Rabu, 03 November 2010

Tak Harus Cantik dan Mapan





Evolutionary psychology adalah cabang psikologi yang mempelajari evolusi perilaku manusia dengan menggunakan proses seleksi alam. Cabang psikologi yang dipelopori Leda Cosmides dan John Tooby ini juga mencoba memahami perbedaan perilaku laki-laki dan perempuan, dengan mengacu kepada proses seleksi alam itu. Misalnya dalam hal pemilihan pasangan, laki-laki memilih perempuan berdasarkan penampilan fisik sedangkan perempuan memilih laki-laki berdasarkan status kemapanan. Menurut Cosmides dan Tooby, hal ini semata-mata dikarenakan manusia berupaya untuk mempertahankan spesiesnya agar tidak terseleksi oleh alam. Untuk itu, manusia akan terus berusaha untuk menghasilkan keturunan.

Oleh karena itu perempuan yang dipilih laki-laki adalah yang diprediksikan dapat memberinya keturunan. Karena perempuan tidak lagi dapat melahirkan jika sudah mencapai menopause, maka perempuan berusia muda akan cenderung dipilih laki-laki. Sementara itu rambut panjang, kulit putih, bentuk tubuh yang ‘indah’, dianggap lebih representatif untuk menggambarkan perempuan yang subur dan memiliki kapasitas reproduktif. Meskipun aspek-aspek ini juga dipengaruhi oleh masalah budaya. Kita tentu ingat bahwa dulu kulit kuning langsat menjadi tren di negara ini sebelum akhirnya digantikan oleh kulit putih. Atau bentuk tubuh yang ‘montok’ dulunya lebih dipandang menggambarkan kesuburan, namun saat ini tubuh langsing lebih dianggap ‘feminin’.

Sementara itu, perempuan memilih laki-laki berdasarkan status kemapanan. Hal ini dikarenakan dalam proses evolusi, perempuan melahirkan dan menjaga anak di dalam gua. Kebutuhan makanan perempuan dipenuhi oleh laki-laki yang bertugas berburu dan mengumpulkan makanan. Oleh karena itu Cosmides dan Tooby meyakini bahwa perempuan lebih mencari laki-laki yang mapan.

Tentu saja evolutionary psychology banyak dikritik. Evolutionary psychology sepertinya lebih mencari penjelasan untuk fenomena yang terjadi saat ini. Jika kondisi masyarakat saat ini terbalik, tentu penjelasan mereka di atas tidak lagi masuk akal. Selain itu, evolutionary psychology seolah-olah melanggengkan budaya patriarki saja. Perempuan-perempuan harus tampil muda dan menarik untuk dapat dilirik, sedangkan laki-laki harus berusaha mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk dapat dipilih. Padahal dalam kenyataannya, penjelasan Cosmides dan Tooby juga tidak berlaku general. Relasi manusia tidak sesederhana itu, yang hanya terbangun atas unsur fisik dan harta semata. Lagipula akan sangat gawat sekali jika hanya laki-laki kaya dan perempuan cantik yang mendapatkan pasangan. -esterlianawati-


Hasil obrolan bersama seorang teman perempuan yang sangat mengerti cinta, yang sudah meminjamkan kupingnya dan mengorek isi otaknya, teman perempuan yang paham benar bagaimana memperlakukan rasa cinta. Senang rasanya ngobrol bersamanya, apalagi kalo selalu menjadi tulisan seperti ini, pencerahan, bukan pembelaan….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar