Selasa, 17 Maret 2015

Devadata 'Antara Stabilitas, Mobilitas dan Integritas'

Tingkat eksistensi yang mereka capai terbilang tidak berlebihan, mereka cenderung tidak selalu absen di semua gigs lokal terutama di kota asalnya, Surabaya. Menilik dari hal tersebut bukan berarti mereka cenderung pasif, melainkan lebih kepada menjaga intensitas perfromanya supaya tidak mudah diacuhkan para penikmatnya.
Devadata, publik Surabaya mungkin sudah sangat mengenal kuartet hardcore new school yang terbentuk pada 10 Maret 1998 ini. Nama mereka sudah diperhitungkan di lebih dari satu dekade sejak Devadata terbentuk. Lahir di era rock 90an, Devadata coba membesarkan namanya dengan mungusung genre hardcore style old school-new school yang banyak terpengaruh oleh musik-musik seperti Pantera, Sepultura, Rykers, Hatebreed, Snapcase hingga Sick of it All. Memang bukan yang pertama, tapi musik yang mereka tawarkan saat itu langsung mampu menarik perhatian publik.
Hingga saat ini memasukki tahun 2013, kuartet yang beranggotakan Bodhas (vokal & gitar), Ronald (gitar), Roy (bass) dan Dandu (drum) ini genap menginjak usianya yang ke-15. Sampai saat ini pula loyalitas mereka masih tetap terjaga dalam bermusik walaupun sempat mengalami pergantian personil serta 'dehidrasi' karya karena kesibukan masing-masing personil. Oleh karena itu kami mengambil tiga sisi yang paling menarik dari Devadata, yakni stabilitas, mobilitas dan integritas.

Point pertama ialah 'stabilitas', dalam kurun waktu 15 tahun Devadata telah mengolah lagu demi lagu yang tetap paten pada jalurnya, Hardcore New School dengan sedikit asahan Trash Metal tanpa ada perubahan yang signifikan. Secara generalisasi, Surabaya merupakan kota yang ekstrim dalam perubahan siklus musik di tiap tahunnya. Hip-Hop, Ska, Punk, Hardcore, Metal silih berganti memainkan peran sebagai trendsetter di kota pahlawan tersebut namun Stabilitas yang dimiliki Devadata membuat mereka semakin kokoh dengan konsep utamanya, hardcore.

Berikutnya ialah 'Mobilitas', akhir tahun lalu tepatnya bulan November, Devadata sukses mengadakan tur empat hari di Malaysia bersama Carnivora (Thailand), Wynken Delirium (Malaysia) dan Fear The Setting Sun (Australia). Devadata-pun mengakhiri hajatannya di Malaysia dengan respon yang cukup baik dari para penontonnya disana yang secara tidak langsung membawa mereka tembus untuk ikut meramaikan event tahunan 'Bandung Berisik'. Sedikit catatan, event 'Bandung Berisik' pertama kali digelar pada tahun 1995 dan Surabaya baru satu kali mengirimkan wakilnya disana, yakni Retribeauty pada tahun 1997. Praktis, Devadata menjadi wakil dari Surabaya kedua setelah hampir 18 tahun nihil.

Berawal dari ketertarikan manajemen Burgerkill kepada band yang sukses melejitkan single JTA ini, Devadata akhirnya dengan mulus menjadi line up untuk Bandung Berisik 2013 yang akan digelar 13 April mendatang di stadion Siliwangi, Bandung "Awalnya Manajemen Burgerkill yang ngehubungin Bodhas untuk mengirimkan profil Devadata ke mereka" ujar Dandu ketika ditemui di Warung Klasik-nya.

Point terakhir ialah 'Integritas', dapat katakan demikian karena terlihat dari album-album yang telah mereka rilis, yakni ìShutdownî (1998) dan Emotional Breakdown (2006). Di dua album tersebut Devadata tidak banyak sekadar menyampaikan monolog atau kritik belaka justru mereka memaparkan kaleidoskop tentang realita di negara ini. Beberapa lagu Patriarki turut mewarnai kilas linimasa musik Devadata, seperti lagu penuh konflik 'Timor Leste', 'Duka Indonesia', 'Social Destruct', 'Harakiri' hingga 'Revolution'. Tidak berlebihan memang, karena sejak awal konsep lirik yang diangkat ialah tema sosial hingga problematika dalam dunia politik tanah air. Tidak berhenti disitu, sebuah single militan yang juga menjadi anthem bagi arek suroboyo ialah 'JTA'. Sebuah lagu umpatan yang bisa dibilang menjadi alat untuk melestarikan tiga umpatan terbaik milik Surabaya, yakni Jancok, Taek & Asu.

Pada dasarnya Integritas lebih condong berbicara mutu, dan hal tersebut sudah tidak perlu dibahas lagi karena mutu, kualitas dan kuantitas yang mereka miliki cukup kompeten dan layak menyandang sebagai band veteran di Surabaya dewasa ini. Permainan atraktif, sound yang membunuh, manajemen yang solid serta lagu yang cukup selektif dan emosional membuat Devadata selalu mendapat respon luar biasa dari para penikmat musiknya.

Devadata, salah satu band Surabaya dari generasi akhir 90an yang masih tetap eksis dengan karya-karyanya sekaligus menjadi saksi atas deklinasi merosotnya skena musik di Surabaya dengan kota-kota besar lainnya. Langkah Devadata yang stabil dengan mobilitas tinggi ini bisa menjadi gebrakan untuk mengembalikan paradigma yang selama ini dianggap sebagai 'kota konsumen'. Well, kalian bisa saksikan performa Devadata di Bandung Berisik bulan ini dan lihat bagaimana karakter mereka yang tidak jauh berbeda dengan line up lainnya.
 
 
http://www.ronascent.biz/2013/04/devadata-antara-stabilitas-mobilitas.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar