Senin, 05 Juli 2010

Peterpan: "Musik Kami Memang Gelap"

Oleh: Andri Oktavia

Super band Peterpan punya cara lain memaknai lagu-lagunya. Diantaranya dengan membuat video klip lagu yang tampak adanya distorsi pada hubungan percintaan, hubungan personal terhadap Tuhan, dan sebagainya. Garapan video klip pada lagu Tak Ada Yang Abadi atau Bintang di Surga, bercerita tentang kisah sehari-hari di masyarakat, tetapi tampak ada unsur 'berdarah-darah'.

Apa yang dilakukan oleh Peterpan tersebut menggelitik Iwan Fals untuk menanyakannya langsung kepada Peterpan, salah satu band termahal di Indonesia saat ini, usai melakukan latihan bareng di studio Musica, Pancoran.

Iwan Fals (IF) : Kalau lihat video klip lagu-lagumu, kok kayaknya selalu gambarnya seperti keras-keras gitu? Ada M-16, ada yang mati tertabrak mobil, ada perempuan memecahkan sesuatu.
Aku mengkaitkan dengan keadaan yang sekarang. Dengan musik yang penuh distorsi, syair lagu dan melodi yang indah. Apakah itu dari sutradaranya, atau siapa?

Ariel : Ada yang dari sutradaranya, ada yang dari musisi. Memang mulai dari album "Bintang Di Surga", kita biasanya suka bicara dengan sutradaranya. Dan sebenarnya, sebelumnya pun begitu.
Video klip kita yang dibuat oleh Rizal Mantovani, lagu Bintang Di Surga, agak keras mungkin. Rizal memang mengusulkannya kepada kita seperti itu. Seru aja mungkin ya, ada 'tembak-tembakannya'. (kata Ariel mengutip Rizal).
Apalagi di lagu itu bagian belakangnya agak emosional, kayaknya seru, musiknya agak emosional, tetapi pengambilan gambarnya cenderung pelan. Sepertinya perpaduan itu bakal bagus.

IF : Apakah pada pembuatan video klip, Rizal juga melihat syairnya?


Ariel : Ya, hanya pada waktu itu Rizal kesulitan mengimplementasikan syairnya. Secara storytelling menurut Rizal memang sulit membuatnya. Video klip lagu itu sendiri, ceritanya tentang orang yang bicara pada Tuhan. Jadi akhirnya Rizal membuat yang tidak sesuai dengan lirik, namun sesuai dengan musiknya saja.

IF : Sebetulnya lagu itu sendiri bercerita tentang apa?

Ariel : Bintang Di Surga adalah personifikasi dari Tuhan, jadi seperti ngobrol dengan Tuhan. Lagu ini semacam renungan dan bisa berlaku pada siapapun.

IF : Lantas ada pilihan simbol seperti merampok bank?

Ariel : Merampok bank itu scene awalnya pelaku di video tampak menyesal kenapa dia merampok, saat itu dia juga kesal sudah terkepung di dalam bank. Tetapi ternyata, dia merampok karena satu hal yang tak terceritakan di dalam video klipnya, karena pacarnya perlu uang. Saat dia sudah tertembak, yang terakhir datang itu, pacarnya. Tetapi memang sepertinya agak kurang terceritakan di video klipnya.

IF : Oh, jadi Bintang Di Surga itu, si perampoknya merenung ke Tuhan dan menyesal melakukan perampokan itu?

Ariel : Ya...

IF: Berarti ide itu awalnya dari Ariel ?

Ariel : Nggak juga sih. Ide itu dari Rizal, yang hanya merespon musiknya saja.

IF : Lantas kenapa Peterpan bisa setuju?

Ariel : Kita sempat juga bicara panjang lebar. Lantas Rizal berargumen, kalau mau diceritakan tentang lagunya itu sendiri di klipnya susah sekali, jadi dia menangkapnya dari sisi musiknya.

IF : Apa Ariel cs memang selalu ingin lain sendiri membuat video klipnya ?

Ariel : Kita sih memang pengennya begitu...

IF : Masalahnya memang gambaran sekarang itu begitu. Ekspresi orang sudah begitu, kencang, hajar, tembak. Makanya begitu ya?

Ariel : Kayanya sih iya, Bintang Di Surga bisa terjadi kepada perampok atau orang lain.

IF : Itulah realita yang sekarang, kenyataan hidup. Oh ya, ada juga video klip Peterpan yang mengisahkan perempuan yang menembak dengan dinginnya. Bagaimana dengan lagu itu?

Ariel : Lagu itu berjudul Tiada Yang Abadi. Awalnya memang tentang kematian. Dan Dimas Jay (sutradara video klip Tak Ada Yang Abadi -red) juga mengatakan jika mau membuat klip sesuai storytelling agak susah juga. Sebaiknya dibuat berbeda, tidak menyesuaikan dengan storytelling-nya. Jay mungkin agak berbeda melihatnya.

IF : Kalau aku menyanyikan Tak Ada Yang Abadi, ya memang begitu...

Ariel : Itu mungkin salah satunya saja. Klipnya sendiri juga baru keluar. Bahkan pimpinan program acara di TV sempat ketar-ketir, mengatakan ini bisa atau tidak diputar. Tetapi akhirnya diputar juga.

IF : Aku perlu nanya ini, sebab Raya anakku kalau lagi di mobil sering putar klipmu terus. Aku penasaran, jika memang begitu tingkat kesadisannya disini, ya memang terwakili oleh klipnya. Lha wong sekarang copet juga dibakar, terus wanita yang meninggal di pos jaga ada. Ariel memang mewakili hal itu, termasuk distorsi cara membawakan lagunya. Kamu sadar nggak Riel, menyanyikan lagu-lagumu lewat cara distorsi?

Ariel : Oh nggak, kalau aku pertama kali bikin musik, lebih ke suramnya aja. Jadi ya seperti itu. Lantas waktu buat video klipnya, Jay ingin berbeda, itu saja sih mas.

IF : Tetapi soal kekerasan apa memang terekam juga? Atau mungkin masa-masa kecil? Aku gak tahu juga. Sehingga pilihan distorsi, gambar, dan lagu juga mengarah ke sana.

Ariel : Mungkin itu juga yang ditangkap para sutradara. Kalau masalah sisi gelap sih mungkin bawaan dari kecil kali ya. Ha ha ha... Mungkin sutradara menangkapnya dari musiknya yang gelap, sehingga dia membuatkan video klipnya seperti itu. Tidak semua idenya dari kita sih, kadang memang dari mereka sepenuhnya.






IF : Sementara kalau konsep musiknya bagaimana, apakah merupakan hasil rundingan dengan personil lain atau bagaimana?
Ariel : Kalau musik memang sedari dulu kita sudah ketemu, lantas otomatis. Bahkan semenjak mulai manggung di kafe, setiap personil memilih lagu masing-masing. Dan saat sedang pemilihan, sudah satu jalur. Jadi kadang-kadang kita nggak mesti ngobrol dulu, lantas semua berjalan begitu saja.
Aku bertemu dengan teman-teman ini ya teman sekolah. Uki teman SMP, sementara dengan Lukman bertemu di Warung. Lukman itu dulunya sering kongkow di warung.

IF : Oh jadi pilihan musik maupun lagunya memang lahir begitu saja ya?

Ariel : Ya, mungkin karena dari pertama kali kita bermusik memang suka ke sana, ditambah juga dasar masing-masing, termasuk pengalamannya masing-masing. Hasilnya mungkin ada yang anggap musik kita gelap. Kalau aku sih dari pertama kali suka musik, suka dengan Nirvana. Makanya lagu-lagu ku itu, ada sedih dan depresi.

IF : Tinggal dipertahankan saja, karena itu kan rejeki dari Allah. Apalagi musik mu cukup mewakili orang yang mengalami suasana itu, meski ada juga genre musik lain yang lebih gelap lagi.

Ariel : Aku juga baru nyadar sih, kalau masih di jalur pop biasanya memang yang manis-manis.

IF : Nggak juga, sih. Tapi apa memang rata-rata sekarang video klip seperti itu ?

Ariel : Nggak juga sih, Bang...
Tetapi memang keluarnya dari kita juga sih. Semenjak bikin video klip album kedua kadang kita suka bicara ke sutradara bikin video klip bagus seperti kelompok A, misalnya. Sehingga, mesti membuat yang lebih bagus lagi. Jadi, saat kita bikin video klip bertemu dengan sutradara yang sama, dia sudah siap dengan konsep yang lebih oke lagi. Dan tidak biasa tentunya.

IF : Tetapi Ariel cs juga memberi ide, kan?

Ariel : Kadang-kadang kita juga kasih masukan.

Lukman : Kalau musik sih sebetulnya karena aku sendiri memang sering mendengarkan musik dari Incubus yang nge-rock. Mereka band Amerika yang alirannya modern rock, karena diberi sentuhan biola, musik kita mungkin jadi rada serem. Lantas kita masukkan ornamen-ornamen musik masing-masing, lalu jadilah musik Peterpan.

Uki : Kita bahkan jarang demo, langsung rekam-rekam saja.

IF : Kadang kalau kita hubungkan dengan kondisi sekarang, musik kalian bisa diterima mungkin pas dengan situasinya. Apa kalian sadar atau tidak, apa hanya lahir begitu saja?

Ariel : Kalau Lukman sih memang dari kecil sering disiksa... Ha ha ha.

IF : Pernah ada tidak pertimbangan membuat video klip misalnya, ke kalangan anak-anak, mengingat Peterpan juga disukai oleh anak-anak?

Reza : Kalau masalah itu, yang menurut personil iwanfals.co.id rada sadis sepertinya tidak. Sebab, dia hanya potongan-potongan scene, seperti menembak, lantas peluru jatuh, orangnya mati, menurutku itu art.
Karena prosesnya singkat saja, tidak dieksploitasi kesadisannya. Sementara kalau di video klip yang terakhir, Tak Ada Yang Abadi, ada kesan emosional, namun lebih ke orangnya. Lantas di klip terakhir itu, ada scene orang berlagak gila atau sakit, psikopat, mayat-mayat yang bergelimpangan. Apalagi, di luar pun juga seperti itu saat ini.

IF : Sebetulnya saya juga tidak ingin membatasi para konsumen yang membeli kaset Peterpan saja. Sama sekali tidak. Justru 'keliaran-keliaran' itu mesti dikeluarkan. Hanya, kalau katanya lahir begitu saja, ini yang jadi pertanyaan.

Ariel : Apa mungkin kita bagian dari dunia stres itu? Korban atau bagian dari dunia yang sekarang ini... Ha ha ha. Jadi memang tergambarkan di musik.
Namun, aku tidak bilang bahwa musik ku dan video klip itu keras. Mungkin hanya mencekam saja. Karena scene-nya tiba-tiba saja, sementara Incubus, Nirvana, memang mempengaruhi musik-musik ku.

IF : Kebetulan anak ku almarhum Galang suka juga dengan Nirvana.

Uki : Kalau aku justru tumbuh dan dipengaruhi oleh musik dari Inggris, seperti Oasis, Sweet, dsb.

IF : Bagaimana dengan peran syair, hubungannya dengan musik. Bagaimana pengaruhnya ?

Ariel : Syair dan musik, biasanya timbul berbarengan.

IF : Cerita dong tentang pembuatan video klip lagu Bintang Di Surga...

Ariel : Lagu itu sebetulnya ide tentang rasa apabila seorang yang dekat meninggal dunia. Ini problem dari setiap orang.

IF : Iya sih, aku juga takut mati... He he he. Ke depannya bagaimana tema lagumu, Riel?

Ariel : Mungkin tema-temanya tetap akan sama. Kata orang sih, tema-tema gelap, itu sudah bawaan. He he he. Tetapi pengen juga coba tema lainnya, karena tema tentang kematian di lagu Tiada Yang Abadi itu juga kan baru sekarang kami buat.

Uki : Iya, habis masa kecilnya pada kurang bahagia sih... He he he.

IF : Pilihan nama Peterpan, itu cukup heroik, atau bagaimana?

Ariel : Peterpan itu tidak atau bukan hero sih. Seperti Cinderella, lebih ke dunia fantasi. Jujurnya, nama itu kita nggak ikut-ikutan bikin namanya.
Pada saat itu kita sedang konsentrasi bikin 100 lagu dalam satu minggu. Jadi boro-boro bisa pikirkan nama. Waktu itu yang bikin nama Andika.

IF : Filosofinya apa, nama Peterpan itu?

Ariel : Peterpan filosofinya adalah seorang anak yang memang tidak mau beranjak dewasa. Lantas dia bertemu dengan peri, akhirnya dibawa ke Neverland. Di Neverland itulah dia merasakan tidak pernah mengalami tua. Setiap kali dia bahagia, dia lantas bisa terbang. Kalau dia sedang sedih, kekuatannya hilang.

IF : Incubus itu bagaimana?

Lukman : Musiknya itu modern rock atau cenderung alternatif. Tema lagunya juga komplit, ada percintaan, keluarga, sosial, macam-macam.

IF : Tadi Ariel juga mengakui dan menyadari bahwa video klip yang dibuat cenderung gelap. Bagaimana dengan yang lainnya ?

Uki : Sadar sih aku, hanya masalahnya itu tidak dipandang gelap semua orang. Sepupuku malah menjadikan video klip itu sebagai hal untuk lucu-lucuan.

Reza : Seperti lagu Bintang Di Surga, orang banyak juga yang cenderung memperhatikan suasananya, teknis pembuatan video klipnya. Sementara pada klip Tak Ada Yang Abadi, aku sadarnya sih pas nontonnya bahwa video klipnya rada gelap juga. Bahkan Jay sendiri, sempat nggak pede untuk cerita.


Ariel bertanya kepada salah satu kreatif pembuat video klip : Video klip Tak Ada Yang Abadi, apakah ada scene yang disensornya ?

Kru : Itu belum disensor, Mas Ariel.

IF : Kalau menurut aku sih nggak masalah juga, karena itu mewakili banyak persoalan yang dialami oleh banyak orang. Sekarang kan perkembangannya sudah seperti itu. Hanya, berarti Peterpan juga mesti siap menjadi tokoh gelap atau depresi. Ha ha ha.
Bagaimana pendapat fans mu ?

Lukman : Wah pernah juga tuh ada yang bicara soal video klip. Menurutnya akting Peterpan cukup baik, kenapa tidak main film saja?
Mungkin kalau adegannya dibacok-bacok itu akan terlihat sadis. Mungkin karena menggunakan senjata api, makanya menurutku tidak sadis.

Reza : Kalau soal teknik-teknik darah berceceran atau muncrat, justru lebih terlihat di video klip Bintang Di Surga, ketimbang Tak Ada Yang Abadi.

IF : Jadi pilihan itu juga bukan dari Peterpan ?

Reza : Bukan. Seperti video klip lagu Bang Iwan yang berjudul Bukan Lelaki Pilihan, emosinya juga 'dapat'.

IF : Itu Jay juga sih yang membuatnya. Aku jadi sadari juga, dan suatu saat perlu dipertanyakan ke Jay, mengapa video klipnya banyak yang rada-rada keras scene-nya. Ha ha ha.

Uki : Jangan-jangan Jay juga suka disiksa, saat masih kecil... Ha ha ha.

Ariel : Kalau visual sudah ide dari sutradaranya. Lantas bagaimana dengan musik kita nih Bang, apa lagu kita juga tertangkapnya hampir mirip dengan video klip?

IF : Ya kalau aku main bareng sama band mu, aku terkadang melihat juga gejala distorsi disitu. Terutama dari olahan musiknya, juga caramu bernyanyi, mulutmu tidak sepenuhnya terbuka dalam bernyanyi, sepertinya juga mengajak ke situ (suasana gelap). Berbeda dengan seriosa.
Tetapi ya tidak usah takut, selama itu bisa dikelola malah bagus. Apalagi musikmu memang mewakili kondisi sekarang yang keras, resah, dan depresi.

Ariel : Wah, ini sih gara-gara Kurt Cobain.. Ha ha ha. Dan terlebih band kita lahir di era reformasi. Itu juga mungkin berpengaruh.

PERBINCANGAN YANG MENG ASYIKAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar