Jumat, 03 Juli 2015

Surat utk Para Petinggi Negeriku . OLEH Dianita Iuschinta

Surat utk Para Petinggi Negeriku

Saya mungkin hanyalah anak kemarin sore yang 'memaksa' tahu tentang sepakbola negeri ini. Ilmu dan pengalaman saya mungkin belum cukup untuk membahas dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dunia sepakbola. Namun, saya merasa masih punya hati untuk mau mengerti dan memahami apa yang dialami oleh para pelaku sepakbola di Indonesia khususnya.

Hampir 13 tahun lalu saya mulai berdekatan dengan dunia sepakbola Indonesia. Berteman dan berkenalan dengan para pelaku sepakbola. Berjuta cerita juga saya dapatkan dari mereka. Mungkin untuk beberapa orang (yang memilih untuk diam) lebih paham sejak kapan kerusuhan sepakbola ini terjadi, beserta alasannya. Sedari dulu juga banyak pertanyaan bergelut dalam pikiran dan hati saya. Hingga saat ini pun, ketika puncaknya adalah turunnya SK Pembekuan PSSI turun dari Menpora, saya justru lebih merasa bersyukur.

Ini bukan berarti tidak memandang adanya sisi buruk dari SK tersebut yang kemudian mengakibatkan turunnya sanksi FIFA untuk Indonesia. Saya ingat betul ketika pada debat calon presiden, Bapak Jokowi mengatakan untuk memperbaiki mental sebagai langkah utama memperbaiki bangsa. Apa yang saya lihat dan saya dengar sendiri dari para pelaku sepakbola adalah tidak lebih dari keterpaksaan. Mungkin bahasa kasarnya, mereka sudah semakin tereksploitasi. Kondisi mental yang selalu dituntut dalam keadaan terbaik membuat sebagian besar pelaku sepakbola memilih untuk menjadikan sepakbola bukan hanya sebagai passion mereka, tapi lebih ke urusan profit. Posisi yang semula merupakan subjek dalam dunia sepakbola kemudian semakin berubah menjadi objek utama.

Mungkin bukan hanya saya yang tahu, adanya pemain atau pelatih titipan, adanya uang pelicin agar tim mau mengalah, gaji yang tertunggak entah dari kapan dan sampai kapan, hingga urusan 'tidak memanusiakan manusia'. Siapa yang mau bertanggung jawab dengan kelangsungan hidup mereka? Bahkan menuntut pun masih banyak yang tak berani. Mau mengajukan peradilan pun takut. Mereka hanya tahu, ini sebagian dari cobaan hidup, jadi harus sabar.

Pernahkah Anda sekalian berpikir, apakah dengan menjadikan para pelaku sepakbola sebagai objek dapat menyelesaikan urusan yang tertunda? Pernah tidak para pelaku sepakbola dimintai keterangan secara khusus, hingga mereka benar-benar mau terbuka menceritakan permasalahan yang sebenarnya? Adakah yang peduli dengan kondisi psikis mereka dalam kondisi kerusuhan? Apa juga ada yang mau memberikan mereka pengetahuan tentang hukum agar tidak mudah terinjak oleh kontraknya sendiri?

Mungkin terlihat konyol ketika saya mempertanyakan hal-hal seperti ini. Tapi bagi saya, pemain, pelatih, dan ofisial juga manusia. Mereka pantas mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan.  Sudah selayaknya Bapak-bapak dan Ibu-ibu para petinggi negeri untuk memperjuangkan mereka, yang juga rakyat Indonesia. Bukankah Anda sekalian dipilih untuk mewakili mereka dan kami.

Dan untuk para suporter di seluruh Indonesia. Berpikirlah jernih, jangka panjang, dan tentu saja cerdas. Jangan mau dibodohi hanya karena sepakbola juga hiburan kalian! Kalau kalian cinta sepakbola, cintai juga para pelakunya.

#1HatiuntukSepakbolaKita

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar