Jumat, 16 Juli 2010

What’s Wrong With Jomblo?

Suatu hari seorang kawan tiba-tiba SMS: ada lagu menarik dari soundtrack Serial TV Jomblo: Sendiri Itu Indah, tulisnya. Serta merta SMS itu kubalas: masih lebih indah mendengarkan soundtrack film Heart: Berdua Lebih Baik, tulisku. Aku sendiri belum pernah mendengarkan lagu Sendiri Itu Indah yang dia maksud.

Sejak SMS kawanku itu, tanpa sengaja di Minggu malam tepat pukul 19, aku pun mendapati serial TV yang dimaksud. Dan aku pun melihatnya.

Terus terang saja, aku paling jarang melihat tayangan sinetron di TV. Sejak tahun 1995 aku membatasi mengkonsumsi TV kecuali program-program yang bervitamin. Bagiku, terlampau banyak mengkonsumsi TV sama halnya jika kita terlampau banyak mengkonsumsi makanan hewani: selain kolesterol, daging memuat emosi seseorang meningkat dan jelas tak sehat semasekali jika dikonsumsi secara berlebihan.

Kalau mau mengicipi: coba saja dalam sebulan penuh ikuti terus tayangan berita kriminal yang isinya melulu perampokan, pembunuhan, perkosaan, dan predikat hal negatif lainnya. Setelah masa sebulan itu, perhatikan cara berpikir kita, cara berpakaian kita, tingkah laku kita: pasti berubah.

Tapi kata kawanku, Serial TV Jomblo merupakan hiburan yang seger banget, tulisnya di SMS. Ketika pertama kali film layar lebar Jomblo beredar, setiap bertemu dengan seseorang, Dian Sastro selalu melontarkan pertanyaan: “Sudah liat Jomblo? Tonton deh! Harus nonton!” Aku jadi bertanya-tanya: apa yang menarik di cerita Jomblo, yang diangkat dari novel Aditya Mulya itu. Akhirnya sampailah aku pada Minggu malam ketika RCTI menayangkan Serial TV-nya pada jam prime time.

Saat itu sudah merupakan episode ke-3. Tak aneh bila aku mencoba mempertautkan jalan ceritanya karena tak mengikuti episod-episod awal. Tapi aku mencoba menikmati.

Memang ada kesegaran tersendiri. Tak seperti sinetron-sinetron lain yang biasanya selalu bikin aku ingin muntah, cerita Jomblo berkutat di areal dunia mahasiswa, kampus, dengan setting cerita kota Bandung. Empat pemain utama di serial ini kunilai bermain sangat natural, segar, dan pas. Meskipun secara karakter belum kutangkap samasekali. Barangkali karena baru melihat satu episod.

Cara penyajiannya pun kunilai menarik. Karena berupa adegan slot demi slot yang terpotong untuk menunjukkan cerita-cerita tertentu yang dilatari narasi.

Tetapi sejak awal hingga akhir ada beberapa hal yang sungguh sangat menggangguku. Yaitu ketidaksingkronan adegan. Beberapa yang sempat kucatat (nonton TV aja sambil nyatat. Terlalu!) seperti:

Saat si asisten dosen mengajak mahasiswa perempuannya makan. Ketika hendak menyeberang jalan, tiba-tiba lewat bis KOPAJA. Bagiku ini sesuatu yang fatal hingga bisa lolos di tahap editing. Oke-oke saja membuat cerita dengan setting Bandung dengan lokasi syuting Jakarta. Namun hal tersebut musti diperhitungkan sangat detail. Meskipun sejak awal banyak sekali kucatat mobil-mobil berplat B dalam tayangan itu. Namun bisa saja hal itu tetap terjadi di Bandung. Meski jika terus-menerus terjadi, dapat membuat tayangan menjadi tak wajar lagi. Tapi bis KOPAJA? Fatal!

Kemudian ada praktikum jam 19 malam. Tapi begitu selesai suasana di luar masih terang benderang. Lagi-lagi tejadi ketidaksingkronan yang cukup fatal.

Catatan kuliah dipinjam. Lalu dikembalikan. Kemudian yang memiliki menunjukkan bahan ujian dari buku catatan yang baru saja dikembalikan itu. Bagaimana mungkin? Kurang lebih dialognya seperti ini: “Eh, aku punya bahan-bahan ujian.”

Ketika adegan itu berlangsung, kuperhatikan si perempuan samasekali tidak mengeluarkan sesuatu pun dari dalam tasnya. Ia menyorongkan begitu saja buku catatannya di atas meja sebagai apa yang dia maksud bahan ujian. Padahal buku catatannya itu telah lama dipinjam oleh kawannya. Fatal!

Lalu ketika si bapak diminta anak perempuannya menunggu kedatangan pacarnya. Dengan maksud sang pacar diminta menjenguk bapaknya yang diceritakan sakit. Suasana rumah malam. Dengan lampu temaram. Jelas sekali. Namun selama perjalanan sang pacar dengan motornya, suasana jalan lebih tepat dikatakan sore hari. Dengan mobil-mobil berplat B di sekitar motornya tersebut. Sesampai di rumah, ketika hendak membuka pagar, suasana tetap sore hari. Terang benderang. Lagi-lagi terjadi ketidaksingkronan. Logika cerita atau adegan menjadi rusak dan tidak nyambung samasekali.

Memang, dalam pengambilan gambar sebuah produksi semacam itu tidak musti runut secara kronologis per adegan. Bisa loncat-loncat disesuaikan dengan waktu, tempat serta jadwal produksi dan pemain yang memungkinkan. Tetapi permasalahannya adalah ketika pengambilan gambar adegan per adegan tersebut melupakan logika cerita, yang terjadi adalah rusaknya tayangan itu ketika sudah jadi dan dikonsumsi.

Masih masuk akal ketika pada beberapa adegan yang terpisah, si bapak digambarkan sedang membaca koran. Meski tiga, empat hingga lima kali lebih adegan terpisah tersebut tetap menggunakan koran yang sama. Yaitu koran ‘Pikiran Rakyat’ halaman ‘Jawa Barat’ untuk menunjukkan setting cerita itu berlangsung.

Bagi penonton awam sepertiku saja sebetulnya hal tersebut masih dapat dikatakan mengganggu. Karena adegan demi adegan baca koran yang terpisah waktu serta hari itu selalu menggunakan koran dengan halaman yang sama. Yang lebih menggelikan lagi, ketika sang pacar juga mencoba membaca koran di hadapan sang bapak calon mertua. Koran yang dipakai sama persis!

Aku tidak tau apakah Jomblo ini kejar tayang atau tidak. Karena tulisan ini bukan artikel, aku tak sempat melakukan riset tentang produksi Jomblo ini. Yang kutau serial ini digarap oleh 3 penulis skenario.

Setelah tayangan itu usai, seperti nyambung, barangkali karena selama ini pun selalu menggunakan pola komunikasi pikiran, kawanku itu langsung menceritakan ketidaksikronan adegan-adegan dalam Jomblo lewat SMS, hal yang selama tanyangan berlangsung memang kupikirkan.

Padahal produksi Sinemart, tulisku lagi.

Lalu kenapa? balasnya. Sinemart tukang jiplak film Korea, Jepang, juga Taiwan.

Tentang jiplak-menjiplak ini, tentu takkan kubahas dalam tulisan kali ini. Ini soal lain lagi yang belakangan begitu merebak di cerita-cerita sinetron Indonesia.

Ai, perfilman Indonesia…


So what’s wrong with Jomblo?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar