Jumat, 14 November 2014

SEPAKBOLA, HOOLIGANISM, DAN KEKERASAN

Tulisan ini merupakan sebuah pemikiran dari penulis dalam menjawab permasalahan yang ada dalam sebuah fenomena yang populer saat ini, yaitu isu-isu yang terkait dengan sepakbola. Penulis akan mencoba mencari dan menjelaskan hubungan antara sepakbola, hooliganism, dan kekerasan oleh supporter. Hal ini tentunya akan dikaji melalui sudut pandang kriminologis, studi yang saat ini sedang ditempuh oleh penulis.
Sepakbola merupakan salah satu olahraga yang paling populer di dunia saat ini. bisa dikatakan bahwa setiap orang pasti mengenal sepakbola, sekalipun orang itu tidak menyukainya. Apabila kita lihat lebih jauh lagi, permainan ini dapat menimbulkan berbagai bentuk tindakan sosial. Tindakan sosial didefinisikan oleh Weber dapat terjadi ketika individu melekatkan makna subjektifnya pada tindakan yang mereka lakukan. Relevansi antara sepakbola dan konsep tindakan sosial ini dapat kita lihat dari munculnya tindakan yang ditimbulkan oleh supporter sepakbola, misalnya kekerasan yang dilakukan oleh mereka.
Sudah menjadi opini masyarakat bahwa setiap ada pertandingan sepakbola, khususnya di Indonesia, berpotensi untuk timbulnya kekerasan yang dilakukan oleh supporter sepakbola ini. Masyarakat pun menjadi acuh dan menutup mata terhadap aksi ini. pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah tujuan sebenarnya dari para supporter sepakbola ketika melakukan kekerasan? Menurut penulis, pertanyaan ini idealnya juga muncul di kepala kita masing-masing.
Sebelum membahas lebih lanjut, kita harus dapat mengenal salah satu konsep yang ada di dalam diskursus seputar sepakbola. Konsep tersebut adalah hooliganism. Sebelum ada konsep yang bernama hooliganism, konsep yang terlebih dahulu dikenal adalah sport violence dan football-related violence. Secara sederhana, kedua konsep ini dapat dijelaskan sebagai kekerasan yang ditimbulkan pemain (on the pitch) dan kekerasan yang disebabkan oleh penonton (off the pitch). Namun demikian, kedua konsep ini masih terlalu heterogen dan membutuhkan kajian yang lebih dalam agar hasil yang didapatkan lebih ideal.
Hooliganism sendiri juga memiliki berbagai macam penjelasan yang juga berbeda-beda antara satu definisi dengan definisi yang lainnya. Salah satunya adalah Report on Football Hooliganism in the Member State of the European Union yang ditebitkan pada tahun 2002 mendefinisikan hooliganismsebagai sekelompok tindakan yang bersifat menyerang termasuk di dalamnya kekerasan terhadap orang, pengerusakan properti dan fasilitas, penggunaan alkohol dan narkoba, merusak pelanggaran terhadap kedamaian yang tercipta, serta pencurian dan pemalsuan tiket pertandingan.
Pandangan berbeda dinyatakan oleh Frosdick dan Marsh (2005) yang menyatakan bahwa kerancuan tentang pendefinisian hooliganism disebabkan adanya konstruksi yang dilakukan oleh media dan politikus dan sebenarnya bukan merupakan konsep sosial yang ilmiah. Dalam konteks ini, konsep tentang hooliganism dibangkai sedemikian cantik dengan menggunakan kekuasaan yang ada dan didefinisikan untuk tujuan dari sebuah peraturan yang ditujukan kepada publik.
Definisi lain menyebutkan bahwa secara prinsipil, hooliganism merupakan kekerasan kompetitif dari sebuah kelompok supporter sepakbola, yang sederhanya bertujuan untuk melawan kelompok supporter lawan. Secara umum, hooliganism ini merupakan istilah yang sering digunakan di Inggris dalam menanggapi gerakan dari pemuda yang melakukan kekerasan terhadap kelompok supporter lainnya.
Dari definisi yang ada tersebut, hooliganism dapat diartikan sebagai sebuah tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok supporter sepakbola yang bentuk utamanya adalah untuk melawan kelompok musuh. Selain itu, konsep ini menjadi semakin besar karena adanya konstruksi yang dilakukan oleh media dan pemerintah terhadapnya. Hooliganism merupakan sebuah formula yang tersendiri dari konsep sosial yang membicarakan mengenai subkultur dari kelompok supporter dan keterlibatan mereka dalam melakukan kekerasan.
Studi pertama kali yang membahas tentang hooliganism dilakukan di Inggris. Oleh karena itu, istilah yang digunakan untuk menyebut supporter adalah hooligan, padahal, di setiap daerah nama yang digunakan berbeda-beda. Kemunculan pertama hooliganism, menurut Marxis, diakibatkan oleh adanya siaran sepakbola di televisi yang dimulai pada tahun 1961, yang menyebabkan kehadiran sub-kultur yang baru yaitu kelas pekerja yang terdiri dari para remaja. Hal ini dijadikan oleh kelompok tersebut juga sebagai alat perjuangan politik.
Sepakbola yang dijadikan sebagai alat perjuangan politik di Inggris terdiri dari tiga tahapan yang membentuk siklus. Pertama adalah munculnya kebijakan yang tidak merata. Kedua, dilakukannya investigasi dan penelitian terhadap efek dari kebijakan tersebut yang berbentuk fenomena sosial. Dan ketiga, investigasi berhenti sehingga fokus menjadi berubah. Adanya perubahan fokus tersebut membuat para kelompok pekerja di Inggris melakukan protes dengan menggunakan aksihooliganism. Uraian di atas merepukan akar dari bermulanya hooliganism di Inggris pada tahun 1960an.
Hooliganism Sebagai Bentuk Identitas Sosial
Perkembangan sepakbola pada zaman modern seperti ini juga telah mempengaruhi bentuk-bentuk dan motivasi hooliganism. Salah satu transisi yang terjadi adalah bahwa saat ini, pemanfaatanhooliganism sebagai suatu bentuk perjuangan politik sudah tidak begitu mendominasi. Namun demikian, hal ini tidak berarti bahwa perjuangan politik sudah tidak ada sama sekali dalam tindakan yang diambil oleh supporter sepakbola. Kecenderungan yang masih tetap ada hingga saat ini adalah adanya simbol-simbol yang ditampilkan oleh sub-kultur ini untuk menunjukkan keberadaannya di dalam masyarakat.
Hal ini dilakukan untuk mendapatkan aktualisasi diri dalam masyarakat sekaligus menunjukkan identitas mereka sebagai sebuah kelompok. Bentuk-bentuk aktualisasi supporter ini bermacam-macam. Salah satu contoh adalah terjadi di persepakbolaan Italia, yang supporternya dikenal dengan sebutan ultra. Bagi mereka, meskipun mereka tinggal atau tidak di kota tempat sebuah klub berada, warna dari klub mereka menjadi simbol utama dibandingkan dengan simbol lain seperti kelas sosial, agama, dan juga partai politik. Di Italia sendiri, sepakbola tidak merepresentasikan satu keals sosial saja, tetapi juga melibatkan beberapa kelas sosial untuk menjadi suatu kelompok.
Atraksi Red Flare di Stadion GBK pada saat Milan Glorie berkunjung (sumber: Milanisti Indonesia)
Hal ini juga terjadi di Indonesia. Apabila kita amati, kelompok supporter di Indonesia terdiri dari beberapa kelas sosial. Selain itu, di Indonesia juga memunculkan simbol-simbol dari warna klub masing-masing ketimbang simbol-simbol yang berafiliasi pada hal yang lain. Contohnya adalah Jakarta dengan warna oranyenya (Persija), Bandung dengan warna birunya (Persib), dan Surabaya dengan warna hijaunya (Persebaya). Hal ini seolah-olah telah menjadi suatu identitas yang khas dari kelompok supporter masing-masing.
Simbol-simbol yang digunakan tersebut dapat juga menyebabkan terjadinya keributan antara supporter. Kelompok-kelompok mengidentifikasi atribut yang digunakan lawan dan kemudian menyebabkan terjadinya konfrontasi diantara keduanya. Namun, ‘perang’ antara kelompok supporter ini bisa terjadi dalam dua bentuk. Pertama bentuk pertunjukkan teaterikal seperti melalui koreo, kembang api, maupun nyanyian. Kedua, hal tersebut dapat terjadi dalam kondisi yang benar-benar berdarah.
Untuk contoh pertama, mari kita lihat dari atraksi beberapa supporter di Indonesia. Kalau kalian pernah menonton film The Conductor, dalam film tersebut terdapat hal yang mencotohkan aksi kolektif dari salah satu kelompok supporter di Indonesia, yaitu Aremania. Film tersebut meceritakan tentang seorang dirijen Aremania yang dapat memimpin sekelompok besar orang untuk bernyanyi dan melakukan gerakan yang harmonis untuk mendukung timnya (Arema Malang), maupun untuk mencemooh tim musuh maupun pesaingnya (dalam hal ini Persebaya). Bentuk ini merupakan salah satu contoh tindakan kolektif kelompok supporter yang dianggap masyarakat tidak merugikan.
Namun, ada juga tindakan yang menurut masyarakat merugikan, misalnya ketika ada penggunaan kembang api atau flare di dalam stadion. Berdasarkan pengamatan penulis, beberapa penonton yang berada di stadion terkadang mengeluhkan ketika supporter mulai menyalakan flare. Penonton tersebut menganggap bahwa hal ini justru akan memancing emosi dari kelompok supporter lawan. Penulis sendiri justru beranggapan berbeda. Adanya atraksi yang ditampilkan oleh kelompok supporter ini justru terdengar lazim saja. Hal ini merupakan bentuk provokasi yang sewajarnya terjadi apabila ada dua hal yang dikonfrontasi. Selain itu, kembali pada awal tulisan ini, kita harus mengingat bahwa tindakan supporter ini juga tidak terlepas dari tanggapan mereka terhadap dunia politik. Kita tentu masih ingat beberapa waktu silam tentang konflik dalam tubuh PSSI. Para supporter menyampaikan aspirasinya dalam bentuk tindakan yang mereka lakukan di stadion. Contohnya adalah tindakan yang dilakukan oleh Pasoepati (Persis Solo) dalam laga melawan PSIS Semarang yang ditunjukkan oleh foto dibawah ini.
Supporter Pasoepati melakukan sindiran terhadap penyelenggara. (sumber: pasoepati.net)

Bentuk kedua adalah konfrontasi yang terjadi diantara dua pihak supporter. Ada satu catatan menarik dari kelompok supporter Italia, yaitu Ultra Fossa dei Leoni, salah satu basis kelompok supporter AC Milan. Mereka memiliki prinsip bahwa menyerang orang yang bukan termasuk dalam bagian ultra merupakan tindakan yang dihandari. Dalam kesepakatan informal para ultra, tidak terdapat suatu kemenangan apabila melakukan penyerangan terhadap orang yang tidak terlibat (orang biasa).
Bentuk perkelahian yang sering digunakan oleh kelompok supporter juga dijadikan sebagai ritual untuk melekatkan dirinya terhadap kelompok tersebut. hal tersebut juga sering kali digunakan sebagai simbol kesetiaan seorang supporter terhadap klubnya yang dia cintai. Hal ini bisa dianggap sebagai salah satu alasan yang sangat konvensional, termasuk di Indonesia.
Memandang tindakan dari segala macam kelompok supporter sepakbola ini harus dilihat melalui kacamata yang holistik. Apa yang telah didapatkan kita saat ini tentang hooliganism lebih mengarah pada konstruksi dari media dan pemerintah. Mereka yang memiliki kekuasaan berhak untuk mengaturnya secara lebih jauh, termasuk mengatur tindakan sosial yang dilakukan oleh supporter sepakbola.
Tindakan sosial dari supporter sepakbola ini dapat dipandang sebagai sebuah refleksi dari adanya sub-kultur dari sebuah masyarakat. untuk memahami sub-kultur tersebut, ada baiknya kita melihat dari sudut pandang yang mereka juga pahami. Hal ini disebabkan karena dalam pemahaman era modern seperti saat ini, subjektifitas memiliki sumbangan yang besar dalam melihat suatu fenomena.
Untuk mengakhiri tulisan ini saya hanya akan menyampaikan sebuah kata-kata yang sering kali digunakan oleh para kawan-kawan pecinta sepakbola. Kalimat tersebut berbunyi: “Kebencianmu terhadap lawan jangan sampai melebihi kecintaanmu terhadap klubmu.”.
Depok, 24 Juni 2012
dimuat juga di wepreventcrime dengan judul Kekerasan dari Tribun

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar