Kamis, 13 November 2014

Football For Unity Not For Politics

Football For Unity Not For Politics



Sudah seminggu lebih kawan-kawan suporter rela menginap di sekitar GBK, tidur di trotoar, beralaskan koran, beratapkan langit, semua demi 1 tujuan REVOLUSI PSSI. Salut buat perjuangan kalian, yang menginginkan pesepakbolaan INDONESIA menjadi lebih baik. Karena bagi kita kaum sepakbolaisme atau penggila sepakbola, sepakbola merupakan kebanggaan yang tiada tara. Bagi kami sepakbola bukan hanya permainan bola 11 vs 11. Bukan hanya soal kalah-menang, tapi lebih dari itu. Football is my soul. Football is everything.

INDONESIA adalah negara besar nan kaya raya. Indonesia Memiliki rakyat yang tidak hanya  cukup, tapi juga sangatlah fanatik sepakbola. 200 juta lebih rakyat INDONESIA 80%nya adalah pecinta sepakbola. Mulai dari bocah hingga orang tua. Pria – wanita, pengangguran - pejabat dan sebagainya. Dari 80% rakyat INDONESIA pecinta bola ada 30% yang rela mati demi sepakbola. Ya.. bagi kami pertandingan sepakbola bukan hanya soal pertandingan tapi juga sudah seperti ritual resmi, stadion sebagai rumah ibadah kami. Kemenangan adalah tujuan kami. Disanalah tempat kebanggaan kami pertaruhkan segalanya.

Bolehlah kalian anggap gw lebay, bolehlah kalian bilang gw gila, tapi kalian liat sendiri, keributan antar suporter merupakan hal yang sebenarnya sangat disayangkan terjadi. Itulah karena kami tak ingin kebanggaan, kehormatan kami dirusak. Keributan suporter merupakan hal negatif dalam hal fanatisme yg berlebihan. Selain itu orang-orang bahkan kaum wanita pun rela mengantri tiket final  AFF cup walau harus tidur dijalan. Bahkan sampai jatuh pingsan (gw ngeliat dengan mata gw sendiri). Tapi disisi lain ada hal positif dari fanatisme, yaitu kebanggaan akan hal murninya sepakbola. Football is football. Suatu permainan yang dapat dinikmati oleh orang banyak. Bukan hanya segelintir orang atau orang dari kalangan tertentu saja. Maka itulah yg kini terjadi di INDONESIA. Para suporter dari berbagai daerah datang menyerbu jakarta untuk suatu perubahan di tubuh organisasi tertinggi sepakbola indonesia. The Jak sebagai tuan rumah pun mempersilahkan para suporter untuk datang dan melakukan orasi menyampaikan pendapat mereka. Bahkan dari bonekmania yg jauh jauh datang dari surabaya yang notabenya musuh dari THE JAKMANIApun bersatu menjatuhkan rezim Nurdin yg dianggap gagal memimpin PSSI. Tak hanya bonek, erlihat juga  Amania, Boromania, Panser biru, Slemania, Viola, Singamania, Pasoepati dll 1 tekad datang kejakarta untuk revolusi PSSI. Aksi mereka bukanlah bayaran seseorang atau sekelompok. Tapi gerakan mereka murni akan fanatisme dan cintanya pada sepakbola.

Kami para pecinta sepakbola tanah air sudah sangat lelah dengan apa yg terjadi di NEGRI ini. Bobroknya pesepakbolaan kita memang tak terlihat dalam cerminan permainan timnas. Tapi coba kalian lihat berbagai aspek sepakbola NEGRI ini. Indonesia NEGRI yg sangat kaya hanya memiliki beberapa stadion standar Internasional, tak adanya pembinaan dini, dan yg  lebih hangat menurut gw PSSI mencoba mencari jalan pintas mendatangkan prestasi dengan adanya natiuralisasi. Bagi gw itu hanya membuat anak bangsa kehilangan kesempatan mengenakan lambang garuda di dada. Ok lha dalam ajang piala AFF lalu hanya Gonzales dan bachdim (pemain keturunan) yg merupakan hasil naturalisasi, tapi kini dalam seleksi skuad U-23 berdatangan banyak sekali pemain asing yg latah menjajal menggunakan seragam kebanggaan INDONESIA.

Dan   bagi gw yang paling mencolok adalah sepakbola di indonesia kini sudah disusupi adanya unsur politik. Saat timnas sukses masuk final AFF, rombongan timnas yg sedang sangat amat populer dibawa ke rumah salah satu ketua umum partai. Dan statement dari ketua umum PSSI yang bagi gw gak banget deh. “kesuksesan timnas adalah tak lepas hasil jerih payah partai Golkar”. HALOOO bapak..  mulai kampaye nih?? Dan lebih terlihatlah jatidiri sang ketua umum PSSI mau dibawa kemana arah sepakbola ini. Kini saat para suporter menginginkan REVOLUSI PSSI, seakan ingin mengambil kesempatan bapak mentri kita mengeluarkan statement yg buat gw cuma memperkeruh suasana. Alhasil kini terjadi pertentangan antara PSSI yg mengatasnamakan organisasi independent tanpa intervensi pemerintah vs Menpora yg mengatasnamakan Negara yg mengharuskan PSSI tunduk di dalamnya.  Bagi gw ini bukanlah jalan untuk revolusi PSSI, tapi ini hanya akan melahirkan sang penguasa baru PSSI atau sang penguasa lama akan tetap bertahan. Jelas sudah bagi gw demo yg kawan-kawan suporter lakukan tak mendapatkan hasil yg memuaskan. Karena orang-orang yg memiliki kepentingan didalamnya sibuk akan kepentingan pribadi dan kelompoknya daripada kepentingan kita yg menginginkan adanya suatu perubahan di tubuh sepakbola ini.

Hai para penguasa PSSI, tahukah kalian kalau kami adalah korban dari ketidakbecusan kalian mengelola PSSI. Contoh kongkitnya adalah  ticketing final leg 2 AFF cup yang tak jelas. Banyak orang-orang dari berbagai daerah ingin menonton langsung timnas berlaga di Final dengan segala pengorbanannya dalam hal materi ataupun hal lain kecewa dengan pengelolaan tiket yg sangat buruk. Kalian salalu berlindung dengan sekumpulan kertas yg bernama statuta FIFA, tanpa menyadari ketidakpantasan kalian mengelola olahraga yg kami junjung tinggi. Kalian juga memiliki dukungan dari salah satu partai politik dan sepakbola kalian jual untuk mendongkrak popularitas partai politik. Dan kemarin saat rapat dengan anggota DPR sang penguasa PSSI mengadu sebagai korban dibalik semua aksi serta tuntutan kami ini. Sadarkah bapak kamilah korban sebenarnya. Korban dari ketidakbecusan bapak serta konco-konconya mengurus dan membawa PSSI sebagai alat politik.

Tapi perlu juga diketahui INDONESIA adalah Negri demokratis. Kekuasaan ada di tangan rakyat, begitu juga sepakbola. Suporter adalah rakyat dalam sepakbola. Pemain,Pelatih,pengurus PSSI bisa berganti. Tapi suporter itu abadi! Suporter pemilik sah sepakbola!!

Dalam tulisan gw sebelum ini, gw   seringkali menutupnya dengan lagu para suppporter yg tak puas akan kinerja PSSI.dan kali ini pun akan begitu. Tapi ini bukan berarti gw kehabisan kata-kata. Karena lagu ini pun menyimpulkan apa yang kami inginkan

APAPUN YANG TERJADI KAMI TETAP JANJI MENDUKUNG BOLA NEGRI INI
POLITIK BERKELAHI SALNG CACI-MAKI, BAGI KAMI FOOTBALL FOR UNITY

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar