Kamis, 16 September 2010

tradisi kupatan di desa pekauman gresik


Secara tradisi, sepakan setelah Idul Fitri oleh sebagian umat Islam di Jawa dirayakan sebagai Riyaya Kupat (Hari Raya Ketupat). Tradisi ini masih merupakan rangkaian dari hari Lebaran, atau bisa juga dikatakan sebagai hari kemenangan kedua setelah Idul Fitri 1 Syawal. Sebab, biasanya kaum muslimin usai membatalkan puasa pada hari raya, esoknya mereka menyambung puasanya kembali selama 6 hari, atau dikenal sebagai puasa Syawal. Nah, pada hari ke-8 dirayakanlah Hari Raya Ketupat.

www.arohman.co.cc BIASANYA, pada hari tersebut disediakan hidangan kupat-lepet. Kupat (Ketupat) adalah makanan yang dikemas cantik yang terbuat dari anyaman janur (daun kelapa). Isinya adalah beras, sehingga bentuk matangnya menyerupai lontong. Sementara Lepet juga dikemas dari daun kelapa namun bentuknya tidak dianyam, melainkan dibentuk sedemikian rupa dengan isi ketan, paruran kelapa, dan biasanya dicampuri biji kacang panjang (kacang tholo) lalu diikat kuat menggunakan tali khusus dari serat batang pohon pisang.
Sebagai pelengkap menyantap kupat disediakan bumbu khusus yang bahannya berasal dari poyah kelapa yang dimasak dengan bumbu lainnya. Kadang dikombinasi bumbu sambal goreng, gulai, atau opor. Hasilnya, kuahnya pun begitu berlinang minyak yang berasal dari endapan poyah kelapa.
Kalau Lepet langsung bisa disantap. Karena rasanya sudah sangat enak meski tanpa bumbu. Unsur gurih begitu mendominasi yang berasal dari parutan kelapanya. Belum lagi apabila ditambah kacang tholo.



Dalam tradisi Lebaran Ketupat, setiap keluarga akan menyediakan porsi khusus untuk dibawa ke musalah atau masjid setempat. Setelah membaca salawat juga tahlil yang dipimpin oleh Kaur Desa dalam hal ini Modin, hidangan kupat-lepet itu pun disantap bersama-sama.
Sebelum kembali dibawa pulang, sebagian kupat, lepet, dan lauknya disisikan sebagian untuk dihadiahkan kepada Pak Modin. Baru setelah itu kupat-lepet dibawa pulang dan bias disantap berramai-ramai bareng keluarga.
Ya, itulah sedikit tradisi yang Lebaran Ketupat yang hingga kini masih dilestarikan oleh sebagian kaum muslim di Jawa. Bahkan, di Gresik, di sebuah desa bernama Pekauman, tradisi tersebut masih dipegang teguh. Hampir semua warganya merayakan hari kemenangan pada hari ke-8 dalam bulan Syawal.
Dalam setiap perayaan Idul Fitri, ada satu tradisi yang selalu dilakukan oleh masyarakat Kampung Pekauman yakni tradisi puasa sepekan atau tradisi puasa syawal. Tradisi yang dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar Jalan KH Wahid Hasyim tersebut telah berlangsung secara turun temurun dan dilaksanakan selama enam hari setelah hari pertama perayaan Idul Fitri.
Hidangan yang disajikan untuk berbuka pun tergolong istimewa yakni sajian berupa sego tomat, nasi kebuli, harisah, dan makanan khas Timur Tengah yang lain.
Para masyarakat Kauman baru melaksanakan kegiatan silaturahmi pada hari raya ketupat atau enam hari setelah puasa syawal, pada saat itulah mereka saling bermaaf-maafan dengan kerabat, saudara, maupun teman yang tinggal di perkampungan tersebut dengan Ketupat sebagai hidangan yang paling banyak disajikan oleh penduduk setempat. *

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar