Selasa, 21 April 2015

Menyibak Reklamasi Punk ala Antiphaty

Oleh:
Samack

Menyibak Reklamasi Punk ala Antiphaty Kredit foto: Dok. Antiphaty
Ketika anda membaca tulisan ini, kemungkinan besar Antiphaty sudah kembali menginjakkan kaki di tanah air dan melanjutkan tur ke berbagai kota di Indonesia. Kemarin, band punk rock kugiran asal kota Malang ini baru saja tampil di Singapore (17/01), Batu Pahat (18/01), dan Kuala Lumpur (22/01). Rangkaian tur lintas tiga negara – Singapore, Malaysia dan Indonesia – yang bertajuk Desire Tour 2015 tersebut menyambangi total 24 kota di tiga negara.

Desire Tour 2015 merupakan proyek tur masif yang dikelola secara mandiri oleh Antiphaty dengan dibantu oleh relasi dan kolega mereka sebagai show/gig organizer di berbagai daerah. Tur ini juga 'sepaket' dengan perilisan album terbaru mereka yang bertitel Up The Punk (Raw Tape Records) yang sementara ini masih berada di dalam tas ransel mereka dan dipasarkan sendiri sembari tur di kota-kota yang dikunjungi.

Bersama sekantong kaos merchandise Antiphaty, CD album Up The Punk itu menjadi modal dan bekal utama mereka selama di perjalanan. Untuk mendanai tur dan menyambung hidup sementara di perjalanan, sambil menyimpul jaringan-jaringan komunitas scene underground-punk di berbagai daerah. Yang paling mengejutkan (juga menjengkelkan), semua karya tersebut – album baru, tur masif dan merchandise – merupakan murni hasil kerja keras Antiphaty yang telah disiapkan secara 'diam-diam' dan tanpa gembar-gembor sebelumnya.

Ya, tidak pernah ada kabar dan informasi sebelumnya. Bahkan sekedar isu maupun desas-desus tidak sekalipun mampir selewat di telinga teman dan fans mereka di kotanya. Layaknya band underground Malang yang sudah beranjak 'tua', Antiphaty selama ini dianggap 'diam' dalam kondisi nyaris vakum. Lama tidak rilis rekaman dan hanya sesekali manggung kalau diundang. Namanya sudah jarang disebut dalam hingar-bingar kancah musik rock-independen di kota Malang, apalagi di luar kota.

Hingga, suatu hari di awal bulan Januari 2015, tiba-tiba saja mereka mengumumkan semua kejutan itu secara sekaligus. Melalui akun Facebook dan Twitter, Antiphaty mendeklarasikan album baru dan tur yang masif. Secara bertahap mereka langsung mengunggah e-flyers yang memuat ilustrasi sampul album, titel, tracklist, jadwal tur, beragam desain merchandise, hingga video teaser. Sialan. Sungguh, ini band yang brengsek. Diam-diam, mereka merencanakan teror yang tidak terendus oleh khalayak. Tidak banyak omong. A great comeback! 

Dari Mana Kord-Kord Tajam itu Berawal

Delapan belas tahun yang lalu, tepatnya bulan Februari 1997 di kota Malang, tersebutlah dua nama personil kelompok punk No Man’s Land, Catur Guritno dan Feri, yang mulai intens bergaul dengan Eko (drummer Keramat) dan adik kandung Feri, Arthur. Empat anak muda itu sedang mengagas sebuah konspirasi maut yang ingin memainkan musik punk dalam bentuk yang lebih cepat dan keras. Ya, hanya sesimpel itu awalnya. Band ini mereka kasih nama singkat dan cukup keren; Antiphaty.

Hari-hari berikutnya, mereka mulai menulis musik dan berlatih di studio. Musik Antiphaty agak mengarah pada corak crusty-punk seperti yang dimainkan The Exploited atau Chaos UK. Unsur lain seperti rock, hardcore, bahkan metal juga disertakan untuk menambah variasi musik mereka. Sebuah keputusan yang cukup berani kala itu. Mengingat di jaman tersebut, band-band punk rock lokal masih didominasi oleh irama punk yang tradisional dan sedang tergila-gila pada Sex Pistols, NOFX, Rancid, atau Bad Religion. Sementara Antiphaty tetap ngotot pada seleranya, menulis musik crusty-punk yang belum begitu populer di telinga publik underground. 

Kemunculan Catur dkk tentu membawa nuansa baru dalam khazanah musik punk di kota Malang. Hampir setiap pekannya, mereka rutin berlatih di Centra, sebuah studio musik legendaris yang juga ikut membesarkan Keramat, Sekarat, Bangkai, Perish, dan banyak band lokal lainnya. Beberapa panggung gigs underground juga mulai mereka jajal. Dari pengalaman pentas tersebut, Antiphaty menjadi semakin baik dan mulai meraih penggemar sedikit demi sedikit.

Sejak awal terbentuk, Antiphaty memang lebih tertarik untuk menulis lagu sendiri serta membuat karya rekaman. Mereka sepertinya enggan menjadi band cover dan kagok untuk menyanyikan lagu orang lain. Tidak lama setelah lagu-lagu terkumpul, Catur dkk langsung fokus pada proses rekaman untuk album perdana.

Akhirnya, Antiphaty berhasil merilis debut album yang bertitel W.A.R di awal tahun 1998. Album ini berisi lagu-lagu yang mengusung topik konflik sosial dan lingkungan. Catur yang menulis semua lirik-liriknya dalam bahasa yang lugas dan simpel, namun kadang terdengar sangat kasar. Rilisan berformat kaset dan hanya dicetak terbatas itu langsung menjadi terobosan penting bagi karir bermusik Antiphaty.

Sayangnya, tidak lama Feri dan Arthur memutuskan keluar dari Antiphaty untuk lebih menekuni pekerjaannya. Catur dan Eko lalu menarik beberapa orang pilihan untuk memperkuat barisan mereka. Di antaranya ada Antok Celeng, seorang pemuda yang pantas disebut natural-born-punkrocker untuk mengisi posisi bass. Antok Celeng adalah orang yang sama yang juga menjadi gitaris di Begundal Lowokwaru hingga hari ini.

Pada tahun 1999, Antiphaty bergabung dengan label Confuse Production dan merilis album kedua yang bertitel Undercontrol. Album ini dikerjakan di studio Kangean hanya oleh tiga orang personil saat itu, Catur (vokal/gitar), Eko (drum) dan Antok (bass). Secara umum, materinya tidak jauh berbeda dengan debutnya. Punk rock yang digeber kencang, intens dan to-the-point. Di bawah label Confuse Production, Antiphaty ditarik juga untuk mengisi proyek split-tape dengan Extreme Decay yang dikasih titel For Freedom.

Antiphaty juga sempat terlibat dalam beberapa proyek split dan kompilasi hingga taraf internasional. Seperti misalnya split-tape dengan band asal Singapura, Depress, yang dirilis oleh Broken Noise Records (S’pore). Kemudian mengisi kompilasi Saudara Sebotol (Raw Tape Records), serta mengisi album kompilasi Tribute To Terrorizer (Edelweiss Records) lewat lagu cover “Corporation Pull In”.

Kemudian terjadi reformasi lagi di jajaran personil Antiphaty. Masuk tambahan dua tenaga baru, gitaris Yoyok (eks Horrid Truth) dan Wawan (eks Rotten Corpse / Adzab). Line-up ini yang kemudian sering dibilang sebagai formasi terbaik dan tersolidnya Antiphaty. Mereka berlima mulai bekerja keras dan menikmati masa-masa 'kejayaan' Antiphaty dalam berbagai pentas musik.

Nama mereka mulai disegani oleh komunitas punk di negeri ini. Jadwal manggung Catur dkk semakin padat. Mereka tampil rutin di Malang, sampai diundang manggung ke Bandung, Surabaya, Kediri, Blitar, Jogja, dan Denpasar. Antiphaty mulai berhasil merangkai penggemar fanatik di wilayah Jawa dan Bali. Catur sendiri bahkan memutuskan keluar dari band lamanya, No Man’s Land, agar bisa fokus dan berkonsentrasi penuh pada Antiphaty.

Memotret Kondisi Skena Lokal Pada For The Scene

Pada tahun 2000, Antiphaty merilis album bertitel For The Scene (Raw Tape Records). Album ini bisa dikatakan album terbaik mereka. Catur dkk berhasil meramu musik punk yang lebih cepat, bertenaga dan memiliki corak khas. Di album ini mereka mulai merambah irama swedish punk, memainkan irama yang crusty, plus hook-hook metal yang kental, serta soundscape yang rusuh dan distortif.

Konon menurut pengakuan mereka, titel For The Scene itu sengaja diambil dari judul album For the Punks milik The Casualties. Karya ini bisa disebut sebagai album konsep karena mengusung tema utama seputar kondisi scene musik dan komunitas underground-punk di kota Malang. Catur menulis semua liriknya dalam kalimat-kalimat yang jujur, terbuka, dan tetap sarkastik. Semuanya dibangun dalam bahasa yang kritis dan konstruktif, dan jauh dari kesan menggurui. Hampir semua lirik lagu di album itu terinspirasi dari segala stori dan suka-duka yang mereka alami di lingkungannya. Boleh dibilang, For The Scene adalah potret yang paling aktual dari kondisi scene bermusik di kota Malang saat itu.

Meskipun dirilis dalam jumlah dan distribusi yang terbatas, For The Scene berhasil mendapat respon yang cukup baik dari penggemar musik cadas di tanah air. Sejumlah nomor seperti “Mati” atau “Pahlawan Bertopeng” berhasil menjadi favorit di kalangan fans Antiphaty. Saat itu bahkan ada yang berani menyebut For The Scene sebagai album punk yang visioner. Berisi kumpulan karya musik yang belum terpikirkan oleh band lokal sejenis dan bisa menginspirasi wujud musik punk di era selanjutnya. 

Memang faktanya sejak For The Scene, entah kebetulan atau tidak, musik punk di tanah air tidak pernah sama lagi. Mulai marak band-band yang memainkan musik serupa. Punk rock yang dicumbui oleh hardcore dan metal, plus variasi di sana-sini. Diikuti dengan idiom yang kemudian bermunculan crusty-punk, swedish-punk, D-Beat, thrash-punk, hardcore-punk, dan sebagainya. Sekedar catatan, saat itu musik Jeruji atau Keparat belum sekeras sekarang, dan Inlander masih belum ada.  

Ironisnya, segala stori suka dan duka di dalam scene dan komunitas yang jadi tema utama album terakhir mereka malah bikin Antiphaty mulai goyah. Puncak kegalauan itu akhirnya meletup dalam diri sang frontman, Catur Guritno. Sekembalinya dari konser For The Scene di Denpasar, tiba-tiba ia memutuskan untuk berhenti dari Antiphaty. Catur lalu menekuni usaha clothing line-nya yang berlabel Unscarred, sambil menerima order desain dan sablon konveksi, serta tergila-gila dengan hobi sepeda ekstrim BMX.

Spike dan Boot Yang Tergantung di Rak Milenia Ketiga

Pada awal era 2000-an, scene musik di Malang memang cenderung sepi dan menurun produktifitasnya. Berbagai band mulai dihinggapi masalah internal, vakum bahkan bubar. Label rekaman, fanzine dan organiser gigs mulai redup serta menghentikan kerjanya. Otomatis tidak banyak karya yang benar-benar menarik pada jaman itu.

Begitu juga yang sempat dialami oleh Antiphaty sepeninggal Catur, band ini sempat shock dan mati rasa. Setelah masa hiatus beberapa saat, Eko dkk mencoba tetap bertahan dengan sisa personil yang masih ada. Gitaris Yoyok langsung dimutasi untuk mengisi posisi vokalis. Johan (Keramat) sempat dipanggil untuk mengisi sektor gitar. Beban yang sangat berat tentu ada di pundak Eko dkk untuk melanjutkan eksistensi Antiphaty. Apalagi, Catur sempat berpesan pada mereka, “Jangan bubarkan Antiphaty. Terusin aja. Aku support dari belakang!”

Eko dkk akhirnya tetap menulis lagu dan berlatih di studio, meski tidak se-intens dulu. Enerjinya tampak berbeda. Antiphaty hanya kebagian beberapa undangan gigs lokal, seperti Hardcore Attack dan jadi pembuka konser Ingrowing (Ceko). Namun aksi panggung mereka sudah tidak setangguh dahulu. Kejadian ini tidak sesimpel band yang kehilangan vokalis, tetapi juga absennya seorang frontman. Menurut teman-teman dekatnya, ada yang hilang dan itu hanya ada pada diri seorang Catur Guritno.

The Exploited dan Titik Balik Antiphaty

Pertengahan tahun 2006 silam, organiser gigs Kolektif Radiasi mendapat tawaran dari (almarhum) Robin Hutagaol untuk memproduksi konser The Exploited (UK) di Malang. Saat itu pikiran mereka langsung tertuju pada Antiphaty dan Catur Guritno. Dua nama itu harus bisa disandingkan dengan legenda punk/crust Inggris yang jadi inspirator dan influens penting di awal karir Antiphaty.

Tampaknya ini momen yang paling tepat untuk 'mengawinkan' mereka kembali. Eko, Yoyok, Wawan dan Antok menyatakan sangat antusias dengan rencana ‘mengembalikan’ Catur ke Antiphaty. Minimal sebagai pertunjukan spesial untuk satu kali penampilan membuka konser The Exploited. Kalaupun ternyata 'reuni' tersebut berhasil dan mereka tetap bersatu, itu malah jauh lebih baik lagi.

Waduh, aku wes gak kuat nyanyi punk-punk-an rek!” begitu alasan Catur sambil tertawa ketika ditawari untuk balik ke Antiphaty dan membuka konser The Exploited. Berbagai pihak mulai dari personil band, panitia acara, sahabat sampai orang-orang terdekatnya terus memaksa Catur untuk kembali. Mulanya Catur bilang mau masih pikir-pikir dulu. Sampai akhirnya, dengan suara pelan dan raut wajah pasrah ia pun menyerah, “Oke, aku coba deh…”

It's a big thing. Catur kembali berlatih bersama Eko dkk. Sebagai pemanasan menuju proyek utama, Antiphaty sempat main di acara Ontrant-Ontrant #4 bareng Jeruji, Disinfected, Begundal Lowokwaru. dll. Puncaknya seminggu kemudian, Catur dkk benar-benar beraksi di Dome UMM sebagai pembuka konser The Exploited. Mereka bermain apik dan prima. Ribuan crowd bersuka ria dan menyambut antusias. Antiphaty telah kembali. Ternyata tidak sia-sia ‘memulangkan' Catur ke rumahnya. Misi suci itu telah berjalan baik, bahkan sempurna.

And the rest is history...

Mereklamasi Punk Sebagai Ancaman (Kembali)

Up The Punk adalah album penuh Antiphaty semenjak For The Scene yang dirilis lima belas tahun lalu. Itu tanpa menghitung proyek split-tape We're Here To Murder You bersama Error X (Jakarta) yang baru dirilis Playloud Records, tahun lalu. Sejatinya, materi lagu untuk Up The Punk sudah ditulis sejak lama dan sempat direkam sekitar 5-6 tahun yang lalu. Saya masih ingat karena pernah mendapat materi demonya untuk preview di webzine Apokalip saat itu.

Tentu saja hampir semua 16 lagu yang ada di album Up The Punk sudah cukup dikenal oleh para fans Antiphaty. Nomor-nomor seperti “Anti Punk Fuck Off”, “Welcome Suckers”, “Destroyer” atau “Sampah Moral Busuk” bahkan sudah lama menjadi anthem di setiap panggung Antiphaty sebelum ada versi rilisannya.

Selain tetap menyuarakan tema-tema kritik sosial, Up The Punk yang dirilis sendiri lewat label Raw Tape Records itu juga soal keyakinan dan pilihan mereka untuk tetap bersikap di jalurnya, punk. Seperti upaya 'mengembalikan' musik punk yang tetap kritis, vokal dan tanpa kompromi. Ini adalah album yang siap menendang siapa pun yang berani bersikap kontra terhadap punk. Semacam pledoi keras bagi stigma negatif yang kadang masih melekat pada – musik, gaya hidup, atau komunitas – punk itu sendiri. 

Seperti misalnya, “Welcome Suckers” yang bermaksud merangkul mereka ke dalam satu lingkaran yang kuat, damai dan mandiri, “Welcome Suckers, welcome bastards / C'mon let's dance, breaking up / No more fight, no more riot / This is Punk!”

Atau lirik “Anti Punk Fuck Off” yang seperti mengacungkan jari tengah yang dimiliki kedua tangan tepat di depan wajah sang penghina, “Black boots, spiky hair / Bizzare life, I don't care / Let them say, the will hear / Anti punk fuck off!”

Ya, Antiphaty mengembalikan punk sebagai suatu ancaman. Dengan lirik-lirik setajam itu, anda tentu musti berpikir ulang kalau masih berniat membuat lelucon dungu, seperti “Punk Is Diet” atau “Punk Is Dad”, misalnya. Jangan. Jangan pernah dilakukan.

Langkah Terakhir ; Acungkan Jari Tengah!

Antiphaty sekarang adalah Catur (vokal), Yoyok (gitar), Antok (bass), dan Angga (drum). Ketiga nama yang disebut di awal sudah tidak begitu muda lagi. Mereka telah berkeluarga, memiliki anak, dan punya profesi tetap selain bermusik. Catur sudah menginjak usia 40, Yoyok dan Antok ada di penghujung akhir 30-an, hanya Angga saja yang usianya masih di bawah mereka bertiga. Tapi untuk menjadi punk tidak akan pernah mengenal usia jika itu sudah menjadi pilihan sikap, pola pikir dan gaya hidup mereka.

Kalau memang benar bahwa punk rock adalah gaya hidup, maka tentunya itu musti gaya hidup yang keras. Untuk hal itu, rasanya anda memang perlu belajar banyak dari Catur dkk. Sebab mereka telah menjalani suka-duka yang tidak biasa selama karirnya. Catur dkk telah merasakan seperti apa hidup di jalanan, hingga sempat berjaya dalam bermusik. Tahu rasanya dielukan dan dicaci maki. Pernah tegap berdiri bangga di atas boot, maupun dianggap sebagai sol boot itu sendiri.

Hingga hari ini, Antiphaty telah  jatuh-bangun dan eksis bertahan selama delapan belas tahun. Rasanya baru kemarin saya hadir dalam perayaan satu dekade Antiphaty di Delta Cafe Malang, yang ternyata itu tahun 2007 silam. Selama karirnya, Antiphaty sedikitnya sudah menghasilkan empat album penuh, tiga proyek split-tape, dua proyek kompilasi, serta pengalaman manggung yang tak terhitung. Di antara itu, ada banyak pengalaman baik nan berkesan serta pengalaman buruk nan menyakitkan yang hampir sama porsinya.

Sekarang, saya menunggu Antiphaty pulang ke Malang dengan membawa cerita-cerita menarik dan pengalaman yang baik dari perjalanan turnya kali ini. Jika karir mereka berhenti sampai di sini pun, rasanya saya sudah cukup rela. Tapi semoga saja tidak ada niat seperti itu. Sebab, kita masih sangat menikmati Antiphaty dan fans-nya yang selalu sigap mengacungkan jari tengah yang paling tinggi di setiap pertunjukan mereka. Dan kita sangat paham siapa saja pihak yang layak menerima simbol jari seperti itu.

Fuck You, Up The Punk!

*Sebagian data dan sumber tulisan berasal dari arsip artikel lawas tentang Antiphaty di Webzine Apokalip (2007-2010).
Revisi terakhir pada: 28 Januari 2015
 
http://www.jakartabeat.net/resensi/band/konten/menyibak-reklamasi-punk-ala-antiphaty 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar