Kamis, 13 November 2014

82 Tahun PSSI, Reborn atau Mati

1334754939844042554
Kamis 19 April 2012 nanti PSSI akan merayakan hari jadinya yang ke 82 tahun. Jika biasanya perayaan ulang tahun diusia setua itu diliputi kebahagiaan dan keharuan, potong tumpeng diramaikan oleh berkumpulnya anak dan cucu yang memeriahkan dan mendo’akan kebahagiaan yang berulang tahun. Namun ternyata, memasuki usia ke 82 tahun PSSI justru sepertinya diliputi kabar duka, dimusuhi anak cuci sendiri dan hidup menanggung hutang akibat ulah pengurus PSSI sebelumnya, pun demikian dengan kondisi keluarganya yang jauh dari kata harmonis. Anak yang seharusnya menjadi klub yang membanggakan dan bisa hidup mandiri ternyata banyak yang mengecewakan dan tak bisa hidup dari hasil keringatnya sendiri.
Walau telah memasuki usia senja dengan kesuraman hidup, PSSI tetap optimis bahwa dimasa depan keluarga dan anak cucunya akan bisa membanggakan dan hidup mandiri kembali, jika PSSI bisa mengarahkan mereka kejalan yang benar. Pun jika nantinya tidak semua anak tak bisa diselamatkan, masih ada cucu dan cicit yang mempunyai potensi dan harapan jika didik secara benar tak seperti nasib anak – anak PSSI yang salah asuhan selama ini. Tak ada kata terlambat untuk sebuah perubahan dan dengan kerja keras semua pihak masa depan sepakbola Indonesia pastikan membanggakan kembali, yakin PSSI.
Maka restart kompetisi dan upaya menuju profesionalisme klub harus ditempuh PSSI. Mungkin terasa kejam buat anak – anak PSSI yang terbiasa dimanjakan dengan guyuran APBD yang nyaris tanpa audit dan pertanggung jawaban serta terbiasa dibesarkan dalam lingkungan kompetisi yang jauh dari fair play dan sportivitas. Tawuran, pukul memukul pemain sampai wasit, skandal wasit sampai suap menyuap lumrah dilakukan selama ini. Untuk mendewasakan dan memandirikan anak – anak manja PSSI memang sikap tegas mutlak diperlukan untuk mengubah sikap mental mereka dari pemalas menjadi pekerja keras.
Pun demikian untuk para cucu dan cicit PSSI, agar tidak bernasib sama dengan orang tua mereka sang kakek PSSI telah menyiapkan rangkaian pendidikan dan pembinaan usia dini yang terencana, terstruktur dan terintregrasi sehingga lahirnya Akademi Nusantara di 6 daerah/kota, timnas yang berjenjang dari Timnas U12, U14, U17, U19, U21, U23 dan senior yang akan menjadi kawah candradimuka bagi pengembangan potensi cucu dan cicit agar bisa ditempa menjadi generasi siap mental, profesional, berkemampuan dan sekaligus menjaga nilai fair play dan sportifitas yang kelak akan membanggakan bagi bangsa Indonesia nantinya.
Tapi memang sepertinya sudah menjadi sebuah keniscayaan, selalu saja ada perlawanan terhadap niat baik dan perjuangan menuju perbaikan dari pihak – pihak yang dirugikan atau dirampas kepentingannya dari bobroknya kehidupan anak – anak PSSI selama ini. Para mafia wasit, Koruptor APBD, bandar judi dan para pihak yang mengambil keuntungan dari eksploitasi klub selama ini pasti tidak rela jika ladang mereka diganggu oleh PSSI. Akhirnya para perusak dari pihak yang dirugikan tersebut pasti akan melawan secara frontal, sekuat tenaga, membabi buta dan menghalalkan segala cara untuk menggagalkan usaha PSSI memperbaiki mental dan nasib anak cucu dan cicit PSSI.
Bagi para perusak itu dikepala mereka tujuannya tentu hanya dua, rebut kembali hati anak – anak PSSI agar mereka bisa makin dijerumuskan dan dikendalikan lagi agar mengereka kembali bisa berkuasa, mengekploitasi dan mengambil keuntungan lagi. Pun demikian bagi cucu cicit PSSI, mereka tentu telah mempersiapkan perangkap agar generasi muda ini akan terperosok seperti senior mereka dan akhirnya mata rantai ladang korupsi mereka bisa tetap lestari. Jika pilihan pertama tak berhasil mereka capai, para perusak itu tentu tak rela jika upaya PSSI berhasil. Maka jika mereka terpaksa kehilangan kendali atas anak cucu PSSI maka merekapun akan berusaha secara maksimal agar keluarga besar PSSI disanksi masyarakat sepak bola dunia yang dipimpin oleh FIFA, tersingkir dari pergaulan dan akhirnya mati harapan dibawah sanksi FIFA.
Akhirnya nasib perjuangan PSSI dalam memperbaiki keluarganya tak akan lepas dari kita sebagai suporter, tetangga dan lingkungan terdekat penjaga PSSI. Kerja PSSI tentu akan lebih mudah jika suporter meninggalkan ego klub dan kedaerahannya dan bahu membahu mendukung perbaikan yang dilakukan PSSI saat ini. Jikapun tidak ada yang bisa dilakukan oleh kita setidaknya ada dua hal yang bisa kita lakukan untuk membantu PSSI. Pertama, beri kesempatan pada PSSI agar mereka bisa fokus bekerja memperbaiki diri. Jika kita bisa sabar menunggu 8 tahun untuk menurunkan Nurdin Halid, kenapa tidak bersabar untuk 1 periode saja era PSSI Djohar Arifin? Mendukung tak berarti memberi cek kosong, tapi tetap harus memberi kritik dan koreksi demi perbaikan sepakbola Indonesia. Kedua, suporter bisa memberikan sanksi moral kepada para perusak itu dengan harapan mereka bisa jauh dari PSSI dan tak lagi menjerumuskan klub kedalam kegelapan lagi.
Akhirnya kita saat ini hanya bisa memilih buat PSSI, Reborn atau Mati! Kembali terlahir dari rahim pengurus PSSI saat ini yang menawarkan kemandirian, keterbukaan, profesionalitas dan pembinaan usia dini atau melihat PSSI mati dalam sanksi FIFA dan terpuruk dalam kegelapan kekuasaan rezim lama kembali yang telah terbukti 8 tahun diberi kesempatan tanpa mampu memberikan prestasi buat bangsa ini.
Selamat ulang tahun ke 82 PSSI, semoga semua stake holder sepakbola Indonesia bersatu membantumu untuk Reborn, terlahir kembali demi kejayaan dan kebanggaan negeri ini dan tak rela engkau mati disanksi FIFA dan terpuruk dalam kegelapan abadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar