Kamis, 09 April 2015

Kebenaran Dalam Skandal Senayan

Match Fixing
Maaf rekan-rekan, saya kembali mengangkat tulisan yang kembali lagi menyoal sejarah kelam dalam sepak bola nasional. Saya minta maaf karena mungkin tidak terlihat kreatif karena hampir 50% artikel saya terkait sepak bola nasional selalu bersinggungan dengan skandal suap senayan. Baik itu menyoal catatan saya tentang Ramang, Pogacnik atau Timnas jaman dulu.
Alasannya hanya satu, saya begitu penasaran. Ini menjadi kebiasaan yang sudah begitu lama terjadi namun seperti semua stake holder persepak bolaan nasional tutup mata atas kejadian tersebut. Mana pernah anda melihat PSSI serius menangani hal ini ? Kasus terakhir yang bisa menjadi rujukan terjadi ketika melibatkan PSMS Medan dalam menjalani roda kompetisi Divisi Satu musim 2010/11. PSMS Medan yang hendak melakoni laga tandang melawan PS Bengkulu diperintahkan oleh pengurusnya untuk mengalah karena telah mendapatkan uang suap dari bandar judi yang konon berasal dari Malaysia.
Pelatih dan para pemain menolak melakukannya, adapun hasilnya hampir semua pemain tertunggak gajinya dan sempat luntang-lantung hidup tanpa gaji. Pihak yang terlibat dalam suap diantaranya Sarwono sebagai manajer PSMS, Saryono pengurus PSMS dan Heru Pramono sebagai CEO PSMS. Berita terakhir saya mendengar komdis PSSI menghukum ketiga mantan pengurus PSMS Medan tersebut dengan sanksi larangan terlibat dalam sepak bola seumur hidup.
Hukuman yang tegas ? ya, tapi anda harus tahu, kasus ini baru mendapat perhatian ketika para pemain ramai-ramai menggugat dan diangkat oleh media massa. Baru tahun 2013 sanksi tersebut diberikan dan gaji para pemain dilunasi. Pengurus PSMS pun sebenarnya setali tiga uang.
Bahkan sebelumnya pengurus PSMS sendiri yang menyatakan kasus ini ditutup tahun 2011 lalu sebelum akhirnya dibuka kembali 2 tahun kemudian. Menjawab hal ini, sekretaris umum PSMS, Idris, mengatakan, keputusan membuka kembali kasus ini karena ditemukannya bukti baru tahun 2013 lalu.
Sekretaris umum PSMS, Idris, mengatakan, keputusan membuka kembali kasus ini karena ditemukannya bukti baru. “Saat pembubaran tim memang kita bilang tidak ada suap, namun ada catatan kalau kasus ini akan dibuka kembali, jika ada temuan. Kami menemukan bukti baru ketika 23 Juli lalu, ada pemain yang melapor dan memperkuat dugaan suap itu,” ujarnya.
Sedikit lucu sebenarnya karena saksi mata dan korban masih hidup semua, yaitu pelatih dan pemain PSMS Medan musim 2011, mereka pun sudah melaporkan kasus tersebut sejak lama. PSSI toh seperti diam saja mendengarnya sebelum pengurus PSMS dan KONI kembali mengangkatnya. Intinya apa ? PSSI memang masih loyo untuk urusan seperti ini. Lalu sampai kapan kasus suap-menyuap akan berulang terus-menerus jika keseriusan lembaga penaung dipertanyakan ?
Inilah faktanya, itulah mengapa saya begitu penasaran tentang bagaimana sih sebenarnya kasus suap pemain dalam skandal senayan 50 tahun lalu yang begitu menghebohkan. Kasus tersebut seperti antara nyata dan tidak. Hukuman memang ada dan sudah dijatuhkan namun bukan oleh PSSI. Sehingga dalam catatan PSSI kasus ini sebenarnya tak pernah terjadi atauu tepatnya dipaksakan terjadi.
Untuk itulah anda harus membaca catatan saya berikut.
Menjangkiti Dunia
Kita sebenarnya patut bergidik soal ini. Pengaturan pertandingan bukanlah penyakit lokal yang akut dan hanya terjadi di negara kita Indonesia. Anda harus tahu, ini adalah penyakit internasional. Banyak bukti dan telah banyak yang melakukan penelitian mendalam tentang pengaturan skor oleh pihak bandar.
Salah satunya adalah Hill Declan yang telah melakukan riset mendalam tentang perilaku hina dalam seluruh olah raga ini. Melalui riset itulah dia kemudian mendapatkan fakta-fakta menarik dari pengaturan pertandingan, kasus suap, hingga judi bola. Mulai dari Eropa, bahkan hingga pelosok Asia Tenggara (kasusu PSMS Medan buktinya). Bahkan dia menyebut Indonesia beberapa kali di dalam bukunya, tapi tidak pernah menceritakan mengenai kasus pengaturan pertandingan di Indonesia.
Kasus pengaturan pertandingan sendiri mulai mencuat ke permukaan sekitar Februari silam. Interpol mengeluarkan nama Dan Tan, seorang berkebangsaan Singapura, sebagai tersangka pengaturan pertandingan sepakbola secara global. BBC melansir, 30 negara dan hampir 700 pertandingan diselidiki oleh Interpol.
Europol
Saya menulis yang sebenarnya. Saya menulis fakta. Sebagai jurnalis, Anda dan saya tahu bahwa ada dua macam fakta: fakta yang kita ketahui dan fakta yang bisa kita tulis di dalam buku dan diterbitkan. Dan saya harus memaku diri pada fakta kedua,” kata Hill.
Pria berkebangsaan Kanada itu kemudian menjelaskan alasan mengapa kasus pengaturan pertandingan adalah sesuatu yang mewabah dan berbahaya. Salah satu yang mengkhawatirkan adalah bagaimana wabah tersebut bisa membuat penggemar sepakbola jadi malas menyaksikan pertandingan.
Dan begitu orang-orang berpikir bahwa pertandingan sudah disuap, mereka akan mulai malas menyaksikan sepakbola,” paparnya.
Yang menarik, di dalam bukunya Hill menyebut bahwa salah satu match-fixer berasal dari Indonesia. Sang match-fixer memberikan statemen kepada Hill bagaimana cara mereka memberikan sinyal kepada pemain yang sudah disuap. Hill, dalam wawancara semalam, mengaku masih ingat dengan jelas wajah orang Indonesia itu.
Beberapa dari kita mungkin ada yang tahu dan masih mengingatnya, ketika publik sepakbola dunia dihebohkan oleh terungkapnya sebuah jaringan pengaturan pertandingan global yang berbasis di Singapura. Sindikat ini bahkan sampai menghantui Eropa yang terlihat sangat profesional dalam olah raga. Semua kalangan sepakat, meski beragam cara dilakukan, penghapusan match-fixing nyaris tak mungkin dilakukan dan semua negara berpotensi untuk kecolongan.
Kepolisian Uni Eropa (Europol) berhasil mengungkap sebuah jaringan pengaturan pertandingan global yang mencakup beberapa negara di seluruh dunia tahun 2013 lalu. Dari hasil penyelidikan tersebut, bahkan pertandingan di Liga Champions dan Kualifikasi Piala Dunia berhasil disusupi.
Sebanyak 680 pertandingan yang dicurigai terlibat dalam pengaturan pertandingan itu melibatkan laga-laga dari turnamen besar dunia baik level tim nasional maupun tingkat klub. Skandal ini terungkap berkat penyelidikan yang dilakukan oleh Satuan kepolisian Uni Eropa, atau yang dikenal dengan Europol.
Pertandingan-pertandingan yang dicurigai melibatkan aktivitas kriminal dimulai dari tahun 2008 sampai 2011. Dari 680 pertandingan, sekitar 380 di antaranya dicurigai merupakan laga di kompetisi Eropa, sementara 300 lainnya teridentifikasi di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Luar biasa !
Bukan cuma pemain yang diketahui terlibat. Wasit dan asosiasi sepakbola juga disebut menjadi bagian dari jaringan tersebut. Diklaim Put, tak sedikit pemain internasional terlibat dalam pengaturan pertandingan itu.
Demikian diungkapkan oleh pelatih tim nasional Burkina Faso, Paul Put. Di tahun 2005 karir sepakbola Put tercoreng karena dia terlibat pengaturan pertandingan saat masih memperkuat klub Lierse di Liga Belgia, di mana dia menjadi bagian dari sebuah jaringan yang bermarkas di China.
Pengaturan pertandingan akan selalu ada di sepakbola. Jika Anda melihat di cabang bersepeda, seperti Lance Armstrong, fokusnya hanya dia yang memakai obar-obatan padahal semua memakai obat-obatan itu,” sahut Put.
Saat saya bermain sepakbola saya melihat banyak hal. Saya tak berpikir Anda bisa mengubahnya. Itu disayangkan tapi saya pikir di setiap olahraga Anda harus menghadapi kondisi seperti itu,” lanjutnya seperti diberitakan Reuters.
Anda harus melihat apa yang terjadi di sepakbola. Ada banyak pemain internasional yang terlibat dalam pengaturan pertandingan. Saya pikir kondisinya malah lebih parah dibanding masa lalu,” lanjutnya.
Pengakuan Mantan Pemain Timnas
Sebenarnya, “Skandal Senayan” jika dikaji lebih dalam adalah drama yang penuh intrik dengan alur plot yang sudah diatur sedemikian mungkin oleh profesional. Para bandar dan pengatur skor (match-fixer) dengan canggih memberi tawaran yang tak mungkin bisa ditolak oleh para pemain.
Declan Hill, dalam bukunya yang kontroversial The Fix: Soccer and Organize Crime, menyebut bahwa fixer yang hebat umumnya adalah manusia yang cerdas dan pandai membaca psikologi manusia. Kemampuan membaca psikologi ini dibutuhkan untuk memahami titik lemah pemain yang akan disuap. Sekali saja fixer bisa menemukan titik lemah itu (entah ekonomi, perempuan atau drugs), maka sukar bagi pemain untuk menghindar.
Declan Hill
Pada buku yang sama Hill juga menyebut bahwa banyak pemain yang kena suap fixer umumnya adalah pemain yang banyak berusia di atas 26 tahun (usia di mana pemain banyak yang sudah menikah) dan dari situlah daftar kebutuhan hidup keluarga pun meningkat. Inilah yang disebut sebagai titik lemah ekonomi dan mayoritas alasan yang melatar belakangi lunturnya semangat fair play dalam sepak bola.
Kepada harian Pikiran Rakyat tahun 2006, salah seorang pelaku skandal Senayan 1962, Wowo Sunaryo, mengakui hal itu. Baginya, skandal Senayan 1962 sangat lekat kaitannya dengan faktor ekonomi. “Honor memperkuat tim Indonesia saat itu hanya cukup untuk biaya perjalanan Bandung-Jakarta. Kalau ada sisa, hanya bisa untuk membeli dua telur atau sabun. Keluarga sering ditinggalkan. Mereka juga butuh makan. Karena keadaan ekonomi, kami terpaksa melakukan itu,” ujar pemain yang menjadi goal-getter andalan Toni Pogacnik ini.
Wowo yang total mencetak 23 gol dalam tur Eropa dan Asian Games 1958 (saat itu Indonesia meraih posisi ketiga) menceritakan bagaimana fixer bekerja mengatur dirinya. Pada suatu sore di rumah kontrakannya di daerah Mayestik, Jakarta Selatan, muncul seorang tamu, lelaki Cina, berusia sekitar 50 tahun, penghubung kaum penjudi, yang meminta ia “bermain” dalam pertandingan melawan Yugoslavia.
Seperti digoda setan, saya terperangkap. Saya terpaksa menerimanya karena kondisi keluarga,” kata Wowo seperti dilaporkan majalah Tempo edisi 14 Juli 1979.
Memang selalu ada alasan bagi pemain yang bersedia menjadi bagian dari sindikat pengaturan skor. Dan di masa itu, suap bukanlah barang aneh. Raden Ading Affandi, jurnalis yang pernah menjadi pengurus Persib, mengakui bahwa klub-klub di Indonesia saat itu sudah jamak menerima surat gelap yang melaporkan para pemain yang disuap.
Lain Wowo, lain pula Rukma Sudjana. Rukma adalah kapten timnas kala itu, menerima ban kapten dari pemain Persib lainnya, Aang Witarsa. Dia salah satu pemain kunci dalam skema rancangan Pogacnik, baik saat memperkuat Indonesia di Olimpiade 1956 maupun sesudahnya. Posisinya juga vital, sebagai center-half, gelandang tengah, atau poros-halang dalam skema WM.
Saat penulis menemuinya belum lama ini, ia menuturkan pola pendekatan para “Bandar” sama seperti yang pernah saya tulis dalam artikel sebelumnya. Ia menceritakan, terkadang para bandar ini selalu datang ke mess PSSI di Jalan Mendayung, Senayan, sambil membawa barang bawaan. “Kadang-kadang buah, kadang-kadang pakaian atau barang, pemain menerimanya begitu saja karena tak tahu apa-apa,” katanya.
Lewat pengakuan Rukma pulalah terkuak bahwa di masa itu, sudah jamak pemain ikut bertaruh judi toto. Judi toto yang dimulai pada 1950an ini memang sangat mempengaruhi mentalitas pemain di masa itu. Bisa dibayangkan apa jadinya jika seorang kiper ikut bertaruh judi toto.
Kepada penulis, Rukma mengakui bahwa para tauke (bandar) ini pun kerap mengatur kemenangan-kemenangan timnas. Terkandang mereka meminta para pemain untuk menang besar atau kecil. Dalam kenyataanya, Tauke tak selalu meminta tim yang dimainkannya kalah. Seri atau menang pun tak apa, asal hasinya mampu menguntungkan mereka.
Seperti kasus Ramang saat Persebaya vs PSM Makassar di tahun 1961. PSM yang semula unggul 3-1 dan sebenarnya mampu mencetak gol lebih banyak lagi, malah tumpul di babak kedua dan kemasukan 2 gol, sehingga skor menjadi 3-3.
Sama halnya pengakuan Wowo, Rukma juga mengakui bahwa godaan terbesar yang membuat pemain era itu mudah terjebak pengaturan skor adalah penghasilan sebagai pemain yang masih sangat minim di masa itu. Jika Wowo mengumpamakan penghasilan di timnas itu hanya sebesar ongkos Bandung-Jakarta pulang pergi, Rukma malah menyebut “hanya cukup untuk membeli semangkuk bakso”.
Ketika itu PSSI memberikan Rp 25/hari bagi setiap pemain (itupun ketika dipanggil saja). Angka itu memang tidak seberapa jika menengok angka yang disodorkan oleh para bandar judi dan pengatur skor. Seperti dilaporkan Tempo, uang yang disodorkan bandar untuk laga melawan Yugoslavia Selection yang berkesudahan 2-3 (laga ini oleh pengadilan disebut sebagai salah satu laga yang diatur) masing-masing pihak pemain yang terlibat mendapatkan uang sebesar Rp. 25.000.
Itu jelas angka yang luar biasa. Tidak usah dibandingkan dengan uang saku Rp 25 per hari yang diterima pemain, bandingkan saja dengan gaji pegawai saat itu. Jika membaca Peraturan Pemerintah No. 14 tahun 1962, tertulis bahwa gaji tertinggi pegawai negeri adalah 4 ribu rupiah. Jadi, dalam satu laga saja, pemain bisa menerima 6 kali gaji pegawai negeri dari pangkat yang paling tinggi sekalipun.
Rukma juga menjelaskan bagaimana pola hubungan antara pemain dan para pengatur skor. Menurutnya, hubungan dengan para bandar bisa dilakukan dengan berbagai jalan, di antaranya: berhubungan langsung dengan pemain, memakai perantara makelar, atau menggunakan pemain senior yang sudah makan asam garam memakan uang haram guna membujuk para pemain yang lebih muda untuk ikut terlibat.
Menilik pengakuan Rukma itu, maka benarlah yang dikatakan Declan Hill dalam bukunya The Fix: Soccer and Organize Crime. Hill juga mengatakan hal yang kurang lebih sama. Jika Rukma menggunakan istilah “makelar” untuk para perantara, Eropa mengenalnya dengan istilah “fixer”.
Rukma sendiri menyangkal jika dianggap setiap pertandingan di era itu sudah diatur oleh mafia pengaturan skor. Dengan meyakinkan, Rukma mengatakan: “Kita memang pernah main dengan bandar, tapi kita main untuk bisa menang.
Terkait Skandal Senayan 1962, Rukma mengatakan bahwa dia dan rekan-rekannya yang kena skorsing sangat kecewa dan merasa ditumbalkan oleh pengurus PSSI. “Kenapa pemain yang hanya diselidiki, harusnya orang-orang di lingkaran luar baik itu pengurus PSSI maupun bandar dan petaruh juga diselidiki,” keluhnya.
Keluhan Rukma ini menegaskan sekali lagi bahwa memang bukan PSSI yang memeriksa dan membongkar kasusnya. Skandal Senayan 1962 ini dibongkar lewat penyelidikan yang dilakukan oleh KOGOR yang didominasi oleh orang-orang militer, bukan PSSI. Salah satu tokoh KOGOR adalah Maulwi Saelan, kiper Timnas Indonesia abad pertengahan yang juga menjadi pelapor Skandal Senayan ini.
Toh, karier Rukma dan 9 pemain yang diskorsing seumur hidup itu tidak habis. KOGOR Pusat akhirnya membebaskan para pemain yang terlibat “Skandal Senayan” itu dengan beberapa syarat, antara lain mengakui secara tertulis kesalahan yang diperbuat terhadap negara dan janji tidak akan melakukan perbuatan yang sama. Rukma dkk. juga harus menjalani masa percobaan Juni sampai Desember 1963. Pengurangan hukuman itu jelas terkait persiapan timnas menghadapi Ganefo, pesta olahraga negara-negara kiri yang diinisiasi oleh Presiden Soekarno.
Ganefo, Alasan di Balik Pengurangan Sanksi
Skorsing seumur hidup terhadap Ramang dan Noorsalam dari PSM serta 3 pemain PSIM di tahun 1961 juga akhirnya dikurangi. Skorsing seumur hidup terhadap Rukma dan 9 rekannya di Skandal Senayan 1962 juga akhirnya direvisi. Tapi setidaknya, di masa lalu, mafia pengaturan skor pernah diselidiki dan berhasil dibuktikan dan bukan sekadar omong-omong serupa gosip seperti di zaman sekarang. Salah satunya lewat pengakuan pemain yang terlibat.
Penutup
Ratusan laga di seluruh dunia dicurigai terlibat dalam skandal pengaturan skor yang di organisir oleh bandar judi asal Singapura. Apakah anda sadar dengan kata-kata barusan ? dari Singapura, negara tetangga kita yang jaraknya tak lebih dari setengah jam dari Batam menggunakan speed boat.
Liga Champions saja berhasil disusupi, apalagi Liga Indonesia yang setengah amatir ini ? anda jangan tertipu dengan statement awam bahwa bandar judi besar hanya tertarik pada laga-laga besar. Opini itu salah besar ! Justru mereka sangat tertarik menggarap partai-partai kecil. Alasannya simpel, liga milik negara yang belum teratur lebih mudah disusupi dan calon penerima suap lebih mudah menerima deal dengan alasan standar gaji yang masih minim. Hukumannya pun manim dan lebih-lebih pencegahannya tak terlihat sama sekali.
Tak heran, bahkan laga Divisi Satu Liga Indonesia yang tak kita perhatikan justru menjadi sasaran empuk para cukong-cukong bola. Kurang seriusnya PSSI dalam mengantisipasi suap (padahal sudah mendarah daging dan menjadi rahasia umum), profesionalisme yang tanggung, kepengurusan yang amburadul, banyaknya kepentingan diluar sepak bola sampai pada rendahnya standar gaji bisa menjadi alasan yang tepat menggambarkan betapa sebenarnya Indonesia menjadi lahan subur untuk suap.
Berkaca saja dalam kasus suap “Skandal Senayan”. Rp 25/hari bagi setiap pemain ketika dipanggil jelas menjadi angka yang miris sebenarnya jika dibandingkan tugas mereka yang membawa panji merah-putih. Tapi, jika hendak dibandingkan, gaji pegawai negeri saat itu paling rendah adalah Rp 300 per bulan. Jadi, dalam 12 hari saja pemain sudah menerima uang saku sebesar gaji paling rendah pegawai negeri saat itu.
Uang saku Rp 25 per hari itu memang tidak bisa dikatakan besar, tapi tentu berlebihan jika dibilang hanya cukup untuk membeli semangkuk bakso seperti yang dikeluhkan Wowo. Apalagi semua dari pengakuan tersebut, para pemain Timnas tidak jarang ikut terlibat dalam judi Toto. Bukankah itu ironi ketika mengatakan uang saku pemain begitu tipis namun di sisi lain tetap ketagihan berjudi ? Saya bukannya mau menuduh pemain yang maruk akan uang. Urusannya bukan lagi kesana, tapi muaranya adalah PSSI yang tidak pernah serius untuk menindak tegas dan mencegah suap yang terjadi berulang.
Bahwa semua penyelidikan dan skorsing Skandal Senayan itu dilakukan oleh klub dan KOGOR, bukan oleh PSSI, menegaskan bukti bahwa sejak dulu PSSI memang mandul dalam soal aib yang satu ini.
Silahkan jika teman-teman berkenan untuk melakukan analisa sesuai topik ini di form komentar. Terima kasih sudah mampir untu membaca.
Referensi : wikipedia, detik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar