Sabtu, 24 April 2010

TERIMA KASIH (buat bintang yang pernah mengisi malam-malamku)

Saat ini,
sebelum mentari tersenyum di timur
sebelum embun menghapus kelam
aku ingin berbisik pada bintang:

: Terima kasih, bintang
`tuk menemaniku malam ini
dan malam-malamku sebelumnya
Memang sih…kau jauh di sana
namun binarmu mampu mengusik sepiku
setidaknya…
aku tak pernah merasa sendiri
walau nyata sekali
kalau aku cuma punya sepi dan mimpi.

: Terima kasih, bintang
Kembali aku berbisik.
Saat ini, sebelum aku melangkah
aku ingin memandangmu, sekali lagi
Mengenang senyummu, atau celoteh yang
pernah kau titipkan lewat angin
Ya…cuma lewat angin
Karena kau sungguh jauh di sana.

: Memang sih…sesekali kau berkedip
namun sejujurnya
itu tak cukup menghalau laraku
apalagi saat ini aku lagi bertarung dengan nasib
dan bergumul dengan luka.
Ah…mana kau mengerti
Karena kau jauh di sana
Di bentangan cakrawala nan kelam
Sibuk berbagi binar pada makhluk-makhluk malam.

: Selamat malam, bintang
Demikian aku selalu menyapamu dan kau tersenyum
Tahukah kau, bisikku lagi
aku bahagia. Itu cukup bagiku

Terkadang aku menitipkan rindu pada angin
Ya…lagi-lagi pada angin
Dan lagi-lagi
aku merasa cukup
setidaknya kau ada dalam mimpiku,
begitu selalu aku berkata pada hatiku

Tapi,
Saat mendung mengabut di mataku
atau terkadang guntur membuatku gemetar
aku mencarimu. Dan
tak kutemukan dirimu
karena kau jauh di sana
tak terjangkau angan

Hingga aku pun mengerti
kalau kau memang hanya bintang
yang mampu bersinar namun tak memberi hangat
yang mampu berbagi binar cuma dari kejauhan.
Ya…kau cuma bintang
yang pernah mengusir sunyiku,
toh sebentar lagi malam berganti pagi
dan kau pun `kan pergi
aku pun harus melangkah
menjejal pagi dengan asa
tanpamu
ya…tanpamu
karena kau cuma bintang
dan aku mengerti
saat aku benar-benar jatuh
kau tak pernah ada
karena kau jauh, jauh sekali…

tapi sebelum pagi benar-benar hadir
aku mau menyapamu
dan katakan sekali lagi
: terima kasih, bintang…


HATI

hari ini,
aku lupa menaruh hatiku di mana
hingga ketika tangan-tangan dekil itu
terulur meminta kasih
aku sama sekali tidak mengerti.

RINDU

Ternyata,
temaramnya lampu pijar lima watt
tak cukup mengaburkan bayangmu dari benakku.
sialan!!!

TENTANGMU (SAHABATKU)

Kalau boleh aku meminta
aku ingin memetik bintang
lalu kusematkan di biji matamu
biar mata itu kembali bersinar
dan menyinari malam-malamku.

Kalau boleh aku meminta
aku ingin mengambil bulan
agar aku bisa menghapus
air mata yang kau simpan
di kelamnya hatimu.

PENJAGA HATI

Begini saja,
malam ini kita buat kesepakatan
aku serahkan hatiku padamu. cuma-cuma
asal kau berjanji mau menjaganya
di hatimu.
setuju?

SURAT

Cinta adalah
bintang yang menghias matamu
Indah
jauh tak tergapai.
Cinta adalah
kisah penantianku dalam diam
‘tika rasa takutku mulai berkata:
“aku sayang kamu”
Cinta adalah
rindu yang menyesak di dada
Perih
‘tika kau lupa menghadiahkanku
sebentuk senyum. Tulus
Hari ini…

Bila Ku masih Punya Waktu

Bila ku masih punya waktu
aku ingin menikmati pekatnya malam
mengagumi kedipan bintang-bintang
sembari tertawa mendengar celoteh bulan.
Bila ku masih punya waktu
aku ingin mengembara di padang ilalang
di antara jeroan-jeroan kering
dan desah risau burung-burung liar.
bila ku masih punya waktu
aku ingin menjemput bianglala di ujung langit
menantang terik mentari yang menyengat
dan merasakan tiap helai bau napasmu.
bila ku masih punya waktu
aku ingin terus menulis
hingga waktu menutup ceritaku.

TENTANG SATU CINTA

Siapakah yang mengajarmu, sayang?
`tuk mendekapku dalam hangatmu
hingga seluruh takutku lenyap
saat kegelapan memagut malam.
Siapakah yang memberitahumu, sayang?
`tuk mengerti resah hatiku
saat dunia membuatku kecewa
kau belai lembut hingga aku terlelap
Siapakah yang mengatakan padamu, sayang?
`tuk menyebut namaku dalam doamu
bahkan kau rela memetik bulan
demi mimpi-mimpiku.
Kau katakan betapa aku berarti bagimu
melebihi permata terindah di dunia ini,
bahkan kau menangis
saat takdir memaksaku pergi. Jauh
Siapakah yang menyuruhmu, sayang?
`tuk berbuat demikian,
aku kembali bertanya-tanya
dan kau pun hanya tersenyum. Manis
matamu berbinar berlimpah kasih
saat aku kembali dari persaingan hidup
sembari memanggilku:
”anakku sayang…“

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar