Disebut “ekstrem” karena perubahan kecepatan yang dialami Bartra benar-benar drastis.
Bartra sedikitnya harus mengalami dua kali percepatan ekstrem dalam situasi tersebut. Pertama, kala Bartra datang dari kondisi berlari di sisi kanan pertahanan Barcelona untuk kemudian menurunkan kecepatan karena hendak menghadang Bale. Kedua, ketika ia harus berbalik badan dan mencoba mengejar Bale sekuat tenaga.
Pada momen inilah, Bartra mengalami kerugian timing karena melakukan dua kali percepatan ekstrem. Di saat Batra mendorong sedikit Bale agar menjauh – sampai ke luar lapangan, sejatinya Bartra telah melakukan kesalahan. Yakni, bukannya memperlambat kecepatan Bale, Batra justru “mempersilakan” Bale tetap menjaga kecepatan konstannya.
Kita pun tahu bagaimana akhirnya. Mau secepat apapun akselerasi Bartra mengejar Bale, ia tidak akan bisa mengejar sekalipun ia seorang Usain Bolt. Sebab, Bale sudah dalam kondisi top speed, sedangkan Batra harus memulai lagi dari titik terendah kecepatannya—yang tentu masih butuh waktu untuk bisa mencapai kondisi top speed.
Dari pembahasan itulah, menjadi wajar kiranya, jika kita sering mendengar bagaimana pelatih di seluruh belahan dunia hampir selalu meminta pemain-pemainnya untuk selalu bergerak secara dinamis.
Sebab, dengan sering bergerak – selain soal menciptakan ruang – kecepatan yang konsisten sekaligus percepatan yang minim, membuat seorang pemain akan mendapatkan keuntungan karena bakal mampu bereaksi lebih cepat dari lawannya. Apalagi jika si lawan lebih sering berada dalam posisi diam.
Contoh lain dari penjelasan logika tersebut bisa kita ambil dari aksi solo run seorang Lionel Messi kala mengacak-acak pertahanan Real Madrid di ajang el classico semifinal leg pertama Liga Champions musim 2010/2011 di Santiago Bernabeu. Dalam momen tersebut, Messi mempecundangi sedikitnya empat pemain Madrid: Sergio Ramos, Lassana Diarra, Raul Albiol, dan Marcelo.
Di balik fenomenalnya gocekan Messi, sejatinya ada satu pemain lagi yang patut mendapatkan kredit poin dari salah satu gol terbaik Liga Champions ini dan sering dilupakan dalam momen fantastis tersebut: Sergio Busquets. Mengapa?
Begini. Ketika pada menit ke-87 Busquets menerima umpan dari Messi, Lassana Diarra menjadi satu-satunya pemain Madrid yang melakukan pergerakan dengan menempel ketat kapten Argentina tersebut. Saat itu, agaknya Messi belum melakukan sesuatu yang cukup membahayakan pertahanan Madrid. Wajar saja, bola masih di tengah lapangan.
Namun, situasi jadi berbeda ketika Busquets yang menerima umpan dari Messi dan tiba-tiba saja berhenti bergerak. Kondisi itulah yang kemudian memancing kuartet bek Madrid ikut berhenti bergerak pula. Di momen itulah, di saat semua pemain Madrid berhenti bergerak, Messi yang sudah mendapatkan kecepatan top speed dari belakang segera “menyerobot” bola yang ada di kaki Busquets.
Lalu apa yang terjadi? Pemain-pemain bertahan kelas dunia milik klub selevel Real Madrid pun kocar-kacir mengejar “Si Kutu” yang merengsek masuk. Messi seolah hanya berlari dan berlari tanpa ada satupun pemain Madrid yang mampu menutup ruang atau mengejarnya. Hingga akhirnya, dengan tendangan yang kurang bertenaga saja, Messi berhasil menceploskan bola ke gawang Iker Casillas.
Kondisi yang dialami para bek Madrid tersebut sejatinya adalah kondisi yang juga dialami Marc Bartra ketika menghadapi seorang Gareth Bale. Posisi diam tak bergerak membuat mereka kesulitan untuk beranjak ke kecepatan puncak saat mereka harus mengejar objek (baca: Messi dan Bale) yang sudah bergerak dengan kecepatan tinggi jauh sebelum menghampiri mereka.
Situasi inilah pula yang sering dialami para bek-bek yang menghadapi seorang Filippo Inzaghi. Bukan bermaksud membandingkan kecepatan antara Inzaghi dengan Bale dan Messi (karena tentu bakal konyol), namun saya hanya ingin menegaskan bahwa “kecepatan” Inzaghi bukanlah pada secepat apa larinya, melainkan soal sesering apa dia berlari.
Inzaghi memang jarang terlihat membantu pertahanan, namun ketika dalam proses penyerangan timnya, sahabat karib Christian Vieri ini selalu bergerak “tidak jelas” ke sana-sini. Banyak yang menilai bahwa apa yang dilakukan Inzaghi adalah soal membuka ruang – ya, memang betul – namun keuntungan dari wara-wiri-nya tidak cuma itu.
Inzaghi bergerak ke sana kemari untuk menjaga kecepatan konstannya. Meski kecepatannya tidak seberapa, namun hal ini membuatnya selalu mampu bereaksi “seolah-olah” lebih cepat dari para bek. Sebab, para pemain bertahan lebih sering beranjak dari posisi diam daripada Inzaghi yang sudah melakukan pergerakan jauh sebelum bola berada pada momen dan timing yang pas untuk ia eksekusi.
Dan itulah alasan mengapa koleksi gol Inzaghi sedikit banyak adalah hasil dari bola muntah atau bola-bola deflected yang bagi orang awam akan menilainya sebagai gol keberuntungan. Atau jika ingin memuji gol-gol aneh semacam itu, para analis akan menyebutnya sebatas “naluri sejati seorang striker” – yang sebenarnya tidak menjelaskan mengenai apapun.
Padahal, kalau dengan logika percepatan dan kecepatan ala Einstein, kita harusnya menyadari, betapa hebatnya kesadaran kecepatan dan percepatan seorang Inzaghi, sampai-sampai menutup seluruh anggapan mengenai keterbatasan skill-nya dan menjelma jadi salah satu striker top Eropa.
Itulah mengapa seorang Carlo Ancelotti tetap memercayakan lini depan AC Milan yang kala itu pernah dibesutnya kepada Inzaghi selama bertahun-tahun. “Tidak ada tim hebat tanpa seorang striker berjenis pembunuh,” kata Don Carletto merujuk pada sosok Inzaghi.
Ancelotti bukan asal bicara. Secara statistik, Inzaghi memang berada di jajaran elit penyerang top Eropa. Menurut data dari Opta, ia termasuk jenis striker yang minim membuang peluang. Pippo menjaringkan 63% gol dari total kesempatan yang didapat sepanjang karirnya. Statistik yang bahkan membuat pemain sekelas Raul, Ruud van Nistelrooy, dan Roy Makaay harus gigit jari karena berada di bawah Inzaghi.
Dan dengan kemampuan “sebatas itu” juga, catatan gol Inzaghi nyatanya lebih baik daripada seorang legenda yang pernah mencibirnya tidak bisa bermain bola sama sekali. ∎

http://fandom.id/analisis/taktik/2015/05/logika-kecepatan-einstein-dan-naluri-pembunuh-inzaghi/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar