Jumat, 16 Juli 2010

Kenangan masa kanak-kanak

Kupikir merupakan hal yang sangat wajar ketika kita masih anak-anak, kita sering mempertanyakan banyak hal. Seorang anak manusia yang mencoba mengenali dunia, selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik rasa ingin tahu kita. Bahkan mungkin tanpa mengajukan pertanyaanpun, kita sering tergoda untuk berpikir dan membayangkan tentang sesuatu.

Dalam sebuah obrolan ringan di angkringan, banyak hal-hal lucu yang terungkap seputar pikiran-pikiran masa kanak-kanak, yang kupikir sangat lugu.

Inilah yang kupikirkan saat kanak-kanak dulu:

Saat baru pertama belajar ngaji (aku belajar ngaji dari orang tua), kadang-kadang orang tuaku sering cerita tentang agama, tentang Nabi dan Rasul, para malaikat, bahkan tentang akhirat. Aku tidak pernah bertanya, darimana orang tuaku bisa tahu banyak hal kayak gitu, tapi aku sangat menikmati cerita-cerita tersebut. Akhirnya orang tuaku mengatakan bahwa cerita-cerita tersebut berasal dari Al-Qur’an.

Tahu apa yang kupikirkan dari cerita-cerita tersebut?

Aku membayangkan hebat benar orang yang menulis al-Qur’an, bisa membuat cerita yang seperti itu hingga bahkan orang tuaku sangat menyukai cerita tersebut.

Mengenai cerita tentang penciptaan langit dan bumi, aku membayangkan dulunya (dalam rentang waktu yang terlalu lama, mungkin puluhan tahun yang lalu), bumi dan langit benar-benar jadi satu, dengan jarak langit dari bumi hanya beberapa meter, sehingga orang tuaku bisa pergi ke langit hanya dengan tangga.

Tuhan yang kubayangkan (dari cerita orang tuaku), seperti seorang bertubuh besar di langit, duduk di atas kursi kekuasaannya yang diangkat oleh malaikat penjaga, dengan dikelilingi 10 malaikat (Jibril dkk), serta ada sebuah pohon raksasa yang tiap daunnya berisi nama setiap manusia beserta takdirnya, jodoh, rezeki, dan kematiannya. Ada seorang malaikat yang duduk di atas daun tersebut, sehingga bila daun tersebut gugur (kematian), maka malaikat yang duduk diatasnya segera turunke bumi untuk mencabut nyawa sang makhluk.

Saat kecil aku juga suka bertanya-tanya, apakah Tuhan juga mengetahui dan bisa menjawab soal-soal PR yang diberikan oleh guru di sekolah?

Saat masih anak-anak, aku suka sekali duduk-duduk di depan pintu belakang rumah, atau sambil duduk di pinggir sawah, mengamati polah ayam dan bebek peliharaan kakek. Kadang-kadang aku berpikir: enak sekali ya jadi ayam dan bebek itu, kerjaannya hanya makan, makan, dan makan. Tidak perlu repot-repot shalat, puasa,dan ibadah-ibadah lain. Mereka tidak akan dikenai dosa, tidak merasakan siksa kubur dan siksa neraka. Aneh, karena tidak memperhatikan (atau mungkin lupa) tentang nikmat surga, sesuatu yang mungkin tidak didapat oleh ayam dan bebek itu.

Pernah suatu ketika aku membaca buku bapakku (saat itu masih kecil banget, mungkin kelas 5 atau 6 SD) tentang kisah penciptaan makhluk. Konon, makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah adalah Nur Muhammad. Dari Nur Muhammad inilah kemudian seluruh manusia beserta takdirnya ditentukan. Bila ruh manusia berasal dari kepala Nur Muhammad, maka manusia tersebut ditakdirkan untuk menjadi pemimpin, bila berasal dari tangannya, maka orang tersebut bakalan menjadi pedagang kaya raya, dan sebagainya.
Aku selalu suka membayangkan kalau ruhku berasal dari kepala Nur Muhammad, sehingga kelak aku ditakdirkan menjadi seorang pemimpin. Belakangan aku ketahui bahwa teori ini (Nur Muhammad) berasal dari doktrin tasawuf, dan tidak semua yang diungkapkan dalam buku tersebut benar menurut doktrin tasawuf tersebut.

Karena pergaulan (masih saat kanak-kanak), aku pernah juga berpikir tentang kebenaran agama. Siapa yang benar, agamaku (Islam), atau agama kawanku (Kristen). Aku pernah berpikir, kasihan sekali kawanku itu, sudah susah-susah menyembah Tuhannya, berbuat baik, tetapi toh nanti akan masuk neraka juga, karena dia salah Tuhan. Tiba-tiba aku membayangkan: bagaimana jika seandainya Tuhan yang sebenarnya adalah Yesus, dan ternyata aku yang telah melakukan kesia-siaan? Bagaimana bila ternyata Tuhan yang selama ini kusembah ternyata tidak ada? Terus di akhirat besok aku minta tolongnya ke siapa?. itulah dulu pikiran yang pernah menggangguku, tapi toh aku tetap menjalani hidupku kan?

Di angkringan itu, kami tertawa terbahak-bahak karena cerita-cerita konyol itu. Hingga munculah pikiran gila: gimana kalau seandainya di akhirat besok diadakan pemilihan Tuhan Yang Maha Kuasa, lewat polling sms hehehe…

Tapi sahabatku mengambil sikap moderat: Daripada di dunia tidak beragama, dan ketika di akhirat ternyata Tuhan ada, lebih baik beragama di dunia meskipun di akhirat kelak ternyata Tuhan tidak ada (hahaha…ini mah oportunis, akang…)

Sayup-sayup kudengar John Lennon mendendangkan Imagine there is no religion too…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar