Senin, 25 Mei 2015

Liga Indonesia Bank Mandiri 2003 PERSIK KEDIRI VINI VIDI VICI Nurdin Halid Ketua Umum 2003 - 2007

Minggu, 01 Desember 2013

Liga Indonesia Bank Mandiri 2003 PERSIK KEDIRI VINI VIDI VICI Nurdin Halid Ketua Umum 2003 - 2007



SUNGGUH memasuki lembaran yang cantik bagi sepak bola nasional. Karena untuk pertama kalinya, Agum Gumelar memberi nuansa yang sangat sehat dalam membangun sepak bola nasional. Setelah melakukan perdebatan panjang dan melelahkan. Kompetisi Liga Indonesia 2003, berlangsung melalui kompetisi penuh. 

Artinya, tidak lagi ada partai final, yang selalu berdampak jelek. Karena setiap ada partai menuju final, selalu dipenuhi pesta tawuran atau kerusuhan dan juga dipastikan merusak ruang-ruang publil milik masyarakat. Terobosan yang dilakukan Agum, sebenarnya, akibat akumulasi yang berkepanjangan, di mana setiap kompetisi sejak ‘perkawinan’ Galatama dan Perserikatan dilakukan melalui partai 8 Besar atau 12 Besar, semi final hingga partai puncak – final. Agum pantas diacungi jempol.

Seperti sudah menjadi tradisi, bahwa pertandingan perdana selalu akan dimainkan oleh sang juara bertahan. Tim Petrokimia Gresik diawal partai mampu memenuhi ambisinya menundukkan tim tamu, PSIS Semarang, 2-0 (1-0), dalam pertandingan perdana Liga Bank Mandiri 2003 (IX) di Stadion Petrokimia Gresik, Minggu 12 Januari. Kemenangan tim yang berjuluk "Kebo Giras" itu diciptakan lewat duet striker, Jainal Ichwan di menit ke-16 dan sundulan Widodo C Putra di menit ke-55.

Ada yang terasa unik dalam kompetisi Liga Indonesia 2003 ini yaitu hadirnya Persik Kediri. Tim ‘kampung’ ini sebetulnya tim promosi, setelah meraih gelar juara Divisi Satu musim 2002. Tampil sebagai pendatang baru di kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia musim 2003, target utama Persik Kediri pun tidak muluk-muluk. Jangan sampai kecebur kena degradasi atau istilahnya hanya numpang lewat di Divisi Utama.

Karena tim berjuluk ‘Macan Putih’ ini sadar betul, banyak tim kuat yang memiliki peluang lebih besar untuk mendapat takhta juara Liga Bank Mandiri 2003. Menjelang akhir perjalanan, ketika kemenangan demi kemenangan dicapai dan posisi puncak klasemen bisa diraih, target pun berubah. Tidak tanggung-tanggung pula, tim yang tidak pernah terkalahkan saat main di kandang ini mencanangkan gelar juara sebagai targetnya. Bahkan, diam-diam seperti menyimpan ‘Napolean Bonaparte’ yang terkenal dengan istilah Vini, Vidi, Vici yang artinya, Datang, Bertanding dan Juara.

Dengan modal kekompakan seluruh anggota tim, gelar yang diidam-idamkan itu akhirnya diperoleh hari Rabu, 10 September, ketika Persik mencatat kemenangan penting dengan mengalahkan Persib Bandung, 4-0. Sukses atas Persib juga mengantar tim tersebut menjadi juara Liga Bank Mandiri 2003.

Bagi Persikmania, kemenangan menjadi sangat berarti karena diraih di kandang sendiri, Stadion Brawijaya, Kediri, Jawa Timur. Tidak ayal lagi pesta pora pun berlangsung di stadion begitu gelar juara dipastikan direbut. Sekitar 30.000 Persikmania yang menyaksikan langsung jalannya pertandingan di stadion tumpah ruah merayakan kegembiraan mereka di lapangan, di jalanan, dan seputar kota.

Di ruang ganti pemain, kapten tim Harianto, striker Musikan, Bamidele Frank Bob Manuel, dan kawan-kawan merayakan kegembiraan itu dengan saling menyiramkan air bersama sang pelatih Jaya Hartono, Ketua Umum HA Maschut, dan ofisial lainnya.

“Jangankan meraih gelar juara, membayangkannya saja saya tidak berani. Kami ini, kan, tim dari kampung. Tidak berani jika harus bersaing dengan tim-tim besar, seperti Persija Jakarta, PSM Makassar, dan Persita Tangerang," kata Jaya Hartono berkomentar soal gelar juara yang diraih timnya.

Memang, tidak ada yang menduga jika akhirnya tim "kampung" dari sebuah kota kecil di arah selatan Jawa Timur dengan luas sekitar 63,4 kilometer persegi itu akhirnya bisa menjadi juara Divisi Utama pada penampilan di musim pertamanya. Bahkan, klub besar seperti Persija Jakarta, PSM Makassar, dan Persita Tangerang tak mampu melakukannya, kecuali Persib Bandung. Itu pun dilakukan Persib hanya karena Liga Indonesia baru dilaksanakan pada pertama kalinya tahun 1995.

Status tim dengan warna seragam kebanggaan ungu-ungu sebagai tim kampung ini diakui secara blak-blakan oleh mantan bek kiri tim nasional Jaya hartono. "Kami memang tim kampung, tidak memiliki pemain-pemain bintang. Pernah pula suatu waktu para pemain merasa minder jika harus berhadapan dengan tim besar di sebuah stadion yang cukup ternama," papar Jaya Hartono.

PADA awal-awal keberadaannya, kiprah Persik yang berdiri tahun 1961 di dunia sepakbola hanya terbatas di pentas daerah, baik di wilayah Kediri maupun di Jawa Timur. Baru tahun 2001 Persik tampil di Divisi I Liga Indonesia setelah tahun sebelumnya bersaing di Divisi II. Penampilan cemerlang para pemainnya menjadikan kiprah klub ini tidak terlalu lama bersaing di Divisi I. Tahun 2002 Persik menjuarai Divisi I, yang merupakan tiket bagi mereka untuk berlaga di Divisi Utama.

Fenomena yang sudah diancang-ancang oleh kubu Persik Kediri adalah, agar mempersiapkan timnya yang benar-benar matang, agar tidak mengulang tim juara, kembali kena degradasi seperti yang pernah terjadi sebelumnya pada Persebaya Surabaya, PSIS Semarang, dan terakhir pada Petrokimia Putra Gresik.a)

Setelah persik Kediri juara. Komunitas sepakbola terutama pemilik klub dibuat gerah oleh manajemen PSSI. Jika secara teknis Agum Gumelar dinilai sangat sukses dan hebat saat memutuskan satu wilayah dengan sistem home and away, dan tak ada partai final. Namun, untuk urusan administrasi kepengurusan Agum Gumelar masih jeblok alias semrawut. Terutama soal pembagian jatah subsidi dari Bank Mandiri.

Klub-klub peserta kompetisi Liga Bank Mandiri 2003, menagih PSSI untuk segera melunasi utang subsidi yang mereka janjikan. Hal itu mereka sampaikan berkaitan dengan telah berakhirnya kompetisi pada pertengahan September lalu. Beberapa klub yang menyatakan bahwa subsidi yang dijanjikan PSSI belum sepenuhnya diterima adalah Persib Bandung, Barito Putra Banjarmasin, dan PSM Makassar. Dalam pernyataannya, Barito bahkan mendesak agar PSSI diaudit oleh lembaga independen.

Dari kubu Persib berteriak, dari sekitar Rp 300 juta subsidi yang dijanjikan PSSI di awal musim kompetisi, Persib baru menerima Rp 150 juta. Dari Kalimantan, Manajer Barito Putra Tomy Soekamto berharap, kekurangan dana Rp 205 juta yang belum dibayar PSSI pada Barito segera dilunasi sebelum kongres PSSI ke-33 yang berlangsung 19-21 Oktober. 

Pada musim 2003, Barito mendapat jatah subsidi sebesar Rp 425 juta. Namun, hingga kompetisi berakhir mereka baru menerima Rp 220 juta. Di samping utang Rp 205 juta pada musim kompetisi 2003, PSSI rupanya masih memiliki tunggakan Rp 40 juta kepada Barito untuk musim 2002. Dari PSM Makassar, Manajer PSM Sadikin Aksa menyatakan, pihaknya akan menagih utang PSSI itu secara tertulis. Karena ternyata PSSI masih mempunyai utang sekitar Rp 130 juta dari Rp 450 juta yang dijanjikan.

Atas tagihan peserta liga Indonesia, Sekretaris Jenderal PSSI Tri Goestoro menyatakan, PSSI tengah memproses pengambilan subsidi dari Bank Mandiri. "Sebab, sesuai kesepakatan, subsidi baru cair setelah kami mengirimkan laporan kepada mereka seusai kompetisi. Laporannya pun sudah kami buat," ujar Tri Goestoro

Subsidi yang diberikan pada klub adalah bagian dari dana yang diberikan Bank Mandiri kepada PSSI sebesar Rp 25 miliar. Sebelum kompetisi dimulai, Bendahara PSSI Irawadi Hanafi mengatakan, dana tersebut diberikan kepada tim peserta LBM dengan jumlah yang berbeda-beda. Tim di wilayah Jawa-Bali mendapat dana subsidi uang transport Rp 375 juta, wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi mendapat Rp 400 juta, dan dari Papua mendapat Rp 1,2 miliar.

Ribut-ribut masalah subsidi klub dari PSSI, di musim 2003 ini ditutup dengan kemenangan Nurdin Halid, saat terpilih menjadi Ketua Umum PSSI periode 2003-2007, menggantikan Agum Gumelar. Terpilihnya Nurdin sebagai ketua umum baru ini dipastikan setelah dia mengalahkan dua kandidat lainnya, Jacob Nuwa Wea dan Sumaryoto, dalam sebuah pemungutan suara tertutup pada Kongres Ke-33 PSSI, Selasa 21 Oktober 2003, di Hotel Indonesia, Jakarta.

Kemenangan Nurdin yang lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 17 November 1958, ini diperoleh dalam pemungutan suara yang dilangsungkan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, pukul 19.00-22.00, suara yang diperoleh Nurdin kalah tipis dari suara yang diperoleh Nuwa Wea. Dalam tahap pertama ini, Nurdin mendapat 131 suara, sedangkan Nuwa Wea memperoleh 134 suara. Kandidat lainnya, Sumaryoto, memperoleh 88 suara.

Oleh karena tidak ada satu kandidat pun yang memperoleh 50 persen ditambah satu suara, dari jumlah 359 anggota PSSI yang memiliki hak suara, pemilihan dilanjutkan pada tahap kedua. Pada tahap ini, Nuwa Wea dan Nurdin, dua calon yang memperoleh suara terbanyak, berhak dipilih lagi oleh peserta kongres yang hadir dari seluruh Indonesia. Calon lainnya, Sumaryoto, yang memiliki jumlah suara terkecil dinyatakan gugur. Pada tahap kedua, yang dimulai sekitar pukul 22.30, Nurdin unggul dengan memperoleh 183 suara, sedangkan Nuwa Wea memperoleh 167 suara. Satu suara lain, dalam pemungutan suara tahap kedua ini, abstain.


1.Persik Kediri 38 18 13 7 72-32 67 
2.PSM Makassar 38 18 8 12 68-48 62 
3.Persita Tangerang 38 16 14 8 47-33 62
4.PSS Sleman 38 16 12 10 48-43 60
5.Persipura Jayapura 38 17 7 14 66-51 58
6.Persikota Tangerang38 16 10 12 59-45 58
7.Persija Jakarta 38 15 10 13 59-46 55
8.Semen Padang 38 15 10 13 44-54 55
9.PSPS Pekanbaru 38 14 12 12 49-46 54
10.PKT Bontang 38 16 5 17 49-49 53
11.Persijatim Solo FC 38 14 11 13 47-47 53 
12.Deltras Sidoarjo 38 14 9 15 49-55 51 
13.PSIS Semarang 38 14 8 16 43-45 50
14.Pelita KS Cilegon 38 15 5 18 48-56 50
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
15.Perseden Denpasar 38 14 6 18 46-56 48 Playoff
16.Persib Bandung 38 12 9 17 35-48 45 Playoff
----------------------------------------------------------
17.Arema Malang 38 11 11 16 39-59 44 
18.Petrokimia Gresik 38 11 9 18 52-72 42 
19.PSDS 38 11 8 19 43-56 41 
20.Barito Banjarmasin 38 9 11 18 30-52 38 

TOPSKOR
31 Oscar Aravena (PSM Makassar)
29 Bamidelle Frank Bob Manuel (Persik Kediri) 
27 Christian Gonzalez (PSM Makassar)
24 Bambang Pamungkas (Persija Jakarta) 
21 Marcelo Braga (PSS Sleman), Musikan (Persik Kediri)
20 Camara Fode (PKT Bontang)
19 Budi Sudarsono (Deltras Sidoarjo)
18 Gendut Doni (Persikota Tangerang)
16 Kurniawan D.Y. (PSPS Pekanbaru), Julio Lopez (PSIS Semarang), Francis Yonga (Persikota Tangerang)
15 Ilham Jayakesuma (Persita Tangarng) 

PEMAIN TERBAIK
Musikan (Persik Kediri)

PELATIH TERBAIK
Jaya Hartono (Persik Kediri)

PLAFOFF
Persib Bandung, Persela Lamongan

DEGRADASI
Arema Malang, Petro Kimia Gresik, PSDS Lubuk Pakam, Barito Putra Samarinda

PROMOSI
Persebaya Surabaya, PSMS Medan

HADIAH
Persik Kediri Rp 500 juta
PSM Makassar Rp 250 juta
Pemain terbaik Rp 60 juta
Topskor Rp 50 dan Sepatu Emas


 Disadur Dari :  https://www.facebook.com/pages/Cocomeo-News/147995238566016 ( Thanks om Toro)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar