Kamis, 09 April 2015

Budaya Yang Tumbuh Dari Tribun

~ Budaya Yang Tumbuh Dari Tribun ~
Follow ~> @Aris_PU48
Sepakbola tak hanya hidup 90 menit saja, tetapi dia bisa merasuki kehidupan penggemarnya diluar waktu tersebut. Selalu ada bahasan setelah dan sebelum pertandingan. Dalam seminggu, beberapa media cetak dan elektronik dapat menyajikan artikel-artikel dan berita seputar sepakbola mulai dari pertandingan hingga kejadian diluar pertandingan yang masih bersangkut-paut dengan sepakbola. Obrolan di bar-bar yang menyediakan minuman keras hingga warung kopi pinggir jalan terjadi dari beberapa pengunjung yang menyukai sepakbola. Lebih dari itu, sepakbola menjadi parts of life bagi orang-orang yang sangat mencintainya. Olah raga yang secara modern lahir di Inggris tersebut menjadi populer dan telah membudaya, diwariskan dari generasi ke generasi, bahkan budaya-budaya atau kultur baru yang berkaitan dengannya pun bermunculan. Mulai dari atas lapangan hingga di tribun penonton.
Kebiasaan pemain saat memasuki lapangan maupun di dalam lapangan pun bertransformasi menjadi budaya tersendiri, seperti misalnya perayaan gol yang dipopulerkan Roger Milla pada awal 90an, mencabut rumput lalu menciumnya saat akan memasuki lapangan, dan kebiasaan lainnya yang tak hanya dilakukan seorang pemain saja namun sudah menular dilakukan banyak pemain. Sementara dari sisi suporter tercipta berbagai kebiasaan bagaimana cara mendukung, bagaimana cara merayakan kemenangan, bagaimana cara berpakaian, yang kesemuanya itu, beberapa telah mendunia, menjadi suatu budaya global.
Casual adalah salah satu subkultur yang hadir dari atas tribun stadion sepakbola. Sebuah budaya berpakaian menggunakan merk-merk ternama dunia yang sering disebut clobber. Kemunculannya di akhir dekade 70an setelah suporter Liverpool kembali dari Italia dan Prancis, dalam rangkaian pertandingan Liga Champion saat itu, mengenakan pakaian dengan merk yang tak dikenal di Inggris seperti Sergio Tachini, Fila Vintage, Kappa dan Adidas. Dengan mengenakan pakaian dengan label-label terkenal tersebut, ternyata berhasil mengelabui para polisi yang hanya mengetahui bahwa pelaku hooliganisme adalah para suporter yang mengenakan sepatu boot Dr. Marten, celana jeans, dan jaket bomber. Terang saja penggunaan paduan label-label terkenal, yang beberapa namanya cukup dikenal di dunia mode semacam Burberry, tersebut menjadi populer. Subkultur casual ini mencapai puncaknya pada akhir 80an dan terus berkembang hingga saat ini, dari vintage casual hingga urban modern casual. Beberapa merk menjadi identik dengan terrace fashion tersebut seperti misalnya Stone Island, CP Company, Paul & Shark, Aquascutum, hingga Prada. Film-film seperti ID, The Firm, Football Factory dan yang Holywood banget yaitu Green Street Hooligan juga ikut mempopulerkan casual.
Dari Inggris tak hanya casual, tetapi tindakan kekerasan sekelompok suporter sepakbola yang dipopulerkan oleh media di sana sebagai hooliganisme juga muncul. Sayangnya di Indonesia ada pergeseran makna dari hooligan ini. Istilah hooligan sebenarnya memiliki konotasi negatif, sebuah istilah yang menggambarkan tindakan agresif, ricuh, rusuhnya para suporter dan paling sering digunakan sebagai penggambaran perilaku kekerasan di dunia persuporteran. Sebuah fenomena yang dianggap penyakit di Inggris sendiri. Phil Thorton, penulis buku Casual, dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa tidak semua casual itu hooligan, dengan kata lain perilaku-perilaku buruk hooliganisme tidak selalu ada pada para suporter yang bergaya casual di atas tribun. Selain dari gaya berpakaian dan berperilaku, muncul pula budaya menyanyikan lagu anthem atau lagu penyemangat, yang kerap kali disebut football chant. Maksud dari menyanyikan lagu-lagu tersebut adalah untuk merayakan pertandingan, memberi dukungan, mengintimidasi pihak lawan atau hanya untuk membuat stadion bergemuruh.
Selain berbagai istilah di atas, ada lagi sumbangan istilah dari luar Inggris yang telah membudaya dan meng-global, seperti kelompok ultras. Sebuah kelompok suporter yang identik dengan kefanatikannya dalam mendukung klub sepakbola. Kemunculan kelompok ultras pertama masih diperdebatkan hingga sekarang. Pada tahun 1929 di Honggaria, muncul kelompok suporter bernama Ferencváros ‘s Fradi-szív yang memiliki karakteristik seperti ultras. Tidak hanya di Honggaria, kelompok suporter yang dapat dikomparasi dengan ultras dibentuk juga di Brazil, torcida organizada, pada tahun 1939. Torcida meramaikan tribunnya dengan menabuh drum untuk mengiringi nyanyian mereka selama 90 menit dan juga melemparkan gulungan kertas agar lebih semarak. Aksi hooliganisme juga sering dilakukan, bahkan sampai mengorbankan nyawa dari para rivalnya maupun kelompoknya sendiri. Negara yang paling banyak diasosiasikan dengan ultras adalah Italia. Dalam sejarahnya tercatat bahwa kelompok pertama ultras dibentuk tahun 1951 di Italia. Sedangkan penggunaan nama ultras sendiri muncul dari suporter Samdoria pada tahun 1960an dengan nama Ultras Tito Cucchiaroni. Ultras memberikan sebuah gaya dukungan yang menarik dan penuh hingar bingar dengan tambahan pyro dan smoke bomb. Kreatifitasnya tak hanya sampai di situ saja, muncul kembali sebuah aksi membuat koreografi di atas tribun. Aksi koreografi yang berasal dari ultras benua Eropa tersebut menjadi budaya yang lahir di atas tribun selanjutnya yang akhirnya menjalar ke tribun-tribun stadion beberapa belahan dunia termasuk di Indonesia.
Dari kota kita sendiri ada istilah Bobotoh, sebuah kata dari bahasa Sunda yang berarti pendukung atau suporter. Sebuah identitas pokok yang melekat pada pendukung Persib seperti halnya kata “tifosi” dari Italia, keduanya memiliki makna yang sama namun beda nama.
Jaman sekarang, segala budaya tersebut bukan hanya milik negara asalnya saja, tapi telah merambah jauh hingga tribun-tribun stadion di segala penjuru dunia umumnya dan Indonesia pada khususnya. Sehingga bila dikatakan semua hal tersebut adalah budaya luar dan dianggap tabu untuk diimplementasikan beberapa diantaranya, maka boleh dibilang ketinggalan jaman. Tak semua hal yang ada di tribun stadion rumah kita sendiri adalah lahir 100% tanpa pengaruh budaya global, di sana ada akulturasi budaya yang membentuk gaya dukungan, menumbuhkan berbagai perilaku di atas tribun dan membangkitkan gairah dalam menikmati klub sepakbola dalam bertanding.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar