Kamis, 23 Juli 2015

Puasa dan Semangat Anti Kapitalisme

societe-consommation-keith-haring
‘societé consommation’ karya Keith Haring. Diambil dari : http://www.la-veilleuse-graphique.fr/
/1/Melampaui Ibadah Kalkulatif
Sebagaimana biasanya, Ramadhan disambut dengan suka cita. Pusat-pusat perbelanjaan disulap dengan nuansa Arabia. Televisi tiba-tiba dihiasi oleh artis berhijab dan berjubelnya ustad-ustad selebritis yang gemar mendakwahkan kesabaran sebagai kesiapan menerima kekalahan agar kita kekal dalam penderitaan. Berbagai cara dalam menyambut datangnya Ramadhan di satu sisi menunjukkan posisi penting Ramadhan dan puasa bagi umat Islam. Namun di sisi lainnya, penyambutan Ramadhan yang tidak tepat, salah satunya dengan meningkatnya konsumsi, tak bisa tidak tengah mengubur hakikat Ramadhan dan puasa itu sendiri.
Bagi semua muslim, Ramadhan merupakan bulan mulia penuh ampunan. Meski kadang-kadang dimaknai secara keliru dengan menganggap Ramadhan sebagai supermarket yang tengah menggelar promo besar-besaran. Siapa belanja banyak otomatis juga mendapat bonus banyak.
Memahami Ramadhan semacam itu tak pelak berpotensi besar mengeringkan mata air spiritualisme Islam beserta dimensi sosialnya yang luhur, dan menjadikan agama sekedar  kalkulasi untung rugi manusia dengan Tuhannya. Tentu tak ada larangan bagi siapapun memaknai agama dengan caranya masing-masing. Namun Islam bukanlah imannya para pedagang yang berpuasa hanya hanya karena ibadah tersebut wajib dan berpahala besar.
Keduanya memang tidak salah. Tapi justru dalam memaknai puasa secara imperatif dan kalkulatif,  jangan-jangan dengan puasa tersebut orang-orang beriman diam-diam tengah mempertontonkan egoisme dirinya dan sikap infantilnya dalam beragama. Karena toh ujung-ujungnya “kesenangan diriku” dan “kepuasan diriku” menjadi tujuan segala-galanya.
Apa yang seringkali dilupakan oleh umat Islam saat ini adalah pemahaman bahwa semua ibadah formal dalam Islam selain berdimensi ilahiah selalu pada dirinya berdimensi sosial. Dimensi ilahiah dan sosial semua ibadah formal dalam Islam bersifat embedded yang tak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Iman pada Allah (habl min Allah) tak bisa dipisahkan dengan hubungan sesama manusia dan pada alam (habl min al-nas wa habl min al-alam). Menghilangkan salah satu diantaranya sama dengan merobohkan semuanya. Dimensi sosial Islam terang dalam perintah  membayar zakat,[1] mengharamkan menimbun harta,[2] menganjurkan berinfaq,[3] mengharamkan berbuat riba,[4] dan mengharamkan monopoli.[4]
Ibadah puasa sendiri sesungguhya bukanlah khas agama Islam. Karena hampir semua agama memiliki tradisi puasa sebagai sebuah latihan untuk mengekang nafsu dan hasrat-hasrat rendah dalam diri manusia. Dalam Al-Qur’an diterangkan bahwa Maryam ibu Isa Al-Masih juga berpuasa (shawm), bahkan puasa untuk tidak berbicara kepada siapapun yang diperuntukkan sebagai cara menghindari hinaan masyarakat yang menuduhnya telah berbuat hina dengan melahirkan seorang bayi tanpa suami.[6]
Apa yang dilakukan Maryam dengan puasa untuk tidak berbicara, selain perintah Tuhan yang bersifat ilahiah juga berdimensi sosial agar ia terhindar dari cacian dan perdebatan yang sia-sia. Karena tidak semua hal dalam beragama bisa diperdebatkan dengan ukuran-ukuran manusia.
/2/Yang Ilahiah dan Sosial dalam Puasa
Berbeda dengan etika protestan yang oleh Weber dianggap menjadi faktor utama munculnya Kapitalisme di Eropa. Devosi keagamaan dalam ibadah puasa merupakan amalan yang sepenuhnya untuk Allah sekaligus untuk manusia. Seseorang menangguhkan kesenangannya demi cinta dan ridha-Nya. Puasa juga rahasia manusia beriman dengan Allah yang tak ada seorang pun bisa mengetahuinya. Kita bisa melihat seseorang meninggalkan makan-minum, tapi niat di hati hanya Allah yang mengetahuinya. Jadi, niat tulus dalam puasa menjadi laku singular seorang manusia beriman dengan Allah.
Mengapa Allah memberi perkenanan atau ridha manusia dengan puasa yang harus menanggung lapar, bukan dengan perbuatan atau kegiatan yang menyenangkan dan menggembirakan?
Pertama, Allah hanya memberi keutamaan manusia yang mampu mengimajinasikan kesempitan, kekurangan dan ketidak berdayaan orang lain. Tak ada keutamaan apapun, bahkan dalam kata-kata yang paling bijak dan indah sekalipun jika tak ada di dalamnya imaji akan penyelamatan yang mampu menjadi daya dorong untuk kemudian terlibat dan bergerak dalam agenda penyelamatan yang paling kongkrit. Di dalam Al-Qur’an pembukaan juz 4 Allah mengatakan: “Engkau sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (keutamaan yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang engkau cintai.”Tanpa pengorbanan atas yang lain yang lemah atau teraniaya, maka tak ada setitikpun keutamaan. Jadi, hanya dengan pengorbanan atas yang lain lah Tuhan memberikan ridha-Nya.
Kedua, melalui perintah puasa—sebagai percobaan—kita benar-benar diperkenankan untuk mengindahkan kebenaran. Karena faktaya, meski kita telah mendengar perintah“Wala tufsidu fi al-ardi ba’da islahiha” yang berarti Allah melarang umat manusia untuk berbuat kerusakan di atas bumi, baik sedikit maupun banyak, seringkali kita mengabaikannya. Wahbah Zuhayli mengatakan bahwa manusia harus menggunakan haknya sesuai dengan perintah dan seizin syara’ (aturan agama). Maka dari itu, ia tidak boleh menggunakan haknya dengan cara yang menimbulkan mudarat (kerusakan, kerugian, bahaya) bagi orang lain, baik secara individual maupun secara komunal, baik dilakukan dengan sengaja atau tidak.[7] Dengan demikian jika masih ada kaum beriman yang menganjurkan individualisme, membela mode produksi kapitalis yang tidak berkeadilan maka sesungguhnya ia tengah membuat kerusakan di muka bumi.
Seorang ulama, Ibn Qayyim al-Jauzi dalam kitabnya Zad al-Ma’ad fi Huda Khair al-Ibad [8] menjelaskan bahwa yang dimaksud puasa tak lain adalah menahan syahwat dan menundukkan nafsu dari sesuatu yang disenanginya. Dengan demikian, menahan lapar dalam puasa merupakan percobaan untuk berani mengingat dan menanggung derita saudaranya yang miskin, papa dan teraniaya, mendisiplinkan tubuh dari jejaring kapitalisme yang menjalar-jalar dalam kesadaran kita agar tidak terus mengkonsumsi banyak hal yang bisa merusak kehidupan dunia dan akhirat. Puasa merupakan jalan para muttaqin (orang-orang bertaqwa) untuk diri kepada Allah (taqarrub ila Allah). Melalui puasa tubuh dan jiwa dijaga dari hal yang dapat mendegradasi kualitas jiwa. Puasa juga mampu menjadi penawar dari keserakahan yang tak tertanggungkan.
Puasa jika dijalankan dengan benar akan mampu melatih sifat ihsan seseorang, yaitu tingkatan spiritual tertinggi di dalam Islam. Apa itu ihsan? Rasulullah SAW menjelaskan, “Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? Beliau menjawab, “Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (H.R. Muslim). Dengan puasa kita dilatih untuk mampu melepaskan diri (in’tiqa) dari keserakahan, ketamakan, kekikiran dan sikap mementingkan diri sendiri yang selama ini dipromosikan oleh eksponen kapitalisme.
/3/Jalan Melawan Kapitalisme
Di abad penuh keserakahan ini, semua orang beriman, khususnya orang Islam, ditantang untuk mampu menjawab problem ketimpangan global yang kian  membengkak[9]. Fatalnya, banyak orang lupa jika mereka merupakan bagian dari dunia yang dipenuhi dengan ketimpangan, ketidakadilan, keserakahan dan ancaman kerusakan lingkungan oleh pembangunan yang tak mengindahkan kelestarian.
Berdasar data the United Nations Human Development Report (UNHDR) tahun 1999, terhitung sejak 1994-1998, nilai kekayaan bersih yang dimiliki oleh 200 orang terkaya di dunia bertambah: dari 40 milyar menjadi lebih dari 1 trilyun dolar. Aset kekayaan tiga orang terkaya lebih besar dibandingkan dengan gabungan GNP 48 negara terbelakang. Dan jumlah milyarder di dunia meningkat 25% hanya dalam waktu 2 tahun terakhir. Gabungan kekayaan dari 475 orang tersebut lebih besar dari gabungan pendapatan 50% penduduk termiskin dari seluruh penduduk dunia. Sementara laporan the World Health Organization (WHO) pada 2001 menjelaskan bahwa kelaparan yang melanda beberapa kawasan ternyata akibat dari persoalan distribusi yang timpang (maldistribution) dan masalah ketidakadilan, bukan masalah kekurangan pangan.[10]
Sementara catatan Shukor Rahman dalam Straits of Malaysia Times pada 2001 memberi gambaran yang memilukan di mana di seluruh dunia kira-kira 50.000 orang mati setiap hari akibat kurangya kebutuhan papan/tempat tinggal, air tercemar dan sanitasi yang tak memadai.
Jadi, Ramadhan dan puasa merupakan percobaan, sebagai latihan diri untuk selalu melibatkan diri membangun perubahan, mencipta keadilan dan mengikis ketimpangan. Jika Marxisme mengajukan kritik struktural terhadap kapitalisme beserta keserakahan dan ketimpangan yang diciptakannya, maka dengan puasa, Islam menyumbang kritik moral atas keserakahan dan ketimpangan tersebut[11]. Dengan demikian, yang lebih penting dari semuanya adalah menjadikan puasa dan Ramadhan sebagai medan bagi terbitnya nilai spiritual (qimah ruhaniyah), nilai kesadaran (qimah syu’uriyah), nilai kemanusiaan (qimah insaniyah) setiap muslim yang menjalankan dan mengagungkannya. Tanpa itu, puasa hanya sebatas ritus menahan lapar dan dahaga yang dicerabut dimensi sosialnya.
Apa hakikat sesungguhnya puasa?
Puasa mesti diberi makna seluas-luasnya jika kita menghendaki puasa tak hanya menjadi ritus saja. Kesabaran revolusioner Musa dalam memimpin Perlawanan terhadap Fir’aun juga puasa. Pilihan Yesus untuk menjadi oposan Byzantium dengan jalan cintanya juga puasa. Pengorganisiran para budak dan kaum lemah lainnya oleh Muhammad untuk melawan dominasi oligarki ekonomi-politik kaum Quraisy Makkah juga puasa. Maka kita tak heran, Rasulullah menolak ketika malaikat Jibril menawarinya dunia berserta segala perhiasannya. Dalam hadis riwayat Tirmidzi dikatakan: “Tidak, lebih baik aku merasakan lapar sehari dan kenyang sehari. Jika lapar, aku akan bersabar dan merendahkan diri kepada Allah, jika aku merasakan kenyang, aku akan bersyukur kepada Tuhanku
Puasa juga berarti kesanggupan untuk menggemakan kembali pertanyaan Paus beberapa waktu lalu di Santa Cruz: “Apakah kita sadar bahwa ada sesuatu yang salah di dunia ini ketika banyak petani tidak memiliki lahan, banyak keluarga tidak memiliki rumah, banyak buruh tanpa hak, banyak orang yang martabatnya tidak dihormati?, Apakah kita sadar bahwa sistem yang ada sekarang ini (baca: Kapitalisme) telah memaksakan mentalitas akan keuntungan dengan cara apapun, tanpa memedulikan tentang pengucilan sosial dan kerusakan alam?”
Bahkan, penulis sendiri berani berasumsi bahwa apa yang disebut “jalan boikot” oleh Tan Malaka dalam sebuah pidato yang disampaikannya pada Kongres Keempat Komunis Internasional di Moscow 12 November 1922, yang dilakukan oleh kaum nasionalis revolusioner untuk melawan imperialisme memiliki dasar-dasarnya dalam Islam, yaitu sebuah sikap minimalis, melawan tanpa melawan dengan cara memboikot bahkan dengan berpuasa untuk tidak mengkonsumsi produk kapitalisme yang menghisap keringat kaum buruh.
Alhasil, melawan ketidakadilan adalah puasa.
Wallahu a’lam bi al-Shawab
Catatan akhir
[1]Lih.QS. 2: 43, 83, 110, 4: 77, 162, 5: 12, 6: 72, 9: 5, 11, 18, 60, 103, 19: 31, 22: 41, 24: 37, 56, 27: 3, 30: 39, 31: 4, 33: 33, 41: 7, 58: 13, 73: 20, dan 98: 5.
[2]Lih. QS. 9: 34.
[3]Lih.QS. 2: 195, 215, 219, 254, 261, 262, 354, 57: 10, dan 9: 34-35.
[4]Lih.QS. 30: 39, 2: 275, 277-280, 3: 130, 4: 161.
[5]Lih.QS. 59: 7.
[6]Berikut adalah kutipan ayat yang menerangkan puasa Maryam untuk tidak berbicara: “…Lantaran itu, makanlah dan minumlah (wahai Maryam), serta tenangkanlah dirimu. Dan jika terjadi engkau melihat seseorang, maka katakan kepadanya, sesungguhnya aku berjanji (nadzar) untuk melakukan puasa (shawm) kepada Yang Maha Pengasih.Karena itu hari ini aku tidak akan berbicara kepada siapapun.” QS. 19: 26.
[7] Wahbah al-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Jilid IV, hlm. 30
[8]Ibn Qayyim al-Jauzi, Zad al-Ma’ad fi Huda Khair al-Ibad, Beirut: Dar al-Fikr, 1973, Jilid I.
[9] Jumlah orang miskin yang hidupnya kurang dari 1 dolar AS sehari meningkat: dari 1.197 juta pada 1987 menjadi 1.214 juta pada 1997, atau sekitar 20 persen penduduk dunia. 25 persennya lagi (sekitar 1,6 milyar) dari penduduk dunia bertahan hidup dengan 1-2 dolar AS perhari. Sedangkan kesenjangan pendapatan antara seperlima penduduk dunia yang hidup di negara-negara termiskin meningkat dua kali lipat pada 1960-1990: dari 30 berbanding 1 menjadi 60 berbanding 1. pada 1998, kesenjangan itu semakin bertambah lebar, menjadi 78 berbanding 1. Lih.the United Nations Human Development Report, 1999.
[10]Lih.the World Health Organization (WHO), Determinants of Malnutrition, 2001.
[11]Berikut perintah-perintah Allah dalam Al-Qur’an dalam dimensi sosial: 1). Mendahulukan kepentingan orang lain  QS. 2:177, 59:9.2). Berbuat baik merupakan sebaik-baik amalan QS. 3:92, 3:134. 3). Menyempurnakan takaran dan timbangan, serta tidak merugikan orang lain QS 7:85, 11:84, 11:85, 17:35, 26:181, dsb. 4). Berinfak atau memberikan sebagian rizki kepada orang lain QS 2:254, 3:92, 14:31, 32:16, 35:29, 42:38, dsb. 5). Tolong menolong dan kasih sayang QS 5:2, 48:29, 24:22, 90:17, dan masih banyak banyak lagi.

http://islambergerak.com/2015/07/puasa-dan-semangat-anti-kapitalisme/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar