Kamis, 13 November 2014

Revolusi Harga Mati, Kata Pendemo di Senayan

JAKARTA (Pos Kota) – Revolusi PSSI Harga Mati! Demikian bunyi tagline spanduk raksasa berukuran  10  x 5 meter yang terbentang menutupi pintu masuk sekretariat PSSI Senayan. Belum lagi 7.000 lebih  pengujuk  Revolusi Merah-Putih yang menduduki  kantor PSSI membuat organisasi sepakbola nasional itu  lumpuh total.
Lautan merah pun menyemut di sekitar lingkar Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan, tempat  PSSI bermarkas. Tak seorang petugas PSSI pun terlihat di sana, kecuali ratusan anggota  kepolisian dari Polda Metro Jaya yang dilengkapi senjata, serta dua ekor anjing dari kesatuan K-9 Polda Metro Jaya.
Tercatat, hadir kedua aksi unjuk rasa  yang menuntut revolusi PSSI itu datang dari berbagai elemen suporter sepakbola nasional yang  dari berbagai daerah, seperti Bogor,   Malang, Bojonegoro maupun dari Tangerang. Aksi unjuk rasa pun semakin bergelora ketika tuan rumah, The Jakmania bergabung dengan pengunjuk rasa lainnya tepat pukul 14.00.
The Jak mengusung keranda (peti mati) serta bendera kuning sebagai simbol matinya sportivitas dalam tubuh sepakbola nasional. Menurut Ari, salah seorang anggota Jakmania mengatakan, simbol-simbol yang mereka tunjukkan merupakan bentuk protes yang dialamatkan kepada Nurdin Halid, ketua umum PSSI yang menjadikan PSSI korup.
Ketua Umum The Jakmania La Rico mengatakan, akan melanjutkan aksi unjuk rasa ini hingga Nurdin Halid turun. “Hari ini kami datang lebih dari 1.000. Jumlah itu di luar perkiraan karena sebelumnya hanya mengerahkan sekitar 500 orang. Tetapi, banyak yang bergabung secara sukarela,” kata Rico.
Rico memastikan  membawa anggota Jakmania dengan jumlah yang relatif sama seperti hari kedua pelaksanaan unjuk rasa. “Kami akan lanjutkan aksi ini besok. Kita ingin revolusi total sehingga Nurdin Halid benar-benar mundur dari sepakbola,” kata dia.
Sayang, kata Zen Rahmat, Koordinator Lapangan Revolusi Merah Putih, sebagian rekan-rekan suporter dari berbagai daerah sudah pulang. Walau demikian, direncanakan akan ada suporter lain yang bakal masuk,  yakni Bonek, suporter Persebaya Surabaya. Hanya saja, kedatangan mereka masih diragukan karena tidak adanya pengawalan untuk masuk ke Jakarta, yang merupakan basis The Jakmania.
Menurut Zen, Revolusi Merah Putih mungkin tidak akan sebesar aksi hari kedua. Apalagi agenda Kamis (23/2)  juga tidak ada. Tadinya rekan-rekan mau menggelar aksi unjuk rasa ke Merdeka Utara,  Istana Negara. Namun, Presiden SBY akan bertolak ke Brunei Darussalam untuk tugas kenegaraan. “Mungkin anak-anak akan terkonsentrasi di kawasan Senayan, tapi tentu tidak sebesar hari kemarin,” kata dia.
Selain pengunjuk rasa Revolusi Merah-Putih, juga hadir lebih dari 100 orang lebih datang ke Senayan. Mereka sempat merangsek mendekat ke kantor PSSI, namun dihalau  Jakmania sehingga membuat mereka mundur. Disinyalir, massa yang tak dikenal itu merupakan suporter bayaran  anti revolusi PSSI.(ian/dms)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar