Kamis, 13 November 2014

IBU, AKU TIDAK MAU JADI PAHLAWAN, AKU MAU JADI ORANG YANG BERTEPUK TANGAN DI TEPI JALAN

cerita sebelum tidur

“IBU, AKU TIDAK MAU JADI PAHLAWAN, AKU
MAU JADI ORANG YANG BERTEPUK TANGAN DI
TEPI JALAN.”
Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap
kenaikan kelas, anak perempuanku selalu
mendapat ranking ke-23. Lambat laun ia
dijuluki dengan panggilan nomor ini. Sebagai
orangtua, kami merasa panggilan ini kurang
enak didengar, namun anehnya anak kami tidak
merasa keberatan dengan panggilan ini.
Pada sebuah acara keluarga besar, kami
berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik
pembicaraan semua orang adalah tentang
jagoan mereka masing-masing. Anak-anak
ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah
besar? Ada yang menjawab jadi dokter, pilot,
arsitek bahkan presiden. Semua orangpun
bertepuk tangan.
Anak perempuan kami terlihat sangat sibuk
membantu anak kecil lainnya makan. Semua
orang mendadak teringat kalau hanya dia yang
belum mengutarakan cita-citanya. Didesak
orang banyak, akhirnya dia menjawab:..... "Saat
aku dewasa, cita-citaku yang pertama adalah
menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak
menyanyi, menari lalu bermain-main".
Demi menunjukkan kesopanan, semua orang
tetap memberikan pujian, kemudian
menanyakan apa cita-citanya yang kedua.
Diapun menjawab: “Saya ingin menjadi seorang
ibu, mengenakan kain celemek bergambar
Doraemon dan memasak di dapur, kemudian
membacakan cerita untuk anak-anakku dan
membawa mereka ke teras rumah untuk melihat
bintang”. Semua sanak keluarga saling
pandang tanpa tahu harus berkata apa. Raut
muka suamiku menjadi canggung sekali.
Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku
mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan
membiarkan anak perempuan kami kelak hanya
menjadi seorang guru TK?
Anak kami sangat penurut, dia tidak lagi
membaca komik, tidak lagi membuat origami,
tidak lagi banyak bermain. Bagai seekor burung
kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar
sambung menyambung, buku pelajaran dan
buku latihan dikerjakan terus tanpa henti.
Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak bisa
bertahan lagi terserang flu berat dan radang
paru-paru. Akan tetapi hasil ujian semesternya
membuat kami tidak tahu mau tertawa atau
menangis, tetap saja rangking 23.
Kami memang sangat sayang pada anak kami
ini, namun kami sungguh tidak memahami akan
nilai sekolahnya.
Pada suatu minggu, teman-teman sekantor
mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang
membawa serta keluarga mereka. Sepanjang
perjalanan penuh dengan tawa, ada anak yang
bernyanyi, ada juga yang memperagakan
kebolehannya. Anak kami tidak punya keahlian
khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan
sangat gembira.
Dia sering kali lari ke belakang untuk
mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali
kotak makanan yang terlihat sedikit miring,
mengetatkan tutup botol yang longgar atau
mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar.
Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus
rumah tangga cilik.
Ketika makan, ada satu kejadian tak terduga.
Dua orang anak lelaki teman kami, satunya si
jenius matematika, satunya lagi ahli bahasa
Inggris berebut sebuah kue. Tiada seorang pun
yang mau melepaskannya, juga tidak mau
saling membaginya. Para orang tua membujuk
mereka, namun tak berhasil. Terakhir anak
kamilah yang berhasil melerainya dengan
merayu mereka untuk berdamai.
Ketika pulang, jalanan macet. Anak-anak mulai
terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan
terus membuat orang-orang semobil tertawa
tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah
berhenti, dia mengguntingkan berbagai bentuk
binatang kecil dari kotak bekas tempat
makanan. Sampai ketika turun dari mobil bus,
setiap orang mendapatkan guntingan kertas
hewan shio-nya masing-masing. Mereka
terlihat begitu gembira.
Selepas ujian semester, aku menerima telpon
dari wali kelas anakku. Pertama-tama
mendapatkan kabar kalau rangking sekolah
anakku tetap 23. Namun dia mengatakan ada
satu hal aneh yang terjadi. Hal yang pertama
kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun
mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal
tambahan, yaitu SIAPA TEMAN SEKELAS YANG
PALING KAMU KAGUMI & APA ALASANNYA.
Semua teman sekelasnya menuliskan nama :
ANAKKU!
Mereka bilang karena anakku sangat senang
membantu orang, selalu memberi semangat,
selalu menghibur, selalu enak diajak berteman,
dan banyak lagi.
Si wali kelas memberi pujian: “Anak ibu ini
kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-
benar nomor satu”.
Saya bercanda pada anakku, “Suatu saat kamu
akan jadi pahlawan”. Anakku yang sedang
merajut selendang leher tiba2 menjawab “Bu
guru pernah mengatakan sebuah pepatah,
ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang
bertepuk tangan di tepi jalan.”
“IBU, …..AKU TIDAK MAU JADI PAHLAWAN, ….
AKU MAU JADI ORANG YANG BERTEPUK
TANGAN DI TEPI JALAN.”
Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun
terasa hangat seketika. Seketika hatiku
tergugah oleh anak perempuanku. Di dunia ini
banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi
seorang pahlawan. Namun Anakku memilih
untuk menjadi orang yang tidak terlihat. Seperti
akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi ialah
yang mengokohkan.
Jika ia bisa sehat, jika ia bisa hidup dengan
bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam
hatinya, MENGAPA ANAK2 KITA TIDAK BOLEH
MENJADI SEORANG BIASA YANG BERHATI BAIK
& JUJUR…
(Cerita ini didapat dari sebuah post. Kami tulis
ulang dengan beberapa penambahan &
pengurangan. Mudah2an bisa jadi inspirasi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar