Kamis, 13 November 2014

Akhir militansi dan kegagalan Punk ?


Yes that’s right, punk is dead,

It’s just another cheap product for the consumers head.
Bubblegum rock on plastic transistors,
Schoolboy sedition backed by big time promoters.
CBS promote the Clash,
But it ain’t for revolution, it’s just for cash.
Punk became a fashion just like hippy used to be
And it ain’t got a thing to do with you or me.Movements are systems and systems kill.
Movements are expressions of the public will.
Punk became a movement cos we all felt lost,
But the leaders sold out and now we all pay the cost.
Punk narcissism was social napalm,
Steve Jones started doing real harm.
Preaching revolution, anarchy and change
As he sucked from the system that had given him his name.–”Punk Is Dead”, Crass
Underground Tauhid—Sekitar tahun 1995-an, para remaja di Indonesia terjangkit gejala demam kultur Punk yang masuk -salah satunya –  melalui kemudahan mengakses channel musik MTV. Saat itu video-video klip Green Day, The Ramones, Sex Pistols sampai The Clash bisa sewaktu-waktu muncul dalam program semisal MTV Superock. Rilisan band-band itu juga menjadi lebih mudah ditemui di toko-toko kaset. Ditambah lagi ada puluhan majalah remaja mengulas tentang kultur Punk, mulai sejarahnya di Barat hingga bagaimana kultur itu mulai disukai remaja-remaja masa itu, dari SMP hingga yang berada dibangku kuliah. Alhasil, masuklah sub-kultur Barat itu dengan sangat cepat, menyebar luas, serta berkembang dari tahun ke tahun.
Dari fashion ke militansiAwalnya punk hanya dikenal sebagai sebatas jenis musik. Dari situ berkembang menjadi penampilan. Hal ini dipicu dari para pecintanya yang berusaha menduplikasi dandanan para personel band-band punk yang sedang booming ketika itu. Dalam waktu hanya 2-3 tahun saja, tiba-tiba disekolah-sekolah SMA bermunculan ‘anak-anak punk’ yang dengan pede-nya memamerkan rambut mohawk dan dicat berwarna-warni, rantai anjing di pinggangnya, jaket kulit dengan spike, sepatu boots, celana ketat kotak-kotak ala Scotlandia dan penuh emblem. Band-band punk menjamur dikalangan anak-anak remaja ketika itu. Hanya bermodal skill bermusik pas-pasan, dan hanya bisa tiga chord saja sudah cukup bagi mereka untuk membentuk sebuah band yang mereka sebut: punk. Akan terlihat sangat cool ketika itu kalau bisa tampil di panggung dan dilihat banyak orang. Meski mainkan alat musik masih amburadul, yang penting terlihat keren dengan dandanan sangar ala punk dan sok berteriak-teriak “fuck government!”, “system sucks!”, atau segudang kalimat hujatan lainnya yang ditujukan kepada penguasa.
Kemudian punk berkembang menjadi lebih mengarah pada aspek pemikiran. Coretan-coretan berupa simbol huruf A yang dilingkari –yang  mungkin sering mereka temui di kaset, klip, atau media lainnya – mulai dicari tahu makna filosofisnya. Buku-buku tentang anarkisme mulai menjadi ketertarikan baru bagi sebagian remaja punk ketika itu. Hal itu ditandai dengan munculnya band-band yang bukan hanya bisa berteriak memaki pemerintah, namun juga membuat propaganda-propaganda pemikiran melalui zine dan newsletter. Nama sebuah Newsletter yang paling gencar menyuarakan konsep pemikiran anarkisme ketika itu adalah Submissive Riot yang diterbitkan secara DIY oleh Riotic Records[1]. Sebuah label punk/hardcore asal Bandung.
Secara pemikiran, mereka jadi lebih menyukai Crass atau Conflict daripada Sex Pistols atau The Exploited. Ide-ide tentang liberalisme dan anarkisme menyebar luas dalam waktu singkat. Zine-zine baru dari komunitas sub-kultur ini bermunculan seiring dengan banyaknya kolektif-kolektif anarkis disetiap kota mulai menunjukkan aksi-aksi perlawanan. Terbitan buku-buku “kiri” yang sebelumnya sangat diharamkan di Indonesia, saat pemerintahan Gus Dur menjadi kegembiraan tersendiri bagi kolektif-kolektif punk yang berhaluan kiri.
Saat itu ada masa-masa dimana orang-orang yang masuk dalam kultur punk ini begitu militan dan memiliki idealisme yang tinggi. Misalnya saja dalam hal pemboikotan produk-produk yang terang-terangan melakukan eksploitasi alam maupun SDM, banyak punk ketika itu begitu gencar menolak dan mengajak teman-teman lainnya untuk aksi-aksi menghancurkan korporasi-korporasi multinasional itu. Seorang teman saya ketika itu ada yang mengaku dengan sengaja melamar pekerjaan sebagai pelayan di restoran burger terbesar didunia yang cabangnya tersebar diseluruh Indonesia, lalu ketika bekerja dia melakukan aksi-aksi pencurian uang kasir, sisa-sisa milk shake yang jumlah ber-jerigen-jerigen, burger, ayam goreng, bahkan sampau demi merusak kualitas makanan dan kepuasan pelanggan dia sering meludahi isi burger sebelum diberikan kepada pelanggan. Masih banyak lagi, militansi para punk ketika itu hingga anti terhadap pakaian apapun yang berasal dari hewan (vegan), hidup tanpa menggunakan kendaraan bermotor, tidak pernah absen dalam setiap aksi-aksi turun ke jalanan untuk melawan ketidakadilan.
Awal era “berkompromi” dan akhir militansiNamun masa-masa militan itu bisa dihitung jari tangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap aktifitas berpotensi adanya kejenuhan. Dan yang pasti, setiap manusia akan terus berubah semasa hidupnya. Mereka-mereka yang mulai memasuki usia 30-an, mulai menikah, punya anak, akhirnya harus berkompromi dengan sistem melalui pekerjaannya demi menghidupi keluarga. Tuntutan akan kemandirian dan kesuksesan hidup ketika beranjak memasuki usia itu menyebabkan beberapa band memilih meninggalkan do it yourself dan menerima tawaran label-label besar dengan iming-iming uang. Dan mereka cukup menutupi perasaan “menyerah”-nya dengan argumentasi umum: profesionalisme.
Satu persatu punk meninggalkan atributnya. Tidak perlu lagi rambut mohawk, cat warna-warni, jaket dan sepatu boots. Satu persatu mereka melepaskan label vegan, straight edge, anarkis, libertarian, DIY dan lain sebagainya. Sudah tidak terlalu masalah lagi saat ini yang dulunya mengaku anarkis-punk lalu saat ini duduk di gerai McDonald’s bersama keluarganya, atau sekedar menenggak segarnya Coca-cola yang dulu pernah dicacinya.
Yah,…memang masa-masa militansi punk sudah hampir berakhir. Kolektif-kolektif sudah hampir punah. Gerakan perlawanan hanya sebatas personal saja. Zine-zine yang mengusung ide-ide anarkisme sudah banyak yang sekarat. Punk kembali lagi seperti awal kemunculannya di Indonesia yang hanya dipahami sebatas musik dan fashion (penampilan). Punk kembali sebagai trend anak-anak ABG labil yang masih mencari jati dirinya. Punk kembali lagi ke masa-masa dimana tidak perlu pusing-pusing masuk di ranah pemikiran. Konsep-konsep yang dulu diyakini mampu merubah kehidupan kondisi sosial-masyarakat, kini dilipat dan disimpan rapi berjajar di rak-rak buku berdebu dirumah.
Tapi memang selalu seperti itulah akhir dari ide-ide hasil pemikiran manusia. Gagal dan berakhir pada kekecewaan. Seorang mantan punk yang dulu sangat aktif di Kolektif Kontra Kultura[2] ikut memuntahkan semua kekecewaannya terhadap teman-temannya dalam bentuk essay berjudul “Kegagalan Punk”. Yah,..sekali lagi. Bagaimanapun pasti akan tetap mengecewakan jika meyakini konsep pemikiran yang selalu gagal disepanjang sejarah. Selamanya tidak akan pernah berhasil dengan mulus. Dalam essaynya itu dia mengutip kalimat Kent McLard dari Ebullition:
“Tampaknya, menentang arus, menjadi seorang anarkis, tinggal di sebuah squat, pada usia 20-an tampaknya menjadi sebuah hal yang menyenangkan. Tetapi pada usia 30-an, tampaknya akan lebih menyenangkan apabila kita justru menceburkan diri keadalam arus dan mengikuti kemana saja alurnya mengalir.”
Mungkin benar apa yang dikatakan band anarkis Crass, “Punk is dead”. Mungkin mereka tersadar setelah sekian puluh tahun memperjuangkan sesuatu yang utopia itu melelahkan. Sesuatu yang diperjuangkan tapi sejak awal mengerti bahwa itu tidak akan pernah terwujud. Sehingga memilih “mati”,”mundur” atau “menyerah” daripada melakukan kesia-siaan adalah fitrah manusia.
***
Dari tulisan yang saya buat ini, saya ingin mengatakan bahwa punk telah gagal.[3] Seluruh konsep yang ‘ideal’ yang selama ini diagung-agungkan para pecintanya tidak lagi memiliki nilai. Jika ada yang bertanya kepada saya tentang punk, akan saya katakan kepadanya, “tinggalkan saja kultur itu”. Sudahi menjadi anarkis. Isi kehidupan ini dengan konsep hidup yang jauh lebih jelas dan teruji. Konsep yang sudah teruji dan telah sempurna sejak 1400 tahun yang lalu. Ada yang tahu? []
[# Sebarkan kepada teman-teman punk-mu!]
Oleh : Aditya Abdurrahman a.k.a Aik
Ed: Faiq


[1] Riotic Records awalnya merupakan gerakan yang memiliki militansi yang tinggi terhadap punk dan anarkisme. Namun kemudian berubah menjadi Riotic Distro ketika semakin lama punk berubah menjadi komoditi dan trend.
[2] Sebuah kolektif anarkis yang berbasis di Bandung, yang sangat gencar menyebarkan pemikiran mereka melalui distribusi literatur, zine, maupun rekaman. Salah satu penggeraknya adalah Pam, mantan vokalis band Runtah dan Kontaminasi Kapitalis.
[3] Jika istilah punk memang masih tetap dipakai, maka istilah itu harus didefinisikan kembali agar tidak menjadi gerakan yang utopis dan sia-sia. Baca “Re-definisi Punk” (Sub Chaos zine #10, 2012)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar