Jumat, 16 Juli 2010

saatnya pergi dari sahabat

Tapi aku tak bertarung sendirian.
Sahabatku dan kekasihku. Kalian hidup dalam hatiku.
Selamanya. Kau dan dia.


Aku percaya bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang memperbaiki sisi-sisi terkoyak dalam kehidupan kami.

Seandainya Tuhan memang ada.
Biarlah Ia yang mengurus sisanya.

***

" mari kita meletakkan akhir pada ini, apakah kami? "

saya dapat merasakan tidak ada
tetapi di dalam kesenangan
saya dapat menangis tidak [ada] lagi
karena saya menikmati ini
kemudian ini adalah hanya sesuatu
(mereka memanggil ini `love
mendorong `must pergi di' menunggang
menunggang that'll tidak pernah baik ke darat
dan membuat segalanya baik
aku adalah sekedar sederhana
dengan sakit menyembunyikan otherside
sesungguhnya aku adalah
karena saya menikmati ini

aduh baik, ini saya bagaimanapun
selamat jalan untuk sekarang
saya punya hidup terus-kan
bagaimana dengan kamu?


"aku tidak akan pernah jadi pujangga dan tetap ngantuk kalau berpikir akan tentang cinta. tetap jack, si apatis realis yang melihat segalanya dengan cara pikirku sendiri dan bukannya cara seperti yank kalian fikirkan. Tapi sekarang aku mengerti kondisi anehku itu..." Aku menelan ludah. "Karena aku sudah mengalaminya. Kebutaan itu. Dan aku tahu sekarang, aku mencintai kamu bukan hanya dengan logika dan rasio. Bukan karena sekadar kamu memenuhi standar saya, tapi...karena saya juga mencintai kamu di luar akal. berapa waktu aku menemukan cukup banyak alternatif yang masuk akal, tapi aku memang tidak ingin yang lain. Hanya kamu. Apa adanya, termasuk alam lamunan yang tidak pernah ada aku di dalamnya."
"Dan aku tetap jack yang tak kalkulatif dan tidak berpikir untung rugi. Tapi aku benar-benar tidak mengharap apa-apa kali ini. aku hanya ingin mengatakan ini semua dan sudah. Habis perkara." Aku menutup pernyataanku dengan senyum semampunya. Berusaha bangkit berdiri, walau berat sekali. seolah olah Tangan tangan sahabat sahabatku yang sedingin es batu tiba-tiba menahanku.
"Kamu mau kemana?" tanyanya lirih.
"Mm..pergi..." jawabku tidak yakin.
"Ikut," ujarnya pendek seraya berdiri melipat buku.
Kami berdua berjalan meninggalkan taman. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Sama sekali tak ada jejak spasi kosong dari satu tahun yang sepi itu.
"Saya sendiri sudah banyak berpikir murni dengan sel-sel otak seperti yang kamu anjurkan, menerjemahkan apa yang kamu anggap absurditas. Dan kesimpulannya..." Ia berkata lamat-lamat, "Tidak akan ada orang lain yang mengerti alam itu selain kita sendiri. Tapi kemanapun yang saya pilih kamu tetap orang yang paling nyata dan paling berarti. Saya tidak harus menjadi orang lain seperti yank kalian inginkan untuk bisa pulang. Kamu adalah jalan pulang, rumah yang nyaman dan tiket sekali jalan. aku tidak ingin pergi lagi. Itu juga kalau kamu tidak keberatan kita menjalaninya pelan-pelan."
Perjalanaan singkat sore itu adalah gerbang menuju sebuah perjalanan baru yang panjang.

***

sahabatku benar. Banyak hal yang tak bisa dipaksakan, tapi layak diberi kesempatan. Dan kesempatan itu harus ditawarkan setiap hari oleh semua pihak. Aku pun benar, kami mampu membangun apa saja, baik persahabatan belasan tahun maupun kebersamaan seumur hidup.
Setiap kali aku duduk terdiam dan memandang sahabat sahabatku di angan anganku , ketakutan itu kadang-kadang datang. Ketakutan kalau suatu hari aku terpaksa harus menariknya pulang dengan paksa, dan persahabatan tak mampu lagi menjadi tiketnya. Ketakutan kalau aku harus kehilangan dunia absurd tempat perasaanku kepadanya bersemayam, dunia yang ternyata amat kusukai. Ketakutan yang timbul justru karena sekarang aku benar-benar mengerti perasaannya dan semua alasannya dulu. ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar