Selasa, 18 November 2014

SUPORTER : Profesi Tergila Di Muka Bumi

SUPORTER : Profesi Tergila Di Muka Bumi


Kalo yang pernah nonton film 300 pasti bakal inget sama scene ini, pas Leonidas tanya apa profesi dari ribuan prajurit yang akan membantunya. Jawaban dari prajurit itu beda-beda, ada yang jawab petanilah, peternaklah, eeklah. Tapi ketika Leonidas bertanya ke prajurit Sparta yang Cuma 300 orang itu, semua menjawab serentak,seragam,sama dan sebangun, yaitu WARRIOR alias prajurit. Gober dan GDT, teman seper-eek-an saya sejak 1998, dulu pernah guyon pengen ngisi kolom pekerjaan di KTP dengan suporter. Saya Cuma ketawa aja waktu itu. Bukan meremehkan mereka atau bahkan meragukan betapa total 2 nama itu ketika menjadi suporter, saya justru tertawa dengan regulasi di Indonesia yang semuanya harus serba serius. Memangnya suporter bukan hal yang serius? Eek.. Menurut versi film Nagabonar Jadi 2, sepakbola Indonesia tidak bisa maju karena minimnya lapangan sepakbola yang tersedia di Indonesia. Hal itu tidak salah, saya pun juga menyetujuinya. Tapi penyebab lainnya adalah tidak adanya suporter sepakbola di Indonesia. Tidak ada suporter gimana? Jelas-jelas kalo timnas main GBK sering penuh gitu kok. Eek sekali yah saya? Coba tanya ke setiap orang yang dateng ke GBK, apa profesi mereka? Mungkin dari mereka ada yang jawab karyawan bank, agen asuransi, pengusaha, hingga profesi artis dan presiden, atau kalo saya yang jawab saya bakal jawab cover boy sekaligus foto model papan atas dunia. See? Nyaris tidak ada yang menjawab profesinya suporter. Bagaimana sepakbola Indonesia bisa maju kalo yang dateng ke stadion tidak ada yang berprofesi sebagai suporter?Suporter, menurut para ahli tata bahasa berasal dari bahasa Inggris, supporter, konon artinya pendukung. Jadi siapapun yang dateng ke stadion dan mendukung tim itu sudah masuk kategori suporter. Kalo dibantah kayak gitu maka jadi eeklah saya. Secara definisi berdasar bahasa betul, bahkan Kabul penjual tahu asin di stadion pun sudah bisa masuk kategori suporter. Tapi suporter memiliki nilai lebih dari sekedar definisi berdasar bahasa di kamus. Suporter tidak sekedar memberikan dukungan dengan Cuma dateng di stadion. Suporter tidak Cuma sekedar nyanyi-nyanyi di tribun atau ngechant atau apalah itu istilahnya. Suporter memiliki nilai lebih dari itu. Suporter versi saya adalah orang yang siap mati dan siap miskin demi yang dibanggakannya. Siap mati dan siap miskin? Kok bisa? Ya bisa, nggak usah ngeyel. Eek.. Bukan mau mengungkit peristiwa kelam masa lalu, tapi banyak peristiwa di dunia sepakbola ini yang menempatkan nyawa di urutan embuh ra weruh. Untuk urusan sepakbola lokal, kita pernah disuguhi berita Bonek yang diserang di Solo, seorang suporter Persib yang nekad nonton Persija-Persib di GBK yang notabene “haram” untuk pendukung Persib, ketegangan pendukung Persijap-PSIS, bentrok Pasoepati-BCS, bentrok Pasoepati-pendukung PSIM, bentrok pendukung PSIM-PSS, dan masih banyak lagi. Bagi mereka yang kadar kesuciannya melebihi malaikat pasti mengutuk aksi-aksi kekerasan dan bentrokan yang sering meminta nyawa itu. Tapi bagi kami eh bagi mereka, karena saya seorang cover boy papan atas, bukan suporter, itu adalah hal paling sederhana yang bisa mereka lakukan untuk kebanggaan mereka. “Sepakbola Indonesia itu kejam, nonton aja bisa mati” kalo kata tokoh kakek dalam film Garuda Di Dadaku. Si sutradara mungkin belum kenal Tonggos, Bagong, sopo meneh, wes okehlah, termasuk saya, yang tidak hanya harus siap mati tapi juga siap miskin. Tidak jarang kami harus sibuk menjual barang-barang pribadi, nilep uang kuliah, nilep uang buku, nyolong ayam demi bisa mendukung tim kebanggaan. Hal itu akan semakin parah saat kami harus bertandang ke kandang lawan. Sudah harus siap mati, harus siap miskin pula. Eek banget yes jadi suporter itu? Indonesia, sebuah negara kaya berpenduduk banyak, talenta berlimpah, tapi kok prestasi sepakbolanya kayak eek? Selain mungkin karena orang-orang di federasi yang memang kayak eek, mungkin juga karena tidak adanya profesi suporter di Indonesia. Keberhasilan atau kesuksesan dalam prestasi itu harus dibentuk sejak dalam pikiran..pola pikir alias mindset. Jadi...... What is your profession? Kali ini saya tak akan menjawab cover boy sekaligus foto model papan atas dunia, kali ini saya akan jawab dengan mantap ala Spartan di film 300, SUPORTER!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar