Kamis, 13 November 2014

“Sedih”-nya Putra Samarinda, “Senang”-nya Petrokimia Putra


Persisam dan Persisam Putra. Apakah ada perbedaannya? Kita mengetahui bahwa Persisam merupakan perserikatannya kota Samarinda. Persisam Putra? Persisam Putra merupakan klub gabungan (merger) antara dua klub yang berasal dari kota Samarinda yaitu Persisam dan Putra Samarinda. Jadi, jelas, dua nama itu berbeda.
Pada masa lalu, Persisam merupakan peserta kompetisi Perserikatan —kompetisi ini sering diidentikkan sebagai kompetisi amatir. Begitupun Putra Samarinda yang pernah mengikuti kompetisi Galatama (dan Liga Indonesia) —kompetisi ini sering diidentikkan sebagai kompetisi (semi) profesional.
Lalu, apakah bisa “klub sepak bola utama” yang profesional melakukan merger dengan “klub Perserikatan” yang amatir? Tidak rasional, bukan?
Namun, sebagian (besar?) dari kita tampaknya melupakan konsep Liga Indonesia yang direncanakan pada awal pendiriannya. Pada saat itu, Perserikatan yang menjadi peserta Liga Indonesia ialah klub profesionalnya, bukan amatir. Perhatikan pula istilah-istilah yang muncul: Eks Galatama dan Eks Perserikatan. Jadi, Persija (amatir) misalnya, membentuk klub Persija (profesional) untuk mengikuti kompetisi profesional (Liga Indonesia). Mau yang lebih mudah, lihatlah Malang United sebagai klub bentukan Persema Malang (meskipun akhirnya kembali lagi ke Persema karena alasan dapat “menghilangkan” sejarah dan/atau “salah paham” pada konsep).
Lupa atau tidak peduli pada konsep inilah yang membuat hampir semua pihak (klub) hampir tidak pernah berpikir profesional (khususnya pada masalah dana). Namun, tentu saja, hal ini bukan masalah mudah dan profesional atau tidak profesional bukan semata-mata pada perubahan nama klub. Tidak sesederhana itu.
Selain itu, klub profesional boleh pindah homebase atau bubar, tetapi Perserikatannya tetap ada. Lihatlah Persisam Putra! Persisam Putra boleh-boleh saja bubar (maaf, ini hanya contoh untuk menjelaskan), tetapi Persisam (tanpa “Putra”) mestinya tetap ada. Karena itu, NMR menulis Persisam Putra sebagai peserta Divisi Utama Liga Indonesia 2008-2009 (kompetisi profesional) dan Persisam (sebagai peserta kompetisi U-21 (kompetisi amatir).
Bagaimana jika klub profesional pindah homebase? Lihatlah Persijatim Jakarta Timur (DKI Jakarta)! Pada masa lalu, meskipun Persijatim berubah nama menjadi Persijatim Solo FC sehingga dapat mengikuti Liga Indonesia sebagai wakil kota Solo (Jawa Tengah), Persijatim Jakarta Timur tetap ikut serta dalam kompetisi amatir (U-18 dan U-15) di Zona DKI Jakarta.
Kembali ke Persisam dan Persisam Putra. “Beruntunglah” Persisam yang namanya tidak hilang. Nama Persisam masih harum dalam tulisan-tulisan di beberapa media massa. Putra Samarinda? Ah, mungkin Putra Samarinda “sakit hati” karena namanya jadi hilang dalam “perjuangan” merger tersebut.
Rasa “sakit hati” Putra Samarinda tentu tidak dirasakan oleh Petrokimia Putra (Gresik). Petrokimia Putra dan Persegres masih tercatat dalam sejarah sebagai Gresik United (meskipun kita jarang menulis atau mengatakan Persegres dan Petrokimia Putra). Jika mau disamakan, mengapa Gresik United tidak ditulis Persegres saja sebagaimana Persisam? Ya, mungkin itu hanya soal “nasib” antara klub Perserikatan dan klub Galatama.
Namun demikian, Persisam Putra dan Gresik United masih tetap langgeng. Bagaimana dengan PPSM Sakti (Magelang) sebagai hasil merger antara PPSM dan Panca Sakti? Kabar terakhir yang NMR peroleh, PPSM dan Panca Sakti telah “bercerai”. Kalau pun PPSM Sakti masih dipakai dalam kompetisi musim lalu, hal itu berkaitan pada masalah administrasi di PSSI. Nama PPSM Sakti terdaftar sebelum PPSM dan Panca Sakti bercerai.
Jadi, mana yang tepat: Persisam atau Persisam Putra? Jangan-jangan kita lupa dan tidak peduli pada masalah “sederhana” itu!

http://novanmediaresearch.wordpress.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar