Kamis, 09 April 2015

Derby Paling Brutal di Dunia

Ultras
Sekarang saya akan coba menyambung coretan saya tentang faktor-faktor yang menyebabkan permusuhan antar suporter klub begitu mengherankan. Kita bisa tarik beberapa kesimpulan dimana hampir semua pertandingan panas sebagian besar melibatkan dua tim dalam satu kota atau wilayah yang lazim kita sebut dengan Derby. Dalam partai derby-lah dimana kita bisa menyaksikan bahwa apa yang dikatakan dan dideklarasikan seorang fan bahwa sebuah klub bukan hiburan semata benar adanya. Flare membara, petasan berbahaya, bom asap, banner berukuran raksasa, koreo-koreo menakjubkan, yel-yel berisik, bentrokan fisik sampai jumlah ekstra polisi adalah pemandangan “biasa”. Sepak bola menunjukan estetika tersendiri dalam sebuah derby.
Ketika anda membaca judul artikel diatas, anda wajib melupakan duel-duel derby paling menarik  untuk ditonton. Tidak ada Derby Della Madoninna, Derby Manchester, atau El Clasico disini, yang ada adalah sebuah derby dimana seorang ibu akan melarang keras anaknya untuk menonton pertandingan karena mengerti bagaimana mengerikannya pertandingan yang akan berlangsung. Ini bukan lagi soal hiburan, jika tidak hati-hati, kemungkinan terburuk sampai kehilangan nyawa sekalipun bukan hal yang tidak mungkin.
Memuakan-kah atau malah menggairahkan ? itu semua tergantung pandangan kita akan nilai sebuah derby sendiri. Seperti yang saya tulis dalam faktor-faktor rivalitas antar fans, ini bukan sekedar sepak bola, ini pertandingan dimana keangkuhan nilai sebuah komunitas sosial, agama, politik ,budaya atau pegangan lainnya dipertaruhkan. Nilai ekonomi mungkin tidak tertarik dengan partai yang akan saya tulis dibawah.
Artikel saya sekarang mungkin bisa sekaligus menjadi referensi anda bagi yang mengaku dirinya ultras. Tes keberanian anda jika suatu saat mempunyai sedikit rejeki untuk mengunjungi laga-laga yang masuk  dalam kategori list yang saya buat. Jika harus memilih, saya lebih suka menyaksikan laga Derby Vacity ketimbang menonton dengan anteng derby London. Apa bedanya ? ketika anda sudah pernah menonton Vacity Derby (Partizan Belgrade vs Red Star Belgrade), menonton derby London (Chelsea vs Arsenal) akan terlihat seperti berpiknik.
Berikut 12 daftar Derby paling brutal di seluruh dunia yang saya rangkum dari berbagai sumber.
East London Derby : Millwall vs West Ham United
East london Derby
Jangan berpikir jika pertarungan antara Arsenal vs Tottenham adalah partai yang paling menyita tenaga ekstra dari pihak keamanan ketika ada partai derby di London. Tontonlah film hollywood yang berjudul Green Street Hooligans, maka anda akan mengerti panasnya rivalitas ultras kedua klub. Green Street Hooligans memang disitir oleh film itu berdasarkan kisah nyata perseteruan paling keras (antar hooligans) di tanah Britania Raya. Bentrokan fisik yang menyebabkan korban nyawa bukan-lah hal yang baru-baru saja terjadi.
Perseteruan dipercaya dimulai jauh sebelum Liga Inggris setenar saat ini. Dalam sejarahnya, West Ham dibentuk dengan nama awal Thames Ironworks FC oleh serikat pekerja galangan kapal tepat di sisi utara sungai Themes London, sedangkan Millwall dahulu bernama Millwall Ironworks FC yang memiliki latar belakang sama, klub ini dibentuk juga oleh para pekerja perusahaan yang menjadi saingan dari Themes Ironworks FC. Mereka berada dalam kondisi yang baik satu sama lain dan tidak ada permusuhan sampai datangnya momen tahun 1920-an ketika para pekerja Millwall Ironworks menolak ikut dalam aksi mogok kerja buruh besar-besaran yang dipelopori oleh para buruh dari Thames Ironworks. Sejak saat itu, rivalitas terbentuk antara kedua kubu dan mendarah daging kepada para suporter keduanya sampai saat ini. Sejarah yang cukup menarik.
Derby Della Capitalle : SS Lazio vs AS Roma
Derby Della Capitale
Secara nilai ekonomi, mungkin partai Derby Della Madoninna adalah derby tim satu kota terbaik di Itali karena melibatkan 2 dari 3 tim paling sukses di Serie-A. Tapi ketika kita mengganti predikat terbaik menjadi terkeras, maka derby lainnya yang akan menggantikan tempat derby duo Milan tersebut, ialah derby ibukota atau yang lazim disebut dengan Derby Della Capitale. Ya, partai yang mempertemukan SS Lazio vs AS Roma adalah partai paling berdarah seantero negeri pizza. Kolarov mantan pemain Lazio yang pindah menuju Manchester City mengamini kerasnya Derby Roma yang jauh melebihi intensitas Derby Manchester. Kolarov mengatakan jika tensi kota Manchester akan memanas paling cepat sehari sebelum Derby berlangsung, berbeda jauh dengan Derby Roma dimana semua orang dikota telah membicarakannya seminggu sebelum pertandingan dan masih membicarakannya seminggu setelah derby berlangsung.
Saya sempat menjelaskan detail singkat awal permusuhan Lazio dengan Roma. Lazio adalah satu-satunya klub dari ibukota yang tidak jadi dimerger dengan 3 klub lainnya yaitu Roman, Alba-Audace dan Fortitudo menjadi satu klub baru yang bernama AS Roma. Lazio sukses memainkan lobinya untuk membatalkan merger. Sejarah inilah yang melandasi kebencian kedua klub yang tidak suka satu sama lain. Salah satu momen terburuk terjadi pada 1979. Kala itu, seorang fans Lazio, Vincenzo Paparelli meninggal dunia karena flare gun yang ditembakan oleh salah seorang pendukung Roma mengenai matanya. Kota Roma diluar derby pun kota yang tidak ramah bagi suporter tamu, tak terhitung jumlahnya korban penusukan oleh fans Roma atau Lazio sehingga kota ini disebut juga sebagai “stab city” (kota tikaman). Mengerikan.
Cairo Derby : Al Ahly vs Zemalek
Cairo Derby
Mesir adalah raksasa sepak bola Afrika, negara yang cukup banyak megoleksi gelar Piala Afrika meski cukup jarang juga nongol di Piala Dunia. Untuk urusan kompetisi lokal, adalah benar bila Mesir mengklaim dirinya memiliki liga terbaik di Benua Afrika. Buktinya kita tak jarang melihat keikutsertaan Al Ahly dalam Piala Dunia antar klub yang rutin digelar setiap tahun. Di Liga Premier Mesir ada 2 klub terbaik yang kebetulan sama-sama berasal dari ibukota Kairo, Al Ahly dan Zamalek.
Al Ahly unggul cukup jauh dalam peraihan trofi liga lokal dengan 36 raihan, sedangkan Zamalek sejauh ini “baru” mengoleksi 11 trofi. Bisa dikatakan perseteruan antar suporter yang begitu sengit adalah hal wajar mengingat status kedua klub yang bersaing secara langsung. Kota akan terbelah ketika tiba masanya hajatan Derby Cairo berlangsung. Bentrokan dan kegaduhan adalah bumbu umum untuk menggambarkan suasana kota Kairo sebelum laga. Tak jarang, pemerintah Mesir turun langsung untuk mendatangkan wasit asing demi memimpin Cairo Derby melihat rawannya keributan yang ditimbulkan ultras kedua kubu.
Forum pebisnis lokal pun sudah sepakat untuk tak ada yang menyatakan keberpihakannya kepada salah satu tim demi menjaga kelancaran dan keharmonisan kota Kairo. Alasannya satu, pemerintah dan pebisnis mengerti potensi kekacauan macam apa yang akan terjadi jika bentrokan dalam skala besar pecah di kota Kairo antar kedua ultras. Kita harus mencatat, suporter Mesir berhasil mendapatkan status mereka sebagai suporter yang brutal, paling gres adalah tragedi Port Said yang menewaskan 74 suporter Al Ahly ketika sang klub bertamu ke kandang Al-Masry.
Uruguayan Clasico : Penarol vs CD Nacional
Uruguayan Clasico
Duel ini juga disebut Uruguayan Derby, mempertemukan dua klub asal ibukota Uruguay ; Montevideo, Penarol vs CD Nacional. Salah satu derby klasik yang terkenal diseluruh dunia. Keduanya memiliki peran besar atas perkembangan sepakbola di Amerika Selatan karena keduanya bisa disebut sebagai klub paling tua dari Amerika Selatan. Keduanya juga klub terkuat di Uruguay dan mempunyai nama yang besar di belahan bumi latin itu. Bahkan Penarol dianugrahi sebagai klub terbaik abad 21 oleh FIFA dan membuat mereka sejajar dengan Real Madrid.
Tak jauh beda dengan laga derby lainnya yang masuk dalam daftar saya, Uruguayan Derby kerap diwarnai perseteruan fisik antar fans kedua kubu. Kedua klub mempunyai ultras yang sangat militan, tak jarang ada korban yang berjatuhan. Laga yang paling di ingat oleh masyarakat sepakbola dunia terjadi pada 14 April 1990, bukan karena ulah para fans-nya, namun sebab dari ulah para pemain kedua kubu sendiri. Derbi ini berakhir imbang 0-0 dengan menghasilkan 22 kartu merah, 11 untuk masing-masing pihak, (9 pemain di lapangan dan 2 pemain cadangan). Pertandingan berakhir pada menit ke-85 karena memang ada peraturan yang menyatakan sebuah pertandingan tidak boleh kurang dari 7 pemain. Luar biasa bukan ?
Derby Paulista : Corinthias vs Palmeiras
Derby Paulista
Brazil menyandang sebagai gudangnya suporter sepak bola paling keras di dunia. Saya pernah membaca suatu artikel yang menyatakan Brazil adalah negara dengan tingkat kekerasan sepak bola paling parah di dunia. Di acara yang sama pun saya mendengar seorang suporter Palmeiras mengatakan,” jika di Eropa masih menggunakan pentungan atau belati, di Brazil kami menghadapi senjata api”.
Rival utama Plameiras tentu saja klub sekota mereka, Corinthias. Laga kedua tim disebut Derby Paulista yang terletak dikota Sao Paolo sebagai kota tertua di Brazil. Pendukung tentu saja menjadi bagian penting di laga derby ini. Corinthians diwakili oleh ultras yang bernama “Gavioes da Fiel” dan “Camisa 12”, sementara “Mancha Verde” dan “TUP (Torcida Uniformizada do Palmeiras)” menjadi barisan laskar yang membela panji Palmeiras. Hebatnya, tidak ada rivalitas klasik lainnya di dunia yang menentukan sebegitu banyak gelar juara di dunia layaknya Derby Paulista.
Rivalitas kedua kubu sudah pernah beberapa kali dijadikan latar sebuah buku atau film. Salah satu yang paling terkenal adalah adaptasi ulang Romeo dan Juliet versi Corinthians dan Palmeiras dimana kedua klub menggantikan posisi keluarga Montague dan Capulet.
Fla Flu : Flamengo vs Fluminense
Fla-Flu Derby
Duel Flamengo vs Fluminese akan menawarkan tantangan sebenarnya bagi anda pecinta petualangan yang menggugah adrenalin. Lebih keras dibandingkan Derby Paulista, Persaingan Flamengo dengan Fluminense disebut sebagai salah satu derby yang paling kejam di dunia. Fla-Flu derby seakan memperlihatkan perseteruan dalam derby Manchester seperti pertandingan antar anak sekolahan. Pentungan, rantai, belati pedang sampai senjata api adalah hal yang biasa dibawa beberapa orang dari kelompok suporter masing-masing.
Bayangkan, tidak ada pertandingan yang sepi penonton jika kedua klub bermain. Anda akan melihat bentrokan fisik sebelum dan setelah pertandingan menjadi sesuatu yang wajib bagi fans garis keras kedua kubu. Tidak ada kata tenang dalam Derby Fla-Flu, korban luka atau bahkan tewas yang tergeletak di tengah jalan adalah momen yang harus siap anda saksikan jika memutuskan untuk menontonnya.
Inilah momen dimana pengawalan polisi akan sama ketatnya dengan pengamanan Presiden ketika kedatangan banyak tamu kepala negara dari negara lain. Sejarah awal perseteruan mereka tercipta sejak lama, tahun 1911 ketika banyak pemain Fluminense membelot membantu pembentukan klub baru yang bernama Flamengo. Disinilah awalnya hingga dunia mengakui Fla-Flu Derby sebagai partai derby terkejam nomor wahid dunia yang mungkin hanya bisa disamai oleh panasnya Kitalar Arasi Derby, Super Clasico, atau derby-derby dari beberapa negara Eropa Timur.
The Ethernal Enemy : Olympiacos Pireaus vs FC. Panathinaikos
Athens Derby
Saya akan menjamin kepada anda semua, fans dari Yunani adalah suporter dengan tingkat fanatisme yang paling tinggi di Eropa Tengah. Derby Athens yang mempertemukan Panathinaikos melawan Olympiakos bisa kita jadikan representatif untuk perkataan saya tadi. Tidak ada yang namanya keramahan jika Panathinaikos menjamu Olympiakos ataupun sebaliknya. Bentrokan fisik dari korban luka sampai nyawa merupakan hal yang tidak mengagetkan dalam derby ini.
Sekali lagi, kasta ekonomi mempengaruhi rivalitas kedua tim. Panathinaikos berasal dari tengah kota Athena dan mendapat dukungan dari kalangan atas masyarakat. Sementara itu, Olympiakos didukung oleh masyarakat kelas bawah yang menghuni bagian pesisir/pelabuhan kota Athena. Hari pertandingan kedua tim sama dengan hari tanpa ketenangan bagi warga kota. Suasana selama derby adalah bagian tersibuk polisi yang tidak akan mengedipkan mata sedikitpun untuk mengawasi ulah suporter kedua kubu.
Kerusuhan paling gres dan masih hangat ketika derby berlangsung terjadi pada tanggal 3 Maret 2014 lalu. Bermain dikandang Olympiakos, pihak tuan rumah yang berstatus pemuncak klasemen secara mengejutkan tertinggal 3 gol oleh tim tamu. Tidak terima dengan hasil tersebut, Ultras Olympiakos yang terkenal dengan sebutan Gate 13 membuat gaduh didalam stadion, Flare yang terbakar dan bom asap yang telah aktif dilemparkan para ultras ke dalam lapangan. 26 orang digiring ke kantor polisi dan 11 diantaranya ditahan karena terbukti menjadi provokator. Pelatih Panathinaikos Yiannis Anastasiou menjadi salah seorang korban yang terluka matanya terkena lemparan botol. Tidak sampai disitu, pemain Olympiakos asal Nigeria, Michael Olaitan sampai pingsan dan dilarikan ke rumah sakit karena stress dengan suasana stadion yang begitu ricuh.
Suasana yang luar biasa bagi masyarakat awam namun “biasa” bagi mereka.
Vjecni Derbi : Hadjuk Split vs Dynamo Zagreb
Vjecni Derbi
Jangan pernah berharap menemukan hiburan untuk menghilangkan stres di laga ini. Bisa-bisa anda malah tambah stres karena ketakutan yang luar biasa. Inilah Vjecni Derbi (derby abadi) milik Kroasia, partai yang mempertemukan Dinamo Zagreb vs Hajduk Split. Kedua tim adalah yang terbaik di negeri pecahan Yugoslavia ini dan memiliki kelompok dukungan yang begitu kuat, The Bad Blue Boys untuk Dynamo dan Torcida untuk Hajduk. Memang kedua klub bukan berstatus Derby antar tim satu kota, derby ini lebih bersifat umum yang mencakup Kroasia secara keseluruhan.
Hajduk berasal dari Dalmatia (Split) dan Dinamo adalah wakil ibukota Zagreb. Kerusuhan adalah syarat wajib dari laga Derby of Croatia. Lemparan flare, botol, benda tajam, pengrusakan stadion, korban luka dan tewas adalah harga yang harus dibayar dalam laga ini. Jangankan partai resmi, pada tahun 2004 ketika digelar sebuah pertandingan persahabatan antara Dynamo Zagreb vs Hajduk Split. Laga harus dihentikan ditengah jalan setelah fans kedua kubu melemparkan benda-benda keras seperti botol air minum termasuk pisau ke dalam lapangan. Sejak awal memang tanda-tanda lancarnya laga seperti mustahil terjadi, tensi pertandingan memuncak setelah pemain Dynamo Edin Mujcin diusir keluar lapangan oleh wasit dan ketegangan di tribun mulai terasa. Polisi mengatakan setelah pertandingan, 25 fans dari kedua kubu telah diamankan.
Pernah dengar nama Niko Kranjcar ? Ya, mantan pemain Portsmouth ini satu-satunya pemain yang berani membelot secara langsung dari Dynamo Zagreb menuju Hajduk Split. Anda tahu apa yang terjadi selanjutnya ? Ancaman pembunuhan untuk dirinya diterima dari ribuan fans Dynamo.
Super Clasico : River Plate vs Boca Juniors
Super Clasico
Beberapa dari rekan-rekan mungkin lebih familiar mendengar ucapan El Clasico yang menjadi milik paten untuk tajuk laga Barcelona vs Real Madrid. Tapi, di Argentina sana, dunia mengakui bahwa laga antara River Plate vs Boca Juniors jauh melebihi keganasan El Clasico milik Spanyol. Perbedaan kelas melatarbelakangi rivalitas panas dari keduanya. Los Millonarios -sebutan River- disokong oleh dana dari kelas menengah keatas publik Buenos Aires, sedangkan Los Xeneizes -julukan Boca- didukung oleh kelas pekerja, yang rata-rata berstatus imigran.
Momen paling mengerikan dari derby ini terjadi pada tanggal 23 Juni 1968 bertempat di River’s Monumental Stadium. Sebuah tragedi yang sampai saat ini pun belum bisa diungkap dan dipertanggung jawabkan atas apa sebenarnya penyebab dari melayangnya 71 nyawa serta 150 orang korban luka-luka lainnya dari pendukung Boca Juniors dalam laga derby kala itu. Tidak ada satupun terdakwa sampai 45 tahun kemudian. Beberapa versi menyebutkan kericuhan berawal dari pembakaran bendera River Plate oleh fans Boca yang tiba-tiba jatuh ke tribun lantai satu yang sebenarnya diisi juga oleh fans Boca dan menyebabkan kepanikan. Versi lain ada yang mengatakan bahwa suporter tuan rumah (River Plate) merangsek masuk dan menimbulkan kerusuhan di sisi milik suporter tim tamu. Ada juga yang menyalahkan polisi dalam bertindak ketika hendak mengamankan para suporter Boca untuk keluar dari tribunnya walaupun menyadari kapasitas pintu keluar tidak akan cukup melihat banyaknya jumlah penonton.
Tragedi mengerikan ini terjadi di sebuah gerbang pintu keluar bernomor 12 sehingga dikenang sebagai tragedi “Puerta 12” (gerbang 12). Banyak pihak meyakini gerbang 12 dalam keadaan terkunci yang menyebabkan para penonton berdesakan dimuka gerbang. Ironisnya, para korban didominasi oleh anak-anak muda dengan rata-rata usia 19-21 tahun. 45 tahun telah berlalu namun intensitas perseteruan kedua kubu tidak pernah reda, tidak ada duel tanpa bentrokan fisik dan korban nyawa pun masih rutin berjatuhan.
Tahun 2004, harian Inggris ; The Observer menempatkan Derby Superclasico di daftar teratas dalam rilis “50 Sporting Things You Must do Before You Die”. Silahkan dicoba bagi rekan-rekan yang bernyali cukup.
Holy War : Wisla Krakaow vs MKS Cracovia
Holy War
Jangan membicarakan ketenaran untuk derby ini karena anda tidak akan mendapatkannya. Bicarakanlah kekerasan yang tampaknya lebih cocok sebagai gambaran laga. Terletak di kota yang sama, Krakow, kedua tim saling benci satu sama lain. Sumbernya ialah sejarah politis kedua tim. Wisla Krakow 40 tahun dikuasai polisi komunis sedangkan MKS Cracovia dimiliki oleh polisi internal Polandia. Anehnya, kedua ultras baik itu Biala Gwiazda (White Star)-sebutan fans Wisla- dan The Dogs (Carcovia) justru membenci polisi.
Perseteruan derby tidak hanya menyangkut pertandingan, klub ini satu kota, jarak stadion kedua tim pun kurang lebih hanya 500 meter. Kehidupan sosial masyarakat juga ikut terpengaruh oleh rivalitas kedua tim, mungkin saja tetangga salah satu dari mereka adalah fans dari pihak lawan. Tidak heran, bentrokan kedua kelompok begitu sering terjadi di dalam kota sekalipun derby tidak berlangsung. Bayangkan, setiap tahun, ada saja nyawa melayang disebabkan pertikaian kedua suporter. Tercatat dalam medio 2004-2006 saja, 8 nyawa melayang sebab dari pertikaian kedua kubu. Tidak salah akhirnya jika kota Krakow sampai dikenal dengan sebutan “the city of knives”.
Dino Baggio pernah merasakan bagaimana kejamnya suporter Wisla, dia mendapatkan 5 jahitan akibat lemparan pisau dari tribun penonton ! Tragedi itu dia dapatkan ketika tim yang dibelanya Parma bertandang menghadapi Wisla Karakow dalam turnamen Piala UEFA tahun 1998. Jika suatu saat anda mendarat di Krakow, berhati-hatilah karena bukan tidak mungkin sekumpulan orang mencegat anda dan menanyakan anda ada di “pihak yang mana”. Lebih baik jawab dengan pertanyaan netral seperti menyukai keduanya atau tidak keduanya.
Kitalar Arasi : Galatasaray vs Fenerbahce
Kitalar Arasy Derby
Akhirnya kita sampai di sebuah derby yang benar-benar akan menyita perhatian besar seluruh pemerhati olah raga si kulit bundar di seluruh penjuru dunia. Rela mati demi klub adalah syarat wajib jika anda memutuskan menjadi salah satu fans dari kedua klub, Fenerbahce atau Galatasaray. Suhu kota Istanbul sudah mulai menghangat seminggu sebelum laga dan akhirnya akan mencapai titik didih di hari pertandingan. Polisi bersiaga ketat, menyadari bentrok bisa pecah kapanpun seminggu sebelum sampai satu minggu sesudah derby.
Derby untuk 2 tim tersukses Turki ini memiliki beberapa nama, Istanbul Derby adalah yang paling sering disebut, diluar itu ada sebutan Kitalar Arasi untuknya. Meski terletak di satu kota yang sama, perbedaan keduanya begitu jelas karena dipisahkan oleh selat Bosphorus yang memisahkan Turki khususnya kota Istanbul menjadi sebagian Asia dan sebagian lagi Eropa. Itulah makna Kitalar Arasi Derby, Derby antar Benua. The Aslan (sebutan Galatasaray) mewakili benua Eropa, sedangkan Sari Kanaryalar (julukan Fenerbahce) mewakili entitas Asia.
Kedua klub adalah yang tersukses di Turki, pantas jika pertemuan keduanya selalu berlangsung dahsyat. Saya pastikan kepada anda, tubrukan fisik antar kedua pendukung adalah pasti terjadi. Fenerbahce memiliki pos militan bertajuk Genc-Fenerbahceliler (Young Fenerbahce Supporters) dan Galatasaray diwakili oleh ultrasnya yang bergelar “ultrAslan”. Aslan adalah bahasa Turki yang berarti Singa.
Jangan sampai salah duduk atau lewat didepan pendukung dengan atribut yang salah, nyawa anda bisa sangat terancam. Kejadian paling gresterjadi pada tanggal 14 Mei 2014 lalu, seorang fans Fenerbahce berusia 19 tahun yang bernama Burak Yildirim tewas ditikam oleh seorang fan Galatasaray yang tidak ditemukan identitasnya. Penusukan terjadi ketika korban pulang selepas menyaksikan laga tim kesayangannya memenangi derby dengan skor 2-1. Burak Yildirim berdiri di pemberhentian bus sebelum tewas ditikam dari belakang.
Jika anda tidak punya cukup mental dan kehati-hatian, sebaiknya menjauh dari laga ini.
Vacity Derby : Partizan Belgrade vs Red Star Belgrade
Vacity Derby
Saya tidak akan menyarankan anda untuk berkunjung ke Serbia dan menyaksikan derby Belgrade antara Red Star melawan Partizan. Bukan kenapa-kenapa, inilah partai dimana seorang ibu akan benar-benar melarang anaknya menonton pertandingan. Warga Serbia adalah warga yang terbiasa dalam berperang, puluhan tahun negeri yang dulunya bernama Yugoslavia ini dilanda perang saudara. Mereka tidak takut mati jika harus membela apa yang dipercayainya. Asal tahu saja, sebuah klub akan sama nilai sakralnya dengan sebuah agama untuk warga Serbia khususnya.
Tonton saja video diatas, maka anda akan mengatakan derby lain di Eropa hanyalah rivalitas anak-anak SD yang suka bernyanyi. Pembakaran, flare beterbangan, ledakan bom asap serta suasana chaos mencekam adalah tontonan wajib bagi anda yang menyempatkan diri hadir di derby yang memiliki banyak nama seperti Eternal Derby, Vacity Derby atau Berlgrade Derby ini.
Polisi anti huru-hara bersenjata lengkap, ambulans, tenaga medis dan rumah sakit akan dipersiapkan bersiaga ekstra untuk menyambut kedatangan hajatan yang rutin diakan minimal 2 kali dalam setahun tersebut. Semua pihak paham betul kekerasan sampai menimbulkan korban luka atau tewas adalah nama belakang derby ini. Salah satu kejadian paling dikenang terjadi pada tahun 1997 ketika salah seorang bocah berusia 17 tahun kehilangan hidupnya karena terkena lemparan flare.
Saya tetap tidak menyarankan anda menonton langsung Vacity Derby, namun jika ingin melihat kaidah sebenarnya dari rasa fanatisme diluar batas, disinilah tempatnya. Berhati-hatilah atau paling aman anda membeli tiket jauh dari dua tribun di belakang gawang tempat khusus untuk ritualnya ultras kedua kubu.
Penutup
Mungkin, derby-derby diatas tidak sebesar nilai ketenaran Derby Della Madoninna, Derby Manchester, Derby London apalagi El CLasico. Itulah mengapa judul diatas saya tulis sebagai derby paling keras dan mengerikan di dunia. Dimana arti sebuah klub untuk para ultras lebih dari sekedar harta dan cinta. Masing-masing Fans garis keras dengan senang hati akan mengatakan bahwa mereka rela mati demi klub kesayangan mereka.
Secara garis besar dapat saya katakan, hampir semua laga derby paling keras yang saya rangkum ini terjadi di belahan bumi dimana sepak bola belum diorganisasi sedemikian rapinya. Kita tidak bisa serta merta mengatakan bahwa orang-orang Inggris mempunyai fanatisme terhadap klub dukungannya lebih kecil dari rasa fanatisme orang-orang dari negara-negara Balkan. Bukankah awal dari kata-kata hooliganisme itu berasal dari Inggris ?
Intinya adalah aturan yang tegas dari pemilik regulasi. Di Inggris, sekali saja anda berbuat sesuatu yang konyol seperti menyalakan flare atau menjadi provokator yang menyebabkan kericuhan massal, anda akan dilarang oleh FA untuk menyaksikan pertandingan apapun langsung di stadion seumur hidup. Adakah fans bodoh yang tetap nekat melakukannya ? ada saja walau jumlahnya tinggal satu-dua orang. Itupun pasti disesali yang bersangkutan.
Tidak hanya di Inggris, hampir disemua liga-liga besar telah menetapkan aturan yang sama. Jerman dan Belanda contoh sukses lainnya. Itali pun sudah sebenarnya, walaupun memang hukuman yang dijatuhkan seringkali tidak sekeras Inggris ataupun Jerman, wajar saja kekerasan dalam sepak bola Itali masih sering terasa. Semua regulator liga-liga terbaik di Eropa berani bersikap tegas, itulah yang membedakannya dengan derby-derby rusuh yang kelewat keras seperti derby-derby milik Eropa Timur atau Amerika Selatan. Tidak lupa Indonesia juga termasuk didalamnya.
Tapi sekali lagi, inilah sepak bola. Sepak bola tanpa ultras bagai ayam lalapan tanpa sambal yang pedas. Ada yang begitu fanatik dengan sambal yang pedas ada juga yang membenci jika terlalu pedas. Sekarang terserah anda berada di kubu yang mana.
Semoga bermanfaat.
Silahkan jika teman-teman berkenan untuk melakukan analisa sesuai topik ini di form komentar. Terima kasih sudah mampir untu membaca.
Referensi : bleacherreport.com, themost10, soccerlens, sky10


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar