Jumat, 16 Juli 2010

symphoni yank indah

Alun sebuah symphony
Kata hati disadari
Merasuk sukma kalbuku
Dalam hati ada satu

Laut...

Aromanya selalu dapat membuat semua orang terhanyut...

Tak terkecuali bagi gadis ini...

Nesia, begitulah ia dipanggil oleh orang yang begitu ia cintai, tapi juga sekaligus musuh besarnya. Baiklah, itu memang telah berlalu sekian lama -65 tahun kalau perlu ditegaskan- dan tentu sekarang tak akan ada lagi yang melarangnya untuk kembali ke masa-masa itu. Masa dimana ia terbuai oleh zamrud indah yang begitu bersinar itu...

Ya, seperti yang bisa ditebak. Siapa lagi pemilik mata yang begitu dipuja oleh gadis cantik ini selain Netherlands? Tebakan mudah bukan? Tapi tentu bukan pekerjaan mudah untuk menepis nama itu dari relung hati Nesia.

Apa kabarmu, Nethere? Berapa tahun kita tidak berjumpa?

Itulah kata hati Nesia. Begitu sederhana, tetapi entah mengapa terasa begitu membebaninya.

"Ah, aku sudah tak peduli pada kompeni itu!" dustanya begitu mudah. Ia bangkit dan membersihkan pasir-pasir halus di kain batiknya, lalu terdiam seakan menghadang ombak. Tepat saat itu angin berhembus lembut, seakan menawarkan diri untuk membawa pesan rindu itu menyeberangi lautan luas. Membawanya sebagai sebuah symphony lembut yang mengalun melewati samudera.

Nethere, aku harap kau baik-baik saja disana.

Ia kembali menyusuri pesisir tanah airnya yang begitu indah, dengan hati yang lebih tenang.

Manis lembut bisikanmu
Merdu lirih suaramu
Bagai pelita hidupku

Di belahan bumi lainnya, seorang pemuda bermata cemerlang memandang laut lepas dari salah satu dermaga di kota Den Haag. Dingin, karena iklim kota saksi bisu peristiwa Ronde Tofel Conferentie [1] itu telah mencapai akhir musim gugur. Tapi angin dingin bahkan tak bisa mengalahkan dinginnya sepasang sinar permata yang begitu cemerlang milik sang pemuda kompeni.

Sudah 65 tahun lamanya hatinya begitu gelap, tanpa cahaya. Semenjak ia terpaksa memadamkan satu-satunya pelita dalam hatinya, membiarkan ia pergi meninggalkannya dan meraih takdirnya sendiri. Membiarkan sepenuhnya wajah itu, suara itu, bisikan itu, sentuhan itu, dan semua bagian darinya pergi. Berkorban demi kebahagiaannya.

Meskipun ia tahu, itu berarti ia akan terkatung sendiri...

Terkatung tanpa ada hati tempatnya berlabuh, meskipun hanya untuk sekadar melepas lelah...

Je weet hoe de vernietiging van mij als je met al je ego's, Nesia? [2]

Ia membatin sedih, dan nanar menjalarinya hanya karena ia sedikit membuka masa lalunya. Dari mata zamrudnya, dapat terlihat luka besar yang menganga di hatinya.

"Haah, untuk apa aku memikirkan si Nesia bodoh itu? Seperti tak ada hal lain untuk kupikirkan saja!" murkanya pada dirinya sendiri. Ia kesal tak mampu mengenyahkan sosok gadis manis nan mungil itu dari pandangannya.

Ia berbalik, membelakangi lautan luas. Dan saat itu juga ia merasakan angin yang berbeda. Angin lembut, tak sekencang beberapa yang menerjangnya sebelum ini. Ia menutup mata, berusaha mendengarkan dan mengartikan bait symphony sang angin.

Nesia, Ik hoop dat je er prima.[3]

Ia meninggalkan dermaga dengan selengkung senyum tipis di bibirnya.

Berkilauan bintang malam
Semilir angin pun sejuk
Seakan hidup mendatang
Dapat ku tempuh denganmu

"Malam ini indah sekali, Nethere," seorang gadis merebahkan tubuhnya di rerumputan, memandangi samudera langit dengan bintang dan bulan menggantung padanya. Angin malam berhembus tak terlalu kencang, suasana yang enak untuk mengamati angkasa malam yang cerah.

"Ya, Nesia. Aku bisa melihatnya dengan jelas," pemuda berwajah asing yang juga merebahkan tubuh di samping gadis itu mengiyakan.

"Itu rasi bintang pari!" Nesia menunjuk sekelompok bintang yang berbentuk seperti layang-layang di salah satu sudut angkasa. Nethere tersenyum lembut, mengangguk kecil tanda setuju.

"Lalu yang itu rasi biduk!" gadis bertubuh mungil itu pun menunjuk kelompok lainnya. Nethere mengalihkan pandangannya menuju wajah Nesia, dan menemukan dirinya tersipu akan wajah cantik itu. Ia bangkit tanpa sepengetahuan Nesia, meraih dagunya, lalu mengecup lembut kedua kelopak mata Nesia.

"Namun dua bintang terindah akan ada selamanya di matamu, Nesia," tukas Netherlands sembari menyeringai, masih belum mau bangkit dari posisinya. Sementara itu, wajah manis gadis dibawahnya sudah memerah.

Belum sempat Nesia mengatur emosinya, angin malam berhembus kencang dan Nethere saat itu juga mendekap tubuhnya erat-erat. "Bisa gawat kalau kau terkena flu dan merepotkanku, ya 'kan?" Nethere berbisik di telinga Nesia pelan. Sebenarnya itu hanya akal-akalannya saja, supaya ia punya alasan logis untuk memeluk koloninya itu. Namun tak dinyana, tangan Nesia mulai bergerak untuk balas memeluk tubuh tegap yang kini menindihnya itu.

"Alasan. Sebenarnya kau juga suka menggangguku dalam keadaan lemah 'kan?" Nesia menyangkal pernyataan Nethere yang masih tak mau melepas dekapannya. Kelopak matanya tertutup, membiarkan hatinya menikmati symphony manis ini.

Als dit kan worden voortgezet. Ik wou dat ik kon je altijd hebben als deze. [4]

Mungkin kira-kira itulah permohonan yang Nethere ucapkan pada bintang pada malam itu.

Tapi, ternyata semua tak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan...

Tak lama kemudian, perang pecah. Jepang datang lalu memaksanya menjauh dari Nesia-nya. Sedihnya, meskipun Jepang telah angkat kaki dari bumi Nusantara, bukan berarti hubungannya dengan gadis mungil itu dapat kembali seperti sedia kala.

Berpadunya dua insan
Symphony dan keindahan
Melahirkan kedamaian

Melahirkan kedamaian...

Nesia duduk tenang di beranda rumahnya, sembari sesekali meneguk tehnya. Ia memandangi halaman rumahnya yang luas. Dulu tanah itu dibiarkan kosong, namun Sumatera berinisiatif untuk menanaminya dengan bunga. Dan voila, jadilah taman yang penuh warna.

Disaat Netherlands masih disini, taman itu bukan hanya penuh warna, tapi juga penuh dengan gelak tawa Nesia dan adik-adiknya yang diakibatkan oleh keisengan Netherlands. Dan disaat Netherlands akan pergi, mengangkat kaki dari tanah air ini, Nesia melepasnya di taman ini. Ya, meskipun memang dengan arogan (dan sarkastik, khas Indonesia).

Tapi ternyata, semua hanya menjadi lebih sulit. Tanpa Netherlands, Nesia kehilangan irama hidupnya. Semangatnya sempat memudar, sebelum akhirnya ia bangkit demi memperjuangkan kembali hak dan takdirnya. Ia mendapatkan ritmenya, tapi bukan iramanya. Dan ia berjuang dengan ritme kaku itu, yang dulu selalu terasa begitu damai dengan keberadaan irama Netherlands-nya.

"Kak Nesia!" suara seorang pemuda mengagetkan Nesia dari lamunannya. Pemuda yang memanggil Nesia keluar dari dalam rumah, menghampirinya yang sedang duduk di kursi teras.

"Ada apa, Borneo?" Nesia menoleh.

"Tadi ada telepon. Katanya Kak Nesia ditunggu Pak Presiden di Istana Negara, sekarang," terang Borneo. Nesia bangkit dari kursinya, lalu bergegas bersiap.

Namun betapa terkejutnya ia saat tiba di Istana Negara dan mendengar apa yang dikatakan Presidennya. Tidak, bukan soal teroris impor jebolan Al-Qaeda, bukan soal kasus Century, bukan soal Bu Sri Mulyani yang mendadak jadi pejabat World Bank, dan juga bukan tentang curcol-nya Pak Presiden soal Munas Demokrat yang (katanya) sukses...

Tapi...

"Nesia, bisakah kamu temani perwakilan dari Belanda yang akan menonton pagelaran seni asimilasi budaya yang kita bicarakan waktu itu?" tanyanya dengan senyum lebar di bibir.

"N-Nethere? Pak, apa ini tidak salah?" tanyanya, masih merasa bahwa ia baru saja mendengar hal termustahil di dunia.

"Ya, saya tidak bisa menemani mereka karena ada rapat di Departemen Sosial. Jadi, saya bisa mengandalkanmu 'kan, Nesia?" tegasnya lagi dengan aura yang makin menggelap, meski masih tetap tersenyum. Seketika mengingatkannya dengan Russia yang berada nun jauh di sana.

Dan Nesia kini terdiam seribu bahasa...

Syair dan melodi
Kau bagai aroma penghapus pilu
Gelora di hati
Bak mentari kau sejukkan hatiku

Nethere termenung, terlalu banyak kenangan tentang Nesia yang dengan seenak dengkul berkelebat di otaknya. Andai ia bisa, ia ingin mengunci ingatan itu pada suatu sudut otaknya dan membuang kuncinya entah kemana. Karena Nethere merasa bahwa orang yang ia kasihi itu kini tak lagi memikirkannya, seperti ia yang selalu memikirkan sosok itu.

Dulu, ia selalu memiliki Nesia untuk membagi keresahannya. Dan seketika itu pula resah dan sedih itu menguap. Baginya hanya dengan memandang Nesia saja sudah lebih dari cukup untuk menghilangkan pilu di hatinya dan beban di pundaknya. Cukup hanya dengan melihat keceriaan Nesia (dan juga melakukan sedikit keisengan padanya, tentu saja), ia seakan mendapat semangat untuk menghalau semua masalahnya.

Tapi kini, ia bagai melodi kosong tanpa syair indah yang mengisi setiap biramanya. Ia hanya mampu tersenyum pahit saat Nesia mengucapkan salam perpisahan padanya. Hidupnya kini benar-benar tanpa mentari. Awan mendung selalu menyelimuti langitnya yang dulu biru, sama persis dengan cuaca rata-rata tahunan negerinya. Tak ada lagi yang bisa meluluhkan lapisan tebal es di hatinya, kecuali bila gadis itu kembali padanya, tentu saja. Dan itu mustahil, Nesia kini sepenuhnya milik segenap rakyatnya...

Baiklah, memang tak baik mengemudi dengan pikiran yang disconnected, tapi inilah yang dilakukan Nethere untuk kembali ke Amsterdam. Pemuda berambut silver itu terus mengendarai mobilnya melalui jalanan lengang Belanda. Bosnya tiba-tiba saja memanggilnya untuk datang ke Amsterdam. Padahal di rumahnya di Rotterdam, Belgie telah menunggu. Dan bak kerbau dicocok hidungnya, Nethere hanya manggut-manggut menuruti perintah bosnya.

Setelah beberapa waktu berlalu, ia telah tiba di ruang kerja bosnya. Dan betapa terkejutnya Nethere saat mendengar apa perintah bosnya...

"Wakilkan saya untuk berkunjung ke Indonesia, Nethere," dengan wajah tanpa dosa (yang terlihat mencurigakan bagi Nethere), bos Netherlands memberikan instruksi sesingkat-singkatnya pada protagonis kita satu ini.

"M-maksud anda...? Indonesia... yang itu?" tanya Nethere yang masih juga lemot.

"Memang ada berapa negara yang memiliki nama Indonesia? Dan memang ada berapa gadis bernama Nesia yang berhasil menarik perhatianmu, Netherlands?" tanya bosnya usil. Nethere membalasnya dengan geraman kesal sekaligus grogi.

"T-tapi, anda sendiri tahu kalau hubungan kami tidak begitu..."

"...akur? Saya tahu itu, dan sudah waktunya untuk mengakhirinya, Netherlands. Sudah 65 tahun berlalu, apa kau tak merindukannya?" sela bos Netherlands, membuat pemuda itu terdiam, memikirkan perkataaan atasannya tadi.

Burung-burung pun bernyanyi
Bunga pun tersenyum
Melihat kau hibur hatiku

Netherlands mendengus kesal. Seharusnya ia tidak sendiri pergi ke Indonesia, tapi apa kenyataannya?

Ia duduk di kelas bisnis, SENDIRIAN.

Ingin rasanya ia memaki-maki bosnya, tapi tentu tak mungkin ia lakukan. Teganya ia (dan semua staff-nya) membuatnya berdebar-debar seorang diri untuk menghadapi mantan koloninya itu. Hu-uh, semua ini akan segera ia selesaikan sepulangnya dari Indonesia nanti.

Suara pemberitahuan landing terdengar dari speaker, dan masih dengan bersungut-sungut Netherlands memasang sabuk pengamannya. Tak lama, landing sukses dilakukan. Nethere serasa ingin terjun bebas dari pesawat, menginjak tanah yang telah sekian lama ia tinggalkan. Matahari yang baru terbit saja terasa begitu hangat, tak seperti di negerinya.

Indonesia, ya, tanah indah sejuta pesona itu kembali ia injak. Bukan untuk kembali bersitegang, tapi untuk meraih sesuatu...

Meraih cintanya, takdirnya, dan gadis yang begitu dicintainya...

Nesia membuka jendela kayu kamarnya, menyambut pagi sejuk tanah airnya. Rambut panjangnya terkepang agak berantakan, menandakan ia baru saja terbangun. Ia meregangkan tangannya dan menguap singkat. Sebentar ia memandangi taman, dengan bunga mekar dan burung bernyanyi sebagai pertunjukan utamanya.

Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia hendak membangunkan adik-adiknya. Tapi...

Untuk Kak Nesia

Maaf aku pergi tiba-tiba, tapi aku harus segera berangkat. Kakek Majapahit sakit lagi. Aku sengaja membawa semuanya karena tahu Kakak akan sibuk akhir-akhir ini, jadi aku tak ingin membuat kakak repot dengan mengurangnya separuh kekuatan babysitter di rumah, hehehe... Aku berangkat pagi sekali dan tak tega membangunkan Kakak. Jadi, maafkan aku. Akan aku kirimi kabar setibanya di rumah Kakek.

Dariku,

Sumatera

Itulah tulisan yang tertera di secarik kertas pada meja keluarga. Indonesia menghela napas, artinya ia sendirian di rumahnya. Ia mengedikkan bahu, lalu berjalan ke arah dapur, memasak sesuatu. Tak lama kemudian, bel pintunya berbunyi. Masih dengan celemek, ia tergopoh-gopoh berjalan menuju pintu. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat siapa gerangan yang bertamu padanya sepagi ini.

"Maaf mengganggumu pagi-pagi begini, Nesia!" wajah asing, mata sewarna zamrud, rambut spike silver, kulit pucat, dan tubuh tegap. Oh ya, jangan lupakan seringai khas yang kini terpasang di wajahnya.

"N-Nethere?" pekik tertahan keluar dari celah bibir Nesia, masih tak percaya dengan penglihatannya.

Haah, benar-benar pagi yang penuh kejutan bagi Indonesia...

Hatiku mekar kembali
Terhibur symphony
Pasti hidupku 'kan bahagia

"Kenapa hanya kamu sendiri yang datang?" tanya Nesia dari dapur, masih terus berkutat pada bahan makanannya. Yeah, ditambah lagi ia harus membuatkan satu porsi tambahan untuk Nethere –yang mengaku belum makan apapun semenjak berangkat dari Amsterdam (bayangkan betapa lamanya itu).

"Ceritanya sangat panjang, Nesia. Dan konyol, kalau kamu ingin tahu," Nethere menjawab sembari merebahkan tubuhnya yang pegal pada sofa empuk. Dari sana ia masih dapat melihat punggung Nesia yang masih tekun mengolah sarapan mereka.

Ide 'cemerlang' melintas di otak Nethere. Ia bangkit dan mengendap-endap menghampiri Nesia. Lalu saat jarak mereka cukup dekat, ia dengan segera memeluk Nesia dari belakang dan menempatkan kepalanya di pundak Nesia.

"Kyaaa!" Nesia berteriak kaget saat merasakan ada tangan kuat yang menahan pergerakan tubuhnya. Berbeda dengan kepanikan di wajah Nesia, Nethere dengan rileks menghirup dalam-dalam aroma Nesia yang lama tak ia rasakan. Dan posisi ini benar-benar membuat mereka tampak begitu serasi *ditimpuk Nesia* (tapi akan sangat tidak menyenangkan bila tiba-tiba ada hansip datang dan berseru 'pasangan mesum!' pada mereka, tipikal Indonesia sekali).

"Ik mis je,"[5] katanya singkat (dan gombal, dalam skala author). Nesia membelalakkan mata, mengerti maksudnya. Wajahnya memerah seketika itu juga. Dan memberi efek panik pada jiwa ke-timur-an Nesia.

"N-Nethere! Lepaskan aku!" Nesia berontak di dalam pelukan Nethere. Merasa tak dipedulikan, ia mengambil teflon terdekat dan...

... memukulkan punggung teflon malang itu pada wajah tampan (?) Nethere. All hail Hungary!

Baiklah, kita kembali pada acara selanjutnya. Nesia menyelesaikan persiapan sarapannya lalu mereka berdua memulai sarapan (dalam diam, karena Nesia masih marah pada Nethere). Setelah Nethere meminta maaf dengan alasan lupa akan adat timur Nesia (sembari tetap merayunya), gadis bertubuh mungil itu bersedia memaafkan mantan motherland-nya itu. Dan saat itu juga, Netherlands berkesimpulan bahwa ada gunanya juga ia (dipaksa) mempelajari trik-trik ala France.

"Auw! Sakit, Nesia!" Nethere meringis saat Nesia mengompres 'mahakarya'-nya di dahi Nethere.

"Sa-sakit, ya? Maafkan aku!" Nesia sedikit mengangkat tangannya dari dahi Nethere, lalu mulai mengompres lagi.

"Tahan ya, Nethere," pinta Nesia. Nesia kembali menyentuhkan kain basah itu ke dahi Nethere. Pemuda itu meringis lagi.

Setelah selesai, ia mengambil kapas dan plester untuk menutup 'mahakarya agung'-nya itu. Tapi karena area luka belum kering benar, dua benda itu tak bisa menempel. Nesia yang malas bangkit untuk mengambil kain kering, memilih untuk meniupi kening Nethere. Tampaknya negeri kesayangan kita satu ini tak menyadari bahwa wajah Nethere memerah sewarna tomat Antonio-san.

"Kak Nesia! Aku datang berkunjung!" seseorang berseru sembari masuk. Gadis itu, Malasyia, membatu saat melihat posisi kakak sepupunya dan Nethere (baca: Nesia berdiri dengan lutut sembari meniupi luka Nethere yang basah karena air kompresan, namun sang negeri melayu itu melihatnya dalam perspektif yang "berbeda"). Nesia dan Nethere sontak menoleh. Singapore yang bingung akan tingkah kekasihnya yang biasanya heboh itu menghampirinya.

"Mala, ada ap..." kata-kata Singapore turut terputus saat melihat kakaknya dan Nethere berposisi seperti itu (yang tentu juga dipandang dengan perspektif a la Malaysia). "...ah."

"Maaf, sepertinya kami mengganggu kalian. Silakan lanjutkan 'kegiatan'-nya," kata mereka kompak sembari ngeluyur pergi. Saat itu juga, akal sehat Nesia kembali mendarat ke bumi.

"APA MAKSUD KALIAN, HAH?" Nesia yang meradang berlari menyerang mereka, meninggalkan Nethere yang masih disconnect, untuk selanjutnya tersenyum geli melihat tingkah mantan koloninya itu.

TBC, aru~! *Yao mode: on*

Bersambung~! Padahal udah panjang, tapi masih bersambung juga... Penyakit author (baca: kalo udah sekali nulis susah berhenti) kambuh lagi, hehehe... Gomennasaaaai~! Dan arigatou buat yang udah baca cerita ini! *bows*

Oh ya, kalau ada kesalahan tata bahasa (mau bahasa Indonesianya, apalagi bahasa Belanda), silakan PM aku secepat mungkin! OK! *merasa bersalah mode: on* Kalian tahu kan, aku bukan orang Belanda, belum pernah tinggal di sana, dan tidak sempat hidup di jaman kolonialisme Belanda *bletak!*. Pokoknya kritik dan saran amat-sangat dinantikan!

Lalu chapter 2 akan menggunakan lagu baru, soalnya lirik lagu yang pertama habis sampai situ. Kalo ada yang mau ngasih saran lagu yang pas sama tema fic ini (tapi diusahakan bahasa Indonesia, supaya sama dengan chapter 1), pasti aku pertimbangkan. Karena author sedang kebingungan setengah hidup memikirkan lagu selanjutnya!

Pokoknya tanpa banyak ngomong lagi, REVIEW MINNA~!

Nb, aru~!

[1] Konferensi Meja Bundar, 27 Desember 1945. Masih inget kan, aru~?

[2] Kau tahu betapa hancurnya aku saat kau pergi dengan segala egomu itu, Nesia?

[3] Nesia, aku harap kau baik-baik saja di sana.

[4] Andai ini bisa terus berlangsung. Andai aku selamanya dapat memilikimu seperti ini.

[5] Aku merindukanmu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar