Selasa, 17 Maret 2015

1 Dekade American Idiot: Kisah Dibalik Munculnya Album Punk Rock Terheboh dan Terburuk

Andaikata sesi rekaman Cigarettes And Valentines tak hilang, mungkin American Idiot takkan pernah ada. 10 tahun yang lalu, tepatnya di pertengahan 2004, Green Day merekam semuanya dengan serba cepat. Sadar bahwa sesi rekaman sebelumnya hilang, mereka menulis ulang part-part lagu baru yang kebanyakan terdiri dari bagian-bagian pendek untuk kemudian menyatukannya kembali menjadi satu album punk rock paling signifikan.

Kejutan demi kejutan hadir pasca album itu dirilis. Tahun 2005, American Idiot masuk nominasi dan menjadi album punk pertama yang memenangkan Grammy Award; menerima 'Kids Choice Award' dan banyak penghargaan lain sampai beberapa kali masuk dalam jajaran album terbaik versi media musik ternama. Tak perlu diragukan lagi, memang album tersebut diyakini jadi salah satu album pemberontak bersejarah baik bagi punk rock juga Green Day. Namun disaat yang bersamaan, hujatan pun datang bertubi-tubi pada mereka; Media besar seperti Rolling Stone, The Guardian, Slant Magazine hingga Robert Christgau dari The Village Voice mengkritik habis-habisan yang menilai album tersebut sangat biasa dan berantakan dengan konten sosial politiknya yang kaku, ditambah lagi style gothic ala Billie Joe cs yang kini masih dipertahankannya.

American Idiot adalah sebuah album konseptual dengan lagu yang seluruhnya saling terkait. Menceritakan seorang junkies pinggiran kota dalam perjalanannya menemukan jati diri. Album ini meramu 13 lagu di mana hampir seluruhnya kental menggambarkan keadaan sosiopolitik. Seperti sebuah opera post punk yang siap ledakkan granat di muka kalian, single pertama American Idiot;  adalah jari tengah pada Bush dan busuknya korporasi media. “Don’t wanna be American Idiot!” –tidak banyak yang bisa mencipta lirik sevokal ini; seperti God Save The Queen-nya Sex Pistols versi millennium. Jesus Of Suburbia; sebuah medley punk gila-gilaan berdurasi 8 menit lebih hingga Boulevard Of Broken Dreams, track favorit anak-anak penggemar Nickelodeon, tentang kesepian dan menyusuri jalan seorang diri. Jangan kaget jika lagu ini meledak sedemikian luas karena ini adalah lagu pop. Homecoming; 9 menit 20 detik, eksplorasi mati-matian. Seluruh personil all-out sampai Tre Cool pun juga ikut bernyanyi. Sampai pada hits dengan emosi paling intens, Wake Me Up When September Ends: bahwa punk juga bisa sesedih ini.

10 tahun yang lalu, sulit dipercaya band pinggiran kota yang memulai segalanya dengan bermain di gigs-gigs kumuh sambil sesekali berpesta ganja dan menenggak alkohol dapat masuk dalam nominasi Grammy. Sulit juga dipercaya bahwa band yang awalnya merekam demo indie hanya dengan tiga chord dan nyaris tanpa skill yang muluk-muluk akhirnya dapat mengangkat piala Grammy. Green Day dan American Idiot adalah sebuah bukti nyata bahwa passion, kerja keras dan konsistensi pada akhirnya mampu membawa siapapun pada keberhasilan. Meskipun banyak yang menghujat dan tidak sedikit fansnya hilang, namun fakta tetap berkata lain; American Idiot berhasil terjual hingga 15 juta kopi dan membuat Reprise Records makin menganakemaskan mereka.

Satu Kompilasi Konyol Untuk 1 Dekade American Idiot

Kompilasi bertajuk Kerrang! Does Green Day’s American Idiot menjadi peramai euforia 1 dekade album yang rilis 20 September 10 tahun lalu. Sayangnya, album ini seperti layak menemani album terkonyol Justin Bieber. Album tribute yang biasanya menawarkan kesegaran justru malah terdengar asal-asalan.

Terdengar lucu saat track American Idiot di cover oleh 5 Seconds Of Summer dengan gaya vokal remaja tanggung yang seperti baru belajar mengacungkan jari tengah, George W. Bush dipastikan akan terpingkal mendengar aksi band ini. Jesus Of Suburbia bukan lagi menjadi lagu terbaik Billie Joe dkk, tapi tak lebih dari sekadar materi percobaan band bernama Rise To Remain yang baru selesai bermain ayunan. “I don’t care if you don’t care,” lirik anthemic di lagu itu secara mengejutkan berubah menjadi super-aneh ketika dibawakan dengan growl setengah hati.

Irama modern rock gencar dimainkan The Blackout pada track Holiday yang dengan seenak udelnya menggubah intro legendaris dengan harapan memberi warna baru justru membuat permainan mereka terdengar amat dipaksakan. Boulevard Of Broken Dream adalah Boulevard Of Broken Song ketika dibawakan dengan tempo tak teratur dan acak-acakan oleh Neck Deep. You Me At Six yang diharap mampu memberi nuansa segar kerena mempunyai nama yang lebih familiar dibanding lainnya ternyata juga lebih mirip peserta American Idol yang tereliminasi saat membawakan Are We The Waiting. Begitu pula Bowling For Soup dalam St. Jimmy yang memainkannya seperti backsound program komedi. Give Me Novacaine yang dipilih Escape The Fate juga tak melampaui ekspektasi sedikit pun. Kekonyolan lain turut dimainkan Falling In Reverse yang meneriakkan hits pemberontakan She’s A Rebel dengan gaya vokal layaknya bocah yang sedang masturbasi tapi tanpa ejakulasi.

Tampilan tak penting makin terasa saat Frank Iero, mantan gitaris My Chemical Romance membawakan Extraordinary Girl dengan paduan musik disko samar serta remix yang kurang berbakat: memperburuk gendang telinga yang sudah enggan meneruskan ke track-track selanjutnya. Sempat tertarik untuk mendengar Welcome To Paradise dan Basket Case dari album Dookie sebagai bonus track, tapi nyatanya percuma. Secara keseluruhan apresiasi yang coba diberikan oleh Kerrang! rasanya seperti memperburuk suasana 1 dekade yang harusnya lebih manis tanpa kompilasi ini. Hiburan konyol, punker medioker era pop You-Tube yang mencoba meniru band punk rock terbesar di dunia, Life’s Not Too Loud, Kerrang!

http://www.ronascent.biz/2014/07/10-tahun-american-idiot-kisah-dibalik_11.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar